Fenomena Ghosting Keluarga di Era Modern
Umika Media – mika enomena ghosting keluarga merujuk pada sikap memutus komunikasi dengan kerabat tanpa alasan jelas. Seseorang bisa tiba-tiba menghilang, tidak membalas pesan, atau menghindari pertemuan keluarga, meskipun tidak sedang konflik terbuka. Ini berbeda dengan jeda sehat atau menjaga jarak untuk meredakan emosi. Ghosting cenderung menghindar permanen dan pasif-agresif.
Istilah ghosting awalnya populer di media sosial untuk menggambarkan putus hubungan dalam pacaran. Namun kini, perilaku tersebut masuk ke ranah keluarga. Banyak orang tua mengeluh tidak lagi bisa menghubungi anaknya. Saudara kandung tidak berbicara selama bertahun-tahun. Padahal, Islam sangat menekankan pentingnya silaturahmi.[1]
Ghosting Keluarga dalam Sorotan Tafsir Al-Qur’an
Ayat Utama tentang Silaturahmi
Salah satu ayat yang menjadi pegangan dalam pembahasan ini adalah:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 214)
Ayat ini diturunkan sebagai perintah langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk memulai dakwah dari keluarga. Pentingnya hubungan keluarga dijadikan pondasi awal dalam memperbaiki masyarakat. Ini menunjukkan bahwa mempererat silaturahmi bukan sekadar etika sosial, tapi juga misi keimanan.
Asbabun Nuzul Ayat
Menurut penjelasan dari tafsir Al-Kasysyaf oleh az-Zamakhsyari, ayat ini turun ketika Rasulullah ﷺ menerima perintah keras dari Allah untuk berdakwah secara terbuka, dimulai dari kerabat dekatnya. Di saat itu, sebagian kerabat Nabi merasa tidak suka ditegur secara langsung. Namun ayat ini menjadi dalil bahwa menasihati dan membina keluarga adalah bentuk kasih sayang, bukan sebaliknya.[2]
Mengapa Ghosting Keluarga Itu Salah?
Dampak Emosional dan Sosial
Ghosting keluarga tidak hanya menyakitkan secara emosional, tapi juga melemahkan struktur sosial. Anak yang memutus komunikasi dengan orang tuanya, misalnya, akan merusak keseimbangan psikologis keluarga. Sementara itu, hubungan kakak-adik yang rusak akan menciptakan warisan luka antar generasi.
Al-Qur’an menggambarkan bahwa orang yang memutus tali silaturahmi terancam dijauhkan dari rahmat Allah. Dalam tafsir Ahkam al-Qur’an, Al-Jassas menegaskan bahwa memutus silaturahmi termasuk dalam dosa besar yang menyebabkan pelakunya kehilangan keberkahan amal.[3]
Solusi Qur’ani Menghindari Ghosting Keluarga
Empati dan Komunikasi Terbuka
Pertama, Islam mengajarkan komunikasi sebagai sarana penyelesaian. Jika ada konflik, selesaikan dengan islah atau mediasi. Jangan memilih diam dan pergi. Bahkan ketika ada jarak fisik, Al-Qur’an tetap mendorong saling mendoakan dan bertanya kabar.
Kedua, berempatilah kepada pihak yang merasa kehilangan. Mereka bisa jadi menunggu pesan atau telepon yang tak pernah datang. Tindakan kecil seperti mengucapkan salam atau menanyakan kabar bisa memulihkan hubungan.
Langkah Preventif dari Perspektif Qur’ani
Ada beberapa tindakan konkret untuk mencegah ghosting keluarga:
-
Menyapa keluarga secara rutin, walau sebentar.
-
Mengadakan pertemuan keluarga berkala, baik daring atau luring.
-
Membuka percakapan dengan jujur dan rendah hati saat terjadi masalah.
-
Menjaga adab ketika bertukar pesan atau status di media sosial agar tidak menyindir atau memancing konflik.
Sikap ini sejalan dengan prinsip-prinsip Qur’ani dalam mempererat hubungan kekeluargaan.[4]
Membangun Kembali Silaturahmi yang Retak
Bagi yang sudah terlanjur menjauh dari keluarganya, masih ada jalan kembali. Islam adalah agama yang memberi ruang untuk taubat dan perbaikan. Al-Qur’an menyebut bahwa menghubungkan kembali silaturahmi bisa menjadi penghapus dosa dan mendatangkan berkah (Al-Jassas, 1990, Ahkam al-Qur’an, Kairo, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 214).
Kita bisa mulai dari langkah kecil. Kirim pesan. Ucapkan maaf. Tunjukkan niat baik. Dan yang terpenting, doakan keluarga dengan tulus, karena doa bisa menembus dinding tertebal sekalipun.
Penutup: Renungan dari Ayat Allah
Fenomena ghosting keluarga mungkin tampak biasa di mata masyarakat modern. Namun dalam pandangan Qur’ani, tindakan itu termasuk bentuk memutuskan tali kasih sayang yang sangat dibenci Allah.
Ghosting keluarga bukan hanya menyakitkan, tapi juga merusak pondasi umat. Jika kita ingin membangun masyarakat yang kuat dan penuh rahmat, maka mulailah dengan memperbaiki hubungan keluarga. Karena dari keluarga yang utuh, lahirlah generasi yang tangguh.
Konsultasi di sini
Catatan Kaki :
[1] Noor, 2015, Psikologi Keluarga Modern, Jakarta, Prenadamedia Group, hlm. 76
[2] Az-Zamakhsyari, 2007, Al-Kasysyaf, Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hlm. 287
[3] Al-Jassas, 1990, Ahkam al-Qur’an, Kairo, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 213
[4] Noor, 2015, Psikologi Keluarga Modern, Jakarta, Prenadamedia Group, hlm. 82
