UMIKA.ID, Buletin,— Ujub adalah salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya namun sering kali tidak disadari kehadirannya. Ujub muncul ketika seseorang merasa bangga terhadap dirinya sendiri, amalnya, atau prestasi yang diraihnya, tanpa mengakui bahwa semua itu adalah nikmat dari Allah Ta’ala. Dalam pandangan Islam, ujub tidak hanya membahayakan spiritualitas, tetapi juga mengancam diterimanya amal kebaikan di sisi Allah SWT.
Definisi Ujub dalam Islam
Kata “ujub” berasal dari bahasa Arab العُجْبُ yang berarti “kagum terhadap diri sendiri.” Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa ujub adalah perasaan bangga terhadap diri sendiri yang membuat seseorang merasa lebih baik dari yang lain dan melupakan bahwa semua kelebihan adalah pemberian Allah.
Ujub bukan hanya perasaan, tetapi juga bentuk kesombongan tersembunyi yang dapat merusak pahala ibadah. Bahkan, menurut sebagian ulama, ujub lebih berbahaya dibandingkan riya. Jika riya mengharapkan penilaian dari manusia, maka ujub menolak campur tangan siapa pun, termasuk Allah, dalam keberhasilan diri.
Dalil Tentang Bahaya Ujub
Islam memperingatkan bahaya ujub melalui berbagai dalil Al-Qur’an dan Hadis. Di antaranya:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Ayat ini mengajarkan bahwa bahkan Nabi Muhammad ﷺ, manusia terbaik sekalipun, tidak ujub dengan kenabiannya. Beliau tetap menyatakan dirinya hanya manusia biasa yang diberi wahyu.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang merasa kagum terhadap dirinya sendiri (ujub).”
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)
Hadis ini menegaskan bahwa ujub termasuk perkara yang dapat membinasakan seorang Muslim, baik di dunia maupun akhirat.
Ciri-Ciri Orang yang Terjangkit Ujub
Ujub bisa menjangkiti siapa saja—baik orang awam, pelajar, ulama, bahkan ahli ibadah. Oleh karena itu, mengenali ciri-cirinya sangat penting untuk deteksi dini.
Berikut beberapa ciri-ciri orang yang terjangkit ujub:
- Merasa Amalnya Sudah Cukup untuk Masuk Surga
Ia yakin amalnya sudah banyak dan merasa aman dari azab Allah, padahal tak satu pun dari kita dijamin masuk surga. - Menganggap Dirinya Lebih Baik dari Orang Lain
Ujub muncul ketika seseorang membandingkan amalnya dengan orang lain dan merasa dirinya lebih utama. - Susah Menerima Kritik dan Nasehat
Orang yang ujub sulit menerima masukan karena merasa sudah cukup benar dan baik. - Merasa Dirinya Sumber Kebaikan
Ia tidak menyandarkan keberhasilan pada pertolongan Allah, tetapi menganggap itu murni dari usaha pribadi. - Suka Pamer Tanpa Sengaja
Sering menceritakan amal atau pencapaian dengan cara yang seolah-olah ingin menyampaikan kehebatan diri. - Sulit Bersyukur secara Tulus
Ia mengucap syukur di lisan, tetapi dalam hati merasa bahwa semua itu karena kehebatannya sendiri.
Perbandingan Ujub dan Riya
Banyak orang bingung membedakan antara ujub dan riya. Keduanya adalah penyakit hati yang berbahaya, namun berbeda karakteristik.
| Penyakit Hati | Definisi | Tujuan | Dampak |
|---|---|---|---|
| Riya | Melakukan amal untuk dipuji manusia | Mencari pengakuan | Amal bisa tertolak |
| Ujub | Bangga terhadap amalnya sendiri | Mengagungkan diri | Amal bisa hangus tanpa disadari |
Ujub justru lebih sulit dikenali karena ia bersumber dari dalam diri sendiri. Ujub bisa muncul bahkan saat seseorang menyembunyikan amalnya, tapi tetap merasa dirinya lebih baik dari yang lain.
Solusi Agar Terhindar dari Ujub dan Riya
Mengobati penyakit hati seperti ujub dan riya bukan perkara mudah. Diperlukan mujahadah (kesungguhan) dan keikhlasan yang mendalam. Berikut beberapa solusi yang bisa dilakukan:
1. Mengakui Bahwa Segala Sesuatu dari Allah
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).”
(QS. An-Nahl: 53)
Sadari bahwa apapun yang kita miliki—ilmu, amal, rezeki, kemampuan, bahkan hidayah—semuanya datang dari Allah. Ini akan mematahkan rasa ujub yang tumbuh dari perasaan “aku hebat.”
2. Perbanyak Istighfar dan Muhasabah Diri
Rasulullah ﷺ yang sudah dijamin surga pun senantiasa beristighfar lebih dari 70 kali sehari. Maka kita pun harus senantiasa mengoreksi diri dan tidak merasa aman dari dosa.
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.”
(QS. Ali Imran: 135)
3. Sembunyikan Amal Sebisa Mungkin
Semakin tersembunyi suatu amal, semakin besar kemungkinan amal itu ikhlas. Latih diri untuk tidak menceritakan kebaikan atau ibadah kita, kecuali dalam kondisi yang memang perlu sebagai nasihat atau teladan.
4. Belajar dari Kisah Para Salafus Shalih
Ulama-ulama terdahulu sangat takut pada ujub. Imam Abu Hanifah menangis semalaman hanya karena takut amal ilmunya tercampur ujub. Ibnu Mas’ud pernah berkata:
“Kebinasaan itu ada dalam dua hal: merasa putus asa dan merasa ujub.”
5. Berteman dengan Orang yang Suka Menasihati
Lingkungan sangat memengaruhi hati. Teman yang shaleh akan menjadi cermin untuk menyadarkan kita saat hati mulai condong pada kesombongan atau ujub.
6. Berdoa Memohon Keteguhan Hati
Berdoalah agar dijauhkan dari penyakit hati yang membinasakan. Salah satu doa yang bisa dibaca:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي فِي عَيْنِي صَغِيرًا وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ كَبِيرًا
“Ya Allah, jadikanlah aku kecil dalam pandanganku sendiri, dan besar dalam pandangan manusia.”
(Doa dari Ali bin Abi Thalib)
Kesimpulan: Ujub Harus Diperangi dari Dalam
Penyakit hati seperti ujub ibarat api dalam sekam: tidak terlihat dari luar, tapi bisa membakar habis pahala amal. Oleh karena itu, kesadaran diri, muhasabah, dan keikhlasan adalah senjata utama untuk menghindarinya. Jangan biarkan amal kita hangus di akhirat hanya karena merasa hebat di dunia.
Allah tidak melihat rupa atau status, tetapi hati dan amal yang ikhlas. Mari terus belajar, memperbaiki niat, dan menjauhkan diri dari ujub dan riya agar setiap ibadah kita bernilai di sisi-Nya.
