UMIKA.ID, Gaza, Palestina — Gelombang serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada Selasa (28/10) malam hingga Rabu (29/10), menyebabkan lebih dari 100 warga sipil Palestina gugur, termasuk puluhan anak-anak. Aksi brutal tersebut langsung menuai kecaman keras dari Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, yang menilai serangan itu sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.
Dalam pernyataannya yang dikutip oleh Al Jazeera, Volker Turk menegaskan bahwa tindakan Israel yang menyasar permukiman penduduk, tenda pengungsi, dan sekolah tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Ia menilai serangan tersebut merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap prinsip dasar perlindungan warga sipil di masa perang.
“Laporan bahwa lebih dari 100 warga Palestina gugur dalam semalam karena gelombang serangan udara Israel, umumnya mengenai gedung permukiman, tenda IDP (pengungsi), dan sekolah di Jalur Gaza setelah kematian seorang tentara Israel, itu mengerikan,” kata Volker Turk, Rabu (29/10).
“Hukum perang telah sangat jelas dalam pentingnya melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil,” tambahnya.
Desakan PBB: Hormati Gencatan Senjata dan Hukum Internasional
Volker Turk mendesak pemerintah Israel untuk mematuhi kewajiban hukum humaniter internasional dan memastikan pertanggungjawaban atas setiap pelanggaran yang dilakukan. Ia juga menyerukan kepada komunitas internasional agar mengambil langkah konkret untuk mengamankan gencatan senjata di Gaza sebagai jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Menurut Turk, penghentian kekerasan bukan hanya kebutuhan politik, tetapi kewajiban moral dan kemanusiaan bagi semua pihak yang terlibat.
“Sudah saatnya dunia tidak hanya menonton. Gencatan senjata harus dijaga agar tidak menjadi sekadar jeda sebelum pembantaian berikutnya,” ujarnya.
104 Orang Gugur, 46 di Antaranya Anak-anak
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan, sedikitnya 104 orang gugur, termasuk 46 anak-anak, akibat gelombang serangan udara Israel pada Selasa malam. Selain itu, 253 warga lainnya luka-luka, banyak di antaranya dalam kondisi kritis.
Serangan tersebut dilaporkan terjadi di beberapa wilayah padat penduduk, termasuk kamp pengungsian dan area sekitar sekolah yang dijadikan tempat perlindungan sementara.
Saksi mata menggambarkan situasi di Gaza sebagai “malam penuh api dan jeritan”. Ambulans dan tim penyelamat kesulitan menjangkau lokasi karena banyaknya reruntuhan dan ancaman serangan lanjutan.
Netanyahu: Respons atas Serangan di Rafah
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa serangan udara itu merupakan respons terhadap insiden penembakan tentara Israel di Rafah. Ia menuduh Hamas melanggar gencatan senjata yang sedang berlaku dengan menyerang pasukannya.
Namun, tudingan tersebut langsung dibantah oleh pihak Hamas. Dalam pernyataannya, juru bicara Hamas menegaskan bahwa kelompoknya tidak terlibat dalam insiden Rafah, dan bahkan menyebut wilayah itu saat ini masih dikontrol penuh oleh tentara Israel.
“Kami tidak melakukan serangan di Rafah. Tuduhan Israel hanyalah alasan untuk melanjutkan agresi dan pembunuhan terhadap warga sipil,” kata pernyataan resmi Hamas.
Sekjen PBB Antonio Guterres: “Hentikan Segera Serangan di Gaza”
Kecaman juga datang dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang menilai serangan ke Gaza melanggar semangat dan komitmen gencatan senjata yang disepakati sebelumnya.
“Sekretaris Jenderal menegaskan bahwa gencatan senjata harus dipatuhi. Semua pihak harus menahan diri dari tindakan yang dapat melukai warga sipil,” ujar juru bicara Guterres, Stephane Dujarric.
Guterres juga mengapresiasi upaya diplomatik Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat dalam menjaga kesepakatan gencatan senjata dan membuka akses kemanusiaan bagi warga Gaza.
“Keterlibatan mereka sangat krusial dalam menjaga kesepakatan ini, mencegah eskalasi lebih lanjut, dan memungkinkan akses bantuan kemanusiaan yang lebih leluasa,” imbuh Dujarric.
Krisis Kemanusiaan Terburuk Sejak Invasi 2023
Sejak agresi besar-besaran Israel ke Gaza pada 2023, wilayah tersebut telah menghadapi krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern. PBB mencatat lebih dari 40.000 warga Palestina gugur, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta lebih dari 2 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Bantuan kemanusiaan pun masih sangat terbatas akibat blokade ketat Israel yang membatasi pasokan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
Laporan lapangan menyebut banyak rumah sakit di Gaza kini tidak lagi berfungsi penuh, sementara ribuan pengungsi terpaksa berlindung di reruntuhan gedung dan sekolah yang sudah rusak berat.
Seruan Dunia Islam dan Komunitas Global
Berbagai negara dan organisasi internasional menyerukan penyelidikan independen atas dugaan kejahatan perang Israel di Gaza. Dunia Islam, termasuk Indonesia, juga mendesak agar PBB segera mengambil langkah tegas, bukan hanya sekadar kecaman verbal.
Pengamat politik internasional menilai, pernyataan keras Volker Turk dan Guterres kali ini menjadi sinyal bahwa PBB mulai kehilangan kesabaran terhadap agresi Israel yang terus berulang meski sudah berulang kali dijatuhi resolusi.
Serangan udara Israel yang menyebabkan lebih dari 100 warga sipil Palestina gugur pada 28–29 Oktober menjadi babak kelam baru dalam tragedi kemanusiaan di Gaza. Meski dunia terus menyerukan penghentian kekerasan, nyawa rakyat Palestina kembali melayang akibat pelanggaran gencatan senjata.
Seruan Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk agar hukum perang ditegakkan dan warga sipil dilindungi menjadi pengingat bahwa perdamaian sejati tidak akan pernah lahir dari pembalasan, melainkan dari keadilan.
