Gerakan Rakyat Anti Komunis-Kedzaliman dan Kemaksiatan (GERAK) Jawa Barat menggelar acara jamboree sekaligus deklarasi Jabar anti kemaksiatan. Acara yang berlangsung di Taman Tegalega Kota Bandung, Sabtu (12/9/2026). Kegiatan ini dihadiri ratusan peserta yang merupakan perwakilan Ormas Islam, Ormas Kebangsaan, Ponpes, DKM, Paguron, LSM, Paguyuban, Komunitas yang tergabung di GERAK Jabar.
NEWS.UMIKA.ID | BANDUNG — Sejumlah elemen masyarakat yang terdiri dari berbagai organisasi kemasyarakatan dan ormas Islam berkumpul di kawasan Tegalega, Bandung, untuk menyuarakan visi Jawa Barat tanpa maksiat.
Deklarasi tersebut menjadi bagian dari seruan moral untuk menjaga marwah bumi Pasundan agar tetap menjadi wilayah yang diberkahi, sekaligus mendorong masyarakat meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Dalam orasi kebangsaan, Cep Yudi mengajak seluruh masyarakat Jawa Barat untuk meningkatkan kesalehan hidup serta bersama-sama menjauhkan berbagai bentuk kemaksiatan yang dinilai dapat merusak kehidupan individu, keluarga, masyarakat hingga tatanan bangsa.
Ia menyebut sejumlah persoalan yang menjadi perhatian, di antaranya perzinahan, LGBTQ, riba, judi online, pinjaman online, minuman keras, narkoba, korupsi, hingga persoalan kesyirikan dan pemurtadan.
“Kalau Jawa Barat ingin maju, maka tidak boleh ada sedikit pun kemaksiatan terjadi di Jawa Barat,” tegasnya dalam orasi tersebut.
Menurut Cep Yudi, berbagai bentuk kemaksiatan memiliki dampak sosial yang luas. Perzinahan, misalnya, disebut dapat memicu persoalan kesehatan, kerusakan keluarga dan berbagai dampak sosial lainnya.
Sementara itu, penyalahgunaan minuman keras dan narkoba dinilai dapat merusak moral serta akal. Adapun riba, judi online dan pinjaman online disebut berpotensi menimbulkan persoalan ekonomi dan menghilangkan keberkahan dalam kehidupan masyarakat.
Ia juga menyoroti korupsi yang dinilainya dapat menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat. Dalam perspektif keagamaan yang disampaikannya, kesyirikan dan pemurtadan juga ditempatkan sebagai persoalan serius yang berkaitan dengan kehidupan dunia dan akhirat.
Cep Yudi kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing dalam menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Menurutnya, dakwah tidak hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan atau jabatan. Masyarakat biasa pun dapat berperan dengan mengajak keluarga, saudara, tetangga dan lingkungan sekitar kepada kebaikan.
“Gunakan kekuasaan sebagai amanah untuk jalan dakwah. Kalau tidak punya kekuasaan, maka kita bisa mengajak saudara, tetangga dan semua masyarakat dengan dakwah, dan minimal dengan doa agar kemaksiatan bisa diminimalisir,” pesannya.
Ia berharap gerakan moral tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat Jawa Barat yang lebih religius, berakhlak dan memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi.
Menurutnya, masyarakat yang menaati norma agama merupakan salah satu modal penting untuk mewujudkan Jawa Barat yang maju dan visi Jabar Istimewa, sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia maju.
“Demi bangsa yang diberkahi, bangsa yang maju, visi Jabar Istimewa akan tercapai dan Indonesia maju akan terlaksana jika semua masyarakat menaati norma agama,” pungkas pria yang akrab disapa Kang Yudi tersebut. (AS)
