Dalam Islam, suami diberikan amanah besar sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Ketika peran itu gagal dijalankan, dampaknya bisa meluas pada keretakan hubungan, kegagalan pendidikan anak, hingga pudarnya semangat ibadah dalam keluarga. Maka, pertanyaannya, apa solusi ketika suami gagal menjadi pemimpin rumah tangga?
Suami Adalah Pemimpin: Tanggung Jawab yang Berat
Allah Ta’ala berfirman:
“الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ”
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa: 34)
Menurut Tafsir Ibn Katsir, maksud ayat ini adalah bahwa laki-laki menjadi pemimpin rumah tangga karena mereka memiliki kelebihan dalam hal tanggung jawab, kekuatan, serta kewajiban memberi nafkah lahir dan batin.[1]
Namun, banyak suami justru gagal memimpin. Mereka lalai memberi nafkah, tak menjadi teladan dalam ibadah, bahkan kadang bersikap kasar. Dalam kondisi seperti ini, Islam tidak tinggal diam.
Hadist: Kepemimpinan Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi.”
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)
Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadist ini menunjukkan tanggung jawab suami sangat besar dalam mengatur dan membimbing keluarganya kepada ketaatan dan menjauhkan dari maksiat.[2]
Perkataan Ulama Salaf Tentang Kepemimpinan Suami
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Seorang suami adalah raja dalam rumahnya. Jika ia rusak, maka kerusakan itu menjalar ke seluruh isi rumahnya.”[3]
Ibnu Katsir juga menegaskan, “Jika suami tak mampu membimbing, maka istri dan anak-anak akan terlantar secara iman dan akhlak“.[4]
Penyebab Gagalnya Suami Menjadi Pemimpin
Menurut Ustaz Abdullah Zaen, Lc., MA., banyak suami gagal karena tidak memahami ilmunya, sibuk mengejar dunia, atau meniru pola hidup Barat yang liberal.[5]
Bahkan sebagian laki-laki masih tergantung pada orang tua, tidak mandiri, atau tidak memiliki ketegasan dalam mengambil keputusan, padahal itu adalah sifat mendasar dalam kepemimpinan.
Solusi Ketika Suami Gagal Menjadi Pemimpin
- Belajar Ilmu Agama dan Keluarga
Suami wajib menuntut ilmu agama untuk memahami peran dan tanggung jawabnya. Tanpa ilmu, kepemimpinan hanya akan menjadi otoriter atau malah lemah.[6] - Membangun Komunikasi dengan Istri
Suami harus berdiskusi terbuka dengan istri untuk memperbaiki kekurangan. Kepemimpinan bukan dominasi, tetapi kerjasama.[7] - Konsultasi Kepada Ustaz atau Konselor Keluarga Islam
Jangan gengsi untuk konsultasi. Banyak keluarga yang selamat karena ada pihak ketiga yang bijak dan adil.[8] - Perbaiki Hubungan dengan Allah
Suami harus memperkuat hubungan dengan Allah lewat sholat berjamaah, membaca Qur’an, dan memperbaiki akhlak. Seorang pemimpin harus lebih dahulu taat, agar bisa menuntun keluarga dalam ketaatan.
Ketika Istri yang Sadar Lebih Dulu
Dalam kondisi di mana suami belum sadar, maka istri bisa mendorong dengan cara yang hikmah. Perempuan Shalihah bukan yang diam melihat kemungkaran, tetapi yang bijak mengubah dengan nasihat dan kesabaran. Sebagaimana Asma’ binti Abu Bakar yang tetap kuat dalam mendidik anak-anaknya meski hidup dalam ujian besar.[9]
Penutup: Solusi Ada di Tangan Kedua Pihak
Kegagalan suami dalam memimpin bukan akhir dari segalanya. Islam memberi solusi: dengan ilmu, bimbingan, dan taubat. Maka, ketika suami gagal, ia harus bangkit. Ketika istri melihat kegagalan itu, ia harus membantu. Sebab, rumah tangga adalah kerja sama menuju surga.
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Menurut Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan pentingnya pendidikan keluarga dengan ilmu, pengawasan, dan keteladanan.[10]
Semoga para suami bisa menjadi pemimpin sejati yang membimbing keluarganya dalam cahaya Islam.
Sumber Referensi :
[1] Ibn Katsir, 2000, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, hal. 280
[2] Nawawi, 2004, Syarh Shahih Muslim, Jakarta: Pustaka Azzam, hal. 142
[3] Ibnul Qayyim, 2005, Tuhfatul Maudud bi Ahkam al-Maulud, Jakarta: Pustaka Arafah, hal. 93
[4] Ibn Katsir, 2000, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, hal. 282
[5] Zaen, 2020, Ayah, Engkaulah Pemimpin, Yogyakarta: Pustaka Muslim, hal. 15
[6] Maulana, 2021, Bapak Hebat, Keluarga Kuat, Bandung: Rumah Qur’an Publishing, hal. 52
[7] Hidayat, 2020, Keluarga Sakinah Menuju Surga, Jakarta: Hikmah Bunda, hal. 67
[8] Rahman, 2022, Menyelamatkan Rumah Tangga, Karawang: Darul Hikmah Press, hal. 88
[9] Al-Baladzuri, 2010, Ansab al-Ashraf, Jakarta: Al-Furqan, hal. 211
[10] As-Sa’di, 2002, Taisir Karimir Rahman, Jakarta: Pustaka Azzam, hal. 491
