UMIKA.ID, Karawang, 28 Mei 2025 – Perjanjian pandemi baru yang dirancang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) guna memperkuat kesiapsiagaan dan respons global terhadap wabah di masa depan kini menuai keraguan. Hal itu disebabkan oleh absennya Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu negara kunci dalam upaya global tersebut.
AS, yang selama ini menjadi salah satu kontributor utama pendanaan dan riset kesehatan global, memilih tidak bergabung dalam perjanjian tersebut. Langkah ini dinilai melemahkan efektivitas kesepakatan yang ditujukan untuk mencegah krisis kesehatan global serupa pandemi Covid-19.
AS Tarik Diri dari WHO Sejak Awal 2025
Keputusan AS untuk tidak ikut serta dalam perjanjian ini tidak terlepas dari kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump, yang kembali menjabat sejak Januari 2025. Di awal masa jabatannya, Trump langsung menarik AS dari keanggotaan WHO. Gedung Putih menuduh WHO gagal dalam menangani pandemi Covid-19 secara transparan dan profesional, serta menyatakan lembaga tersebut terlalu dipengaruhi oleh China.
Langkah kontroversial ini menuai kritik dari banyak pihak, namun didukung oleh beberapa tokoh dalam pemerintahan AS sendiri. Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr., secara terbuka mengkritik perjanjian pandemi WHO yang menurutnya tidak akan membawa perubahan signifikan.
AS Pilih Bangun Aliansi Sendiri
Dalam pernyataannya yang dikutip oleh kantor berita Associated Press, Kennedy menyebut bahwa Washington sedang menjalin kerja sama dengan negara-negara “berpikiran sama” untuk memperkuat sistem kesehatan global secara mandiri.
“Kami tidak perlu menghadapi pembatasan dari WHO yang hampir mati. Mari kita buat institusi baru atau mengembalikan institusi-institusi yang sudah ada agar menjadi bersih, efisien, transparan, dan akuntabel,” kata Kennedy.
Kritik ini menandakan arah baru kebijakan kesehatan luar negeri AS yang lebih menekankan pada kemandirian, alih-alih bergantung pada lembaga multilateral.
China Isi Kekosongan, Ganda Pendanaan untuk WHO
Ketidakhadiran AS sebagai donor utama WHO menciptakan kekosongan yang segera diisi oleh China. Dalam forum internasional yang digelar di Jenewa pekan ini, Wakil Perdana Menteri China, Liu Guozhong, mengumumkan bahwa Beijing akan meningkatkan kontribusi dana ke WHO hingga mencapai 500 juta dolar AS dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Langkah ini disebut sebagai bentuk komitmen China dalam mendukung sistem kesehatan global yang inklusif dan kuat. Selain itu, langkah ini juga memperkuat posisi China sebagai kekuatan baru dalam diplomasi kesehatan internasional, menggantikan peran dominan AS yang kini mulai berkurang.
Dunia Terpecah dalam Menyikapi WHO
Perkembangan ini mencerminkan semakin terpecahnya pendekatan global dalam menghadapi ancaman pandemi. Di satu sisi, ada kelompok negara yang masih percaya pada kekuatan lembaga multilateral seperti WHO. Di sisi lain, muncul blok negara yang memilih membentuk koalisi sendiri dengan dalih efektivitas dan transparansi.
Para pengamat menyebut bahwa ketidakhadiran AS dapat berdampak besar terhadap kemampuan WHO dalam mengkoordinasikan respons global secara cepat dan merata. Terlebih, banyak negara berkembang yang masih sangat bergantung pada dukungan teknis dan logistik WHO.
Namun demikian, beberapa negara juga menyambut baik munculnya alternatif kerja sama internasional di luar WHO. Negara-negara seperti Brasil, India, dan beberapa negara Eropa Timur dikabarkan mulai menjajaki kemungkinan membentuk forum kesehatan tersendiri bersama AS.
Dunia Masih Butuh Solidaritas Global
Meskipun peta politik kesehatan global tampak kian terfragmentasi, para pakar kesehatan tetap menyerukan pentingnya solidaritas internasional. Mereka menekankan bahwa virus dan penyakit menular tidak mengenal batas negara, sehingga kolaborasi tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman kesehatan global di masa depan.
Dalam kondisi seperti ini, para analis menilai bahwa dunia tidak sedang menuju ke arah kerja sama yang lebih kuat, tetapi justru memasuki era persaingan geopolitik dalam bidang kesehatan. WHO, yang dulunya menjadi simbol solidaritas global, kini harus menghadapi tantangan baru dalam mempertahankan relevansinya di tengah dinamika politik internasional yang berubah cepat.
Sumber : kompas
