Ilustrasi kapal Global Sumud Flotilla. foto/https://dtpeduli.org/

Misi Global Sumud Flotilla Gagal Tembus Blokade Israel, Relawan Indonesia Dipulangkan tapi Bertekad Kembali Berlayar

UMIKA.ID, Jakarta, 6 Oktober 2025 — Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang bertujuan menembus blokade laut Israel di Jalur Gaza resmi berakhir gagal. Meski begitu, semangat ratusan aktivis dari berbagai negara, termasuk tiga warga negara Indonesia, tidak surut. Mereka bertekad akan kembali berlayar dengan armada yang lebih besar dan lebih kuat, demi menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina yang terjebak dalam krisis berkepanjangan.

Global Sumud Flotilla adalah misi kemanusiaan internasional yang digagas oleh jaringan aktivis pro-Palestina dari lebih 30 negara. Misi ini merupakan kelanjutan dari upaya sebelumnya seperti Freedom Flotilla pada 2010 dan Miles of Smiles Convoy pada 2018.
Tujuannya jelas: membawa bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan, makanan, dan perlengkapan medis ke Jalur Gaza, sekaligus menentang blokade ilegal Israel yang telah berlangsung sejak tahun 2007.

Tahun 2025 menjadi momentum baru. Lebih dari 40 kapal dari Eropa, Asia, dan Afrika berlayar dari pelabuhan Bizerte, Tunisia, menuju Gaza. Misi ini menamakan dirinya “Sumud” yang berarti keteguhan dan ketabahan — mencerminkan semangat rakyat Palestina yang terus bertahan di tengah penindasan.

Indonesia, sebagai negara dengan komitmen kuat terhadap isu kemanusiaan Palestina, turut mengirimkan tiga relawan:

  1. Wanda Hamidah – aktivis sosial dan publik figur.
  2. Muhammad Fathur Rahman – relawan kemanusiaan muda.
  3. Muhammad Husin – jurnalis dan pegiat media independen.

Ketiganya berangkat dari Istanbul bergabung dengan kapal “Nusantara”, yang menjadi bagian dari armada flotilla Asia Tenggara. Kapal ini membawa muatan bantuan medis, logistik ringan, serta pesan solidaritas dari rakyat Indonesia untuk Gaza.

Dalam pernyataan resminya sebelum berangkat, Wanda Hamidah mengatakan,

“Kami tidak membawa senjata, hanya membawa cinta, doa, dan bantuan untuk saudara-saudara kita di Gaza. Ini adalah perjuangan kemanusiaan, bukan politik.”

Pelayaran menuju Gaza ternyata tidak mudah. Sejak keluar dari perairan Tunisia, beberapa kapal flotilla melaporkan adanya gangguan komunikasi, bahkan serangan drone tak dikenal yang menyebabkan ledakan kecil di dekat kapal utama.

Menurut laporan Al Jazeera (25/9/2025), beberapa kapal mengalami kerusakan sistem navigasi akibat gangguan elektronik (jamming).

“Kami mendengar suara dengungan seperti drone, lalu muncul percikan di laut. Itu bukan kebetulan,” ujar salah satu kapten kapal dalam wawancara dengan Al Jazeera.

Selain ancaman fisik, tekanan diplomatik juga meningkat. Israel secara resmi mengirimkan peringatan kepada pemerintah negara-negara peserta flotilla agar menarik warganya dari misi tersebut. Beberapa negara Eropa sempat mengeluarkan pernyataan agar kapal mereka “tidak melanggar batas wilayah laut Israel”.

Namun, meski tekanan meningkat, sebagian besar kapal tetap berlayar. Armada utama berhasil mencapai 40 mil laut dari perairan Gaza sebelum akhirnya dicegat oleh militer Israel pada 2 Oktober 2025.

Sayangnya, kapal Nusantara yang ditumpangi para relawan Indonesia tidak sampai sejauh itu. Menurut laporan Tempo.co (5/10/2025), kapal mengalami kerusakan teknis pada baling-baling dan kekurangan bahan bakar serta air bersih. Akibatnya, perjalanan harus dihentikan di wilayah perairan internasional sebelum mencapai zona bahaya.

“Kami tidak sempat bergabung dengan armada utama karena kendala teknis. Tapi semangat kami tetap sama. Ini bukan akhir perjuangan,” ujar Wanda Hamidah sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Setelah melalui koordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Tunisia dan Turki, ketiga relawan akhirnya dipulangkan ke Indonesia. Pemerintah Indonesia memastikan bahwa seluruh WNI dalam misi tersebut berada dalam kondisi sehat dan aman.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan,

“Kementerian telah memfasilitasi kepulangan relawan dengan berkoordinasi bersama pihak penyelenggara flotilla. Pemerintah menghargai niat baik mereka dan terus mendukung perjuangan kemanusiaan untuk Palestina.”

Sementara itu, nasib tidak sebaik itu dialami oleh ratusan aktivis dari negara lain. Angkatan laut Israel menahan lebih dari 450 orang setelah melakukan operasi intersepsi terhadap kapal flotilla di Laut Tengah.
Menurut laporan Reuters (3/10/2025), sebanyak 137 aktivis telah dideportasi ke Turki, sedangkan sisanya masih menjalani pemeriksaan di pelabuhan Ashdod, Israel.

Beberapa aktivis mengaku mengalami perlakuan buruk selama penahanan, termasuk intimidasi dan pembatasan akses kesehatan. Namun, Israel membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa semua tahanan diperlakukan sesuai hukum internasional.

Kasus ini menuai kecaman global. Amnesty International menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional.

“Penyergapan flotilla merupakan bukti nyata bahwa Israel bertekad melanjutkan kebijakan blokade ilegal terhadap Gaza,” tulis Amnesty dalam pernyataan resminya.

Gelombang solidaritas pun muncul di berbagai negara. Ribuan orang turun ke jalan di London, Madrid, Jakarta, hingga Cape Town, menuntut pembebasan relawan flotilla dan penghentian blokade Gaza.

Bahkan, beberapa negara seperti Spanyol dan Italia sempat mengirimkan kapal militer untuk mengawal flotilla setelah serangan drone terjadi di laut. Meskipun mereka tidak terlibat langsung dalam konfrontasi, kehadiran kapal tersebut menunjukkan meningkatnya perhatian global terhadap keselamatan misi kemanusiaan.

Di Indonesia, berbagai organisasi masyarakat menggelar doa bersama dan penggalangan dana lanjutan untuk Palestina. Lembaga kemanusiaan menyerukan agar pemerintah Indonesia mengambil peran lebih aktif di level diplomasi internasional untuk menekan Israel menghentikan blokade.

Kegagalan misi tahun ini ternyata justru menyulut tekad baru. Dalam pernyataan resminya di situs globalsumudflotilla.org, koordinator internasional GSF menegaskan bahwa mereka akan kembali berlayar dengan armada lebih besar dan lebih kuat.

“Kami mungkin tidak sampai Gaza kali ini, tapi kami telah menggetarkan hati dunia. Misi berikutnya akan datang — dengan lebih banyak kapal, dukungan, dan keberanian,” tulis pernyataan resmi GSF pada 5 Oktober 2025.

Aktivis dari berbagai negara menyatakan siap kembali berpartisipasi, termasuk beberapa relawan Indonesia yang telah kembali ke Tanah Air.

“Kami akan terus berjuang melalui diplomasi, edukasi publik, bahkan jika perlu kembali ke laut. Kemanusiaan tidak boleh berhenti hanya karena blokade,” ujar Muhammad Husin dalam wawancara daring dengan media nasional.

Kegagalan Global Sumud Flotilla menyoroti dua hal besar di mata dunia. Pertama, ketatnya blokade Israel terhadap Gaza yang membuat wilayah itu tetap terisolasi dari bantuan kemanusiaan. Kedua, meningkatnya kesadaran internasional bahwa perjuangan Palestina bukan sekadar isu politik, melainkan krisis kemanusiaan.

Para analis menilai bahwa meski flotilla gagal secara taktis, secara moral dan simbolik, misi ini berhasil. Tagar #GlobalSumudFlotilla dan #FreePalestine sempat menjadi trending topic global selama beberapa hari di media sosial, mengumpulkan lebih dari 200 juta tayangan di berbagai platform.

Kini, ratusan aktivis Global Sumud Flotilla tengah mempersiapkan laporan akhir misi mereka dan menyerahkannya ke PBB sebagai bukti pelanggaran blokade Israel di perairan internasional. Sementara itu, relawan Indonesia telah kembali ke aktivitas sosial di dalam negeri, membawa pesan bahwa perjuangan kemanusiaan tak mengenal batas negara.

“Kami mungkin gagal di laut, tapi kami menang di hati manusia di seluruh dunia,” tulis salah satu pesan dari relawan di akun X resmi flotilla.

Global Sumud Flotilla bukan sekadar armada kapal, tetapi simbol dari keteguhan hati umat manusia melawan ketidakadilan. Misi ini telah menggugah empati dunia bahwa Gaza tidak sendirian, dan perjuangan kemanusiaan akan terus berlanjut — entah di darat, di udara, atau di laut.

More From Author

Khodijah Berbagi Karawang Dukung Khitan Massal 2025: Generasi Sehat Menuju Pemuda Hebat

Ayyubi Foundation Dukung Generasi Sehat di Khitan Massal 2025 Karawang

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories