NEWS.UMIKA.ID, Kisah,- Bagi sebagian orang, Jakarta adalah ujian kesabaran. Macet yang mengular, polusi udara yang mencekik, biaya hidup yang kian melambung, hingga sudut-sudut kota yang kumuh sering kali membuat warganya mengeluh. Tak sedikit yang bermimpi untuk angkat kaki, bermigrasi ke negara-negara maju yang menawarkan tata kota rapi, transportasi publik modern, dan jalanan yang bersih berkilau.
Namun, pemandangan berbeda justru datang dari **Gene Netto**, seorang mualaf dan penulis yang telah lama menetap di Indonesia. Ketika ditanya oleh seorang netizen mengapa ia begitu betah tinggal di Jakarta yang “penuh sesak, mahal, kotor, dan kumuh,” Gene tidak memberikan jawaban diplomatis. Ia justru memberikan tamparan realitas yang mendalam dan reflektif.
Bagi Gene, ada harga spiritual dan moral yang teramat mahal di balik “jalanan bersih” negara maju yang sering diagung-agungkan.
Di Balik Jalanan Bersih Negara Maju
Gene Netto mengajak kita melihat lebih jauh dari sekadar estetika kota. Sebuah kota yang bersih secara fisik, menurutnya, belum tentu bersih secara moral dan spiritual. Dengan gaya bahasanya yang lugas, Gene memberikan rentetan kontras yang menohok:
Kebebasan Tanpa Batas: Apa gunanya jalanan bersih jika alkohol dijual bebas di setiap sudut, perjudian dan narkoba dilegalkan, hingga prostitusi menjadi profesi yang diakui pajak?
Krisis Moral Remaja: Gene menyoroti bagaimana nilai keluarga terkikis di sana. Klinik aborsi ramah remaja tanpa izin orang tua, konten pornografi yang dianggap biasa, hingga pembagian kondom gratis untuk anak muda.
Krisis Identitas & Ketuhanan: Mulai dari kurikulum sekolah yang mempertanyakan identitas gender anak usia dini, legalitas bantuan bunuh diri (*euthanasia*) bagi lansia, hingga statistik di mana mayoritas masyarakatnya mengaku sebagai ateis.
Hilangnya Adab: Kebebasan berbicara yang kebablasan sering kali mengorbankan rasa hormat anak kepada orang tua, guru, dan sesama.
Kenapa anda bisa merasa terpesona dengan kehidupan mereka, sehingga hanya sanggup melihat ‘kebersihan jalan’ dan lain-lain, tetapi abaikan semua sisi negatif yang lain di tengah masyarakat mereka? tanya Gene retoris.
Pintu Tobat yang Selalu Terbuka di Indonesia
Salah satu poin paling menyentuh dari argumen Gene Netto adalah tentang **hidayah dan tobat**. Di negara maju yang sekuler, konsep berdosa dan bertobat sering kali diabaikan karena hilangnya rasa takut kepada Tuhan.
Sebaliknya, di Indonesia—khususnya Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya—suasana iman itu masih sangat kental.
Preman Muslim yang paling bejat di sini bisa berubah, BERTAUBAT, dan menjadi rajin shalat. Di sana, kebanyakan orang tidak punya kemauan untuk bertaubat, ungkap Gene.
Bagi Gene, membesarkan anak di lingkungan yang menjaga nilai-nilai agama jauh lebih berharga daripada membesarkan anak di kota modern namun rawan terseret arus pergaulan bebas, murtad, atau kecanduan zat terlarang.
Menakar Ulang Arti “Kehidupan”
Untuk memperkuat pandangannya, Gene Netto membawa kita kembali pada esensi dasar kehidupan seorang Muslim di dunia melalui pengingat dari Al-Qur’an dan Hadits:
1. Dunia Ini Hanya Sementara: Dunia tak lebih dari senda gurau jika dibandingkan dengan akhirat (QS. Al-Ankabut: 64). Rasulullah SAW bahkan mengibaratkannya seperti jemari yang dicelupkan ke dalam lautan; air yang tersisa di jari itulah dunia, sedangkan lautan luas itulah akhirat.
2. Ujian yang Menipu: Di akhirat kelak, penduduk neraka yang paling menikmati kemewahan dunia akan melupakan semua kesenangannya hanya dalam sekali celupan di neraka. Sebaliknya, penduduk surga yang paling menderita di dunia (mungkin termasuk mereka yang hidup susah di kota sesak) akan melupakan seluruh kesulitannya begitu merasakan indahnya surga (HR. Muslim).
Di pengadilan akhirat kelak, Tuhan tidak akan bertanya apakah aspal di depan rumah kita bersih atau tidak. Yang ditanyakan adalah bagaimana kita menjaga iman dan ketakwaan kita.
Kesimpulan: Bersatu Memperbaiki Rumah Sendiri
Pesan penutup dari Gene Netto sangat jelas: Jangan menutup mata pada nikmat iman.
Jalanan yang kotor bisa dibersihkan. Tata kota yang rusak bisa diperbaiki. Banjir dan polusi bisa diatasi jika umat Islam dan seluruh warga mau bersatu, disiplin, dan berjuang bersama membangun bangsa ini. Namun, hati yang sudah tertutup dari hidayah Allah jauh lebih sulit untuk disembuhkan.
Jakarta mungkin sesak, macet, dan berdebu. Namun, selama suara azan masih berkumandang bebas di setiap sudutnya, dan selama pintu tobat serta majelis ilmu masih mudah ditemui, kota ini menawarkan kelapangan hati yang tidak akan pernah bisa dibeli di kota-kota termegah di dunia barat sekalipun.
Mari bersyukur, bersatu, dan perbaiki apa yang kurang di negeri sendiri!
Sumber: fb/Gene Netto
