NEWS.UMIKA.ID, DARFUR, SUDAN – Dunia kembali diguncang dengan laporan mengerikan dari Sudan. Dalam tiga hari terakhir, kelompok militan Rapid Support Forces (RSF) dilaporkan melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil di kota el-Fasher, wilayah Darfur, Sudan Barat. Sedikitnya 1.500 orang gugur akibat kekerasan brutal tersebut.
Menurut Jaringan Dokter Sudan (Sudanese Doctors Network), ribuan warga sipil mencoba melarikan diri dari kota yang telah dikepung sepenuhnya oleh RSF. Mereka menyebut tragedi ini sebagai “genosida sejati” yang berlangsung di depan mata dunia.
“Pembantaian yang disaksikan dunia saat ini merupakan kelanjutan dari tragedi el-Fasher satu setengah tahun lalu, ketika lebih dari 14.000 warga sipil terbunuh akibat pemboman, kelaparan, dan eksekusi di luar hukum,” ujar pernyataan resmi Jaringan Dokter Sudan, dikutip dari Al Jazeera.
Genosida Terencana dan Sistematis
Laporan tersebut menegaskan bahwa serangan RSF dilakukan sebagai bagian dari kampanye pembunuhan dan pemusnahan yang disengaja serta sistematis.
Sementara itu, hasil analisis Laboratorium Penelitian Kemanusiaan (HRL) Yale memperkuat tuduhan ini. Citra satelit terbaru menunjukkan area luas di el-Fasher dengan tanda-tanda objek seukuran manusia dan tanah yang memerah, menandakan kemungkinan lokasi pembantaian massal.
Akar Konflik: Perebutan Kekuasaan Dua Jenderal
Konflik ini merupakan babak terbaru dalam perang saudara Sudan yang pecah setelah penggulingan Presiden Omar al-Bashir pada 2019. Bashir yang berkuasa melalui kudeta sejak 1989 akhirnya tumbang setelah gelombang protes rakyat menuntut demokrasi.
Pasca kejatuhannya, dibentuk pemerintahan transisi militer-sipil. Namun, pemerintahan itu digulingkan lagi pada Oktober 2021 oleh dua tokoh utama militer:
- Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, Kepala Angkatan Bersenjata Sudan (SAF)
- Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti), pemimpin RSF
Awalnya mereka sekutu, namun kemudian berseberangan soal arah masa depan Sudan. Perpecahan tajam muncul terkait rencana penggabungan RSF ke dalam militer nasional — termasuk siapa yang akan memimpin pasukan gabungan itu.
Sumber dari BBC menyebut bahwa kedua jenderal sama-sama enggan kehilangan kekuasaan dan kekayaan mereka.
Darah Mulai Tumpah Sejak 2023
Baku tembak antara RSF dan militer Sudan pertama kali pecah pada 15 April 2023, setelah ketegangan meningkat akibat pergerakan pasukan RSF ke berbagai wilayah.
Tidak jelas siapa yang melepaskan tembakan pertama, namun pertempuran dengan cepat meluas. RSF sempat menguasai sebagian besar ibu kota Khartoum, hingga akhirnya militer kembali merebutnya dua tahun kemudian pada Maret 2025.
Dari Janjaweed ke RSF: Sejarah Panjang Kekejaman
RSF dibentuk pada tahun 2013, berakar dari milisi Janjaweed yang terkenal brutal.
Pada masa lalu, Janjaweed dituduh melakukan pembersihan etnis dan genosida terhadap penduduk non-Arab di Darfur. Kelompok ini menjadi tangan besi pemerintah dalam memerangi pemberontakan di wilayah tersebut.
Seiring waktu, Jenderal Hemedti memperluas pengaruhnya. Ia terlibat dalam konflik di Yaman dan Libya, serta menguasai tambang emas di Sudan.
Investigasi internasional menduga Hemedti menyelundupkan emas ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk memperkuat jaringan kekuasaannya.
Dugaan Dukungan Asing
Militer Sudan menuduh UEA memberikan dukungan senjata dan drone kepada RSF, meskipun negara Teluk tersebut membantah keras tuduhan itu.
Selain itu, Jenderal Khalifa Haftar dari Libya timur juga dituduh membantu RSF dengan menyediakan jalur penyelundupan senjata dan mengirim pasukan tambahan.
RSF Kuasai Darfur dan Kordofan
Pada Juni 2025, RSF mencatat kemenangan besar dengan merebut wilayah strategis di perbatasan Libya dan Mesir.
Kemudian pada akhir Oktober 2025, pasukan Hemedti berhasil menguasai kota el-Fasher, pusat terakhir kekuatan pemerintah di Darfur. Kini, RSF mengontrol hampir seluruh wilayah Darfur serta sebagian besar Kordofan.
Kemenangan itu diikuti dengan deklarasi pemerintahan tandingan RSF, menandai potensi perpecahan Sudan untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya Sudan Selatan memisahkan diri pada 2011.
Krisis Kemanusiaan Terburuk di Afrika
PBB menyebut konflik di Sudan saat ini sebagai krisis kemanusiaan paling parah di dunia. Lebih dari 10 juta orang terpaksa mengungsi, dan jutaan lainnya menghadapi kelaparan akut.
Rumah-rumah hancur, fasilitas kesehatan lumpuh, sementara bantuan kemanusiaan sulit masuk akibat blokade militer.
Meski dunia internasional mengecam kekejaman RSF, respon global dinilai lamban dan tidak tegas.
“Jika dunia diam, maka genosida berikutnya sedang terjadi tanpa sanksi,” ujar salah satu perwakilan organisasi kemanusiaan Sudan kepada media lokal.
Pembantaian di el-Fasher bukan hanya tragedi kemanusiaan, melainkan cermin kegagalan dunia mencegah kekejaman baru di Afrika.
Sejarah kelam Darfur di awal 2000-an kini terulang — dengan aktor yang sama, hanya berganti nama dan strategi.
Sudan kini berada di ambang perpecahan, sementara dunia hanya bisa menyaksikan genosida abad ke-21 berlangsung di depan mata.
