Kasus guru di Sragen yang menggunting baju siswanya menjadi sorotan publik karena dinilai sebagai tindakan berlebihan. Namun, jika ditilik dari sisi pendidikan karakter dan kedisiplinan, tindakan tersebut patut dilihat dari konteks aturan sekolah dan pembentukan perilaku siswa [1].
Dalam dunia pendidikan, seragam sekolah tidak hanya pakaian, melainkan simbol kesatuan dan kerapian yang mencerminkan disiplin siswa [2]. Ketika seragam siswa penuh coretan atau gambar tidak sesuai, maka kewajiban guru adalah menertibkan sebagai bagian dari proses pendidikan [3].
Tindakan pemotongan baju oleh guru tersebut menjadi efek kejut yang dapat memunculkan efek jera terhadap pelanggaran kedisiplinan [4]. Dalam pendekatan psikologi pendidikan, hukuman yang diberikan secara tepat dan tidak menyakiti fisik atau mental siswa justru dapat menjadi pelajaran yang berharga [5].
Sayangnya, media yang memberitakan peristiwa tersebut banyak yang hanya menyampaikan dari sisi video potongan tanpa kronologis lengkap, sehingga menimbulkan pro dan kontra di masyarakat [6]. Publik pun akhirnya hanya menilai dari tampilan luar tanpa mengetahui konteks dan aturan internal sekolah [7].
Tindakan guru tersebut sebenarnya sesuai dengan fungsi guru sebagai pendidik, pembimbing, dan penegak aturan sekolah [8]. Sekolah yang memiliki tata tertib, harus konsisten dalam penegakannya agar tercipta iklim belajar yang kondusif [9].
Oleh karena itu, perlu ada pemahaman bersama antara masyarakat, media, dan sekolah agar tidak mudah menyalahkan tanpa mengetahui duduk perkaranya [10].
Sumber Refrensi :
[1] Suyanto, 2013, Urgensi Pendidikan Karakter, Jakarta: Bumi Aksara, hlm. 47
[2] Mulyasa, 2012, Manajemen Pendidikan Karakter, Bandung: Remaja Rosdakarya, hlm. 65
[3] Tilaar, 2010, Membangun Pendidikan Nasional yang Relevan dan Bermutu, Jakarta: Grasindo, hlm. 89
[4] Djamarah, 2011, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 101
[5] Slameto, 2010, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 55
[6] Nurhadi, 2009, Media dan Etika Pemberitaan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm. 33
[7] Sudibyo, 2014, Jurnalisme dalam Perspektif Islam, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, hlm. 72
[8] Uno, 2012, Profesi Kependidikan, Jakarta: Bumi Aksara, hlm. 39
[9] Wahyudin, 2011, Manajemen Sekolah Efektif, Bandung: Alfabeta, hlm. 58
[10] Zamroni, 2008, Pendidikan Demokratis di Indonesia, Yogyakarta: Bigraf Publishing, hlm. 91
