Tragedi Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo: Kronologi Lengkap Musala Ambruk, Puluhan Santri Tewas, Evakuasi Masih Berlanjut
UMIKA.ID, Sidoarjo, 6 Oktober 2025 — Duka Menyelimuti Dunia Pesantren
Musibah besar menimpa dunia pendidikan Islam. Musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk pada Senin (29/9/2025) sore saat puluhan santri tengah menunaikan salat Ashar. Bangunan dua lantai yang baru saja diperluas itu tiba-tiba runtuh total, menimbun para santri di bawah puing-puing beton dan besi.
Hingga Senin (6/10/2025), jumlah korban tewas telah mencapai 49 orang, sementara 13 santri lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dicari oleh tim SAR gabungan. Sebanyak lebih dari 100 santri berhasil diselamatkan, sebagian mengalami luka berat dan dirawat di beberapa rumah sakit sekitar Sidoarjo.
Menurut keterangan saksi dan pengurus pesantren, kejadian bermula sekitar pukul 15.30 WIB. Saat itu para santri sedang berjamaah di musala utama. Tiba-tiba terdengar suara retakan keras di bagian atap, diikuti getaran hebat. Dalam hitungan detik, bangunan ambruk sepenuhnya.
Struktur bangunan runtuh secara “pancake collapse”, yakni lapisan lantai saling menimpa ke bawah, membuat banyak korban terjebak di ruang sempit tanpa jalan keluar. Tim penyelamat yang tiba tak lama kemudian langsung melakukan evakuasi manual karena risiko getaran alat berat dapat memicu runtuhan susulan.
Selama sepekan terakhir, ratusan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan terus bekerja siang malam. Kondisi puing yang padat, ditambah lokasi pesantren yang sempit, membuat proses pencarian sangat lambat.
Kepala Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, menyatakan tim menggunakan kamera pencari panas, anjing pelacak, serta pipa oksigen untuk menjangkau titik-titik terduga korban.
“Kami berupaya mengevakuasi dengan aman tanpa menambah risiko korban baru. Mohon doa dari masyarakat,” ujarnya.
Hingga kini, lebih dari 160 orang tercatat sebagai korban terdampak, termasuk santri, guru, dan pekerja bangunan.
Investigasi awal dari Kementerian PUPR dan Tim Ahli Struktur ITS Surabaya menyimpulkan adanya kegagalan konstruksi total. Pondasi bangunan dinilai tidak mampu menahan beban tambahan lantai atas yang dibangun tanpa perhitungan teknis matang.
Selain itu, diketahui bahwa pembangunan musala dilakukan tanpa izin konstruksi resmi, hanya berdasar pada inisiatif internal pesantren. Bahan bangunan juga tidak memenuhi standar kekuatan struktur.
“Ini bukan sekadar kelalaian, tapi pelanggaran serius terhadap regulasi bangunan,” tegas Menteri PUPR dalam konferensi pers.
Menko Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau langsung lokasi kejadian pada Kamis (2/10). Ia menyampaikan bela sungkawa dan menegaskan akan dilakukan investigasi menyeluruh serta pembenahan regulasi bangunan pendidikan berbasis pesantren.
Sementara Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menekankan pentingnya seluruh pesantren mematuhi standar keselamatan bangunan.
“Pembangunan sarana ibadah dan pendidikan harus sesuai regulasi agar tragedi seperti ini tidak terulang,” ujarnya.
Duka mendalam dirasakan di seluruh Indonesia. Ribuan pesantren, lembaga dakwah, dan masyarakat umum menggelar doa bersama untuk para korban. Donasi dan bantuan logistik terus berdatangan ke lokasi pesantren dari berbagai daerah.
Beberapa santri yang selamat kini dirawat dengan trauma mendalam. Pemerintah daerah bersama relawan psikososial memberikan pendampingan bagi para korban selamat dan keluarga.
Tragedi ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny menjadi peringatan keras tentang pentingnya keselamatan bangunan di lembaga pendidikan Islam. Selain menjadi duka nasional, peristiwa ini mendorong evaluasi besar terhadap sistem izin dan pengawasan konstruksi pesantren di Indonesia.
Hingga kini, tim SAR masih bekerja tanpa lelah di bawah reruntuhan, berharap menemukan sisa korban yang belum ditemukan.
“Kami tak akan berhenti sebelum semua santri ditemukan,” tegas salah satu relawan di lokasi.
Sumber: dari Berbagai Sumber
