UMIKA.ID, Rio de Janeiro, 8 Juli 2025 – Para pemimpin negara anggota BRICS menegaskan bahwa Jalur Gaza merupakan bagian yang tak terpisahkan dari wilayah kedaulatan Palestina. Penegasan ini tertuang dalam deklarasi resmi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-17 BRICS yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, pada 6–7 Juli 2025.
Dalam pernyataannya, BRICS — blok ekonomi beranggotakan negara-negara berkembang yang kini turut dihadiri Indonesia sebagai peserta — menyerukan pentingnya penyatuan Jalur Gaza dan Tepi Barat di bawah satu pemerintahan yang sah, yakni Otoritas Palestina.
“Kami menegaskan kembali bahwa Jalur Gaza merupakan bagian dari wilayah Palestina yang diduduki. Penting untuk menyatukan Jalur Gaza dan Tepi Barat di bawah pemerintahan Otoritas Palestina,” demikian kutipan dari deklarasi tersebut.
KTT BRICS kali ini menjadi sorotan global karena berlangsung di tengah eskalasi krisis kemanusiaan yang belum mereda di Jalur Gaza. Sejak pecahnya konflik pada 7 Oktober 2023, ribuan nyawa telah melayang.
Serangan tersebut bermula dari operasi darat dan udara oleh Hamas terhadap wilayah Israel, yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyandera lebih dari 200 orang. Israel kemudian merespons dengan kampanye militer besar-besaran dan blokade total terhadap Gaza, memicu krisis kemanusiaan yang semakin dalam.
Hingga Juli 2025, lebih dari 57.000 warga Palestina dilaporkan tewas dalam agresi militer Israel, sementara korban tewas di pihak Israel tercatat sebanyak 1.500 jiwa. Konflik ini juga menyebar ke wilayah lain di Timur Tengah seperti Lebanon dan Yaman, menandakan ancaman ketidakstabilan regional yang makin meluas.
BRICS Soroti Serangan terhadap Iran
Selain isu Palestina, deklarasi KTT BRICS juga mengecam keras serangan militer terhadap Iran yang terjadi sejak pertengahan Juni 2025. Serangan udara Israel yang menargetkan situs militer dan infrastruktur nuklir Iran dikutuk sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Kami mengutuk keras serangan militer terhadap Republik Islam Iran sejak 13 Juni 2025, yang melanggar hukum internasional dan Piagam PBB,” bunyi pernyataan resmi para pemimpin BRICS.
Serangan Israel itu dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 935 warga Iran dan melukai lebih dari 5.300 orang, menurut data dari Kementerian Kesehatan Iran. Sebagai tanggapan, Iran meluncurkan rudal balasan yang menyebabkan 29 kematian dan lebih dari 3.400 korban luka di Israel, berdasarkan data dari Universitas Ibrani Yerusalem.
Ketegangan antara kedua negara berakhir sementara setelah dicapainya kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan mulai berlaku efektif pada 24 Juni 2025.
Seruan Perlindungan Sipil dan Diplomasi Regional
Dalam dokumen akhir KTT, BRICS turut menyoroti kekhawatiran terhadap keselamatan infrastruktur sipil dan fasilitas nuklir damai yang berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Mereka menilai bahwa serangan terhadap fasilitas tersebut membahayakan stabilitas kawasan dan bertentangan dengan prinsip-prinsip internasional.
“Kami menegaskan pentingnya melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil, termasuk fasilitas nuklir damai yang berada di bawah pengawasan penuh IAEA,” lanjut isi deklarasi.
Para pemimpin BRICS juga menyerukan agar Dewan Keamanan PBB mengambil langkah konkret guna meredam ketegangan di kawasan. Mereka mendorong inisiatif diplomatik yang komprehensif sebagai jalan damai untuk menyelesaikan berbagai konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah.
Posisi BRICS dalam Peta Politik Global
BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, kini telah membuka ruang bagi sejumlah negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia, untuk berpartisipasi dalam dialog strategis. Organisasi ini dikenal sebagai kekuatan tandingan bagi dominasi ekonomi dan politik negara-negara maju, khususnya Barat.
Kehadiran Indonesia dalam KTT BRICS kali ini dinilai penting, terutama dalam menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina serta memperkuat posisi negara-negara Global South dalam diplomasi internasional.
Penutup
Deklarasi KTT BRICS di Rio de Janeiro menandai sikap tegas negara-negara berkembang terhadap isu kemanusiaan dan kedaulatan wilayah. Dalam konflik Palestina-Israel dan Iran-Israel yang telah menelan puluhan ribu korban jiwa, BRICS tampil sebagai kekuatan moral yang menyerukan keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Sementara dunia masih menunggu langkah-langkah konkret dari Dewan Keamanan PBB dan kekuatan besar lainnya, suara kolektif dari BRICS memberikan harapan baru bahwa diplomasi multilateral masih relevan dan dapat menjadi kunci penyelesaian konflik global.
Reporter: Tim Redaksi UMIKA Media
Editor: Adi Suryadi
Foto: Dok. KTT BRICS 2025 – Rio de Janeiro
📌 Tetap ikuti kabar dunia Islam dan internasional hanya di UMIKA Media. Suara Keadilan, Suara Umat.
