NEWS.UMIKA.UD, Jakarta,- Pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2025, di Istana Negara Jakarta, Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh bangsa. Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025.
Penganugerahan ini merupakan penghargaan tertinggi negara bagi mereka yang dinilai memiliki jasa besar dalam berbagai bidang: politik, diplomasi, pendidikan, hak pekerja, militer dan perjuangan kemerdekaan. Artikel ini mengulas profil dan kontribusi masing-masing tokoh.
Daftar dan Kontribusi Tokoh
Berikut ringkasan masing-masing tokoh beserta jasa mereka terhadap bangsa Indonesia.
1. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) — Jawa Timur
Terlahir di Jombang 7 September 1940, wafat 30 Desember 2009.
Kontribusi:
Sebagai Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) dan kemudian Presiden RI ke-4 (1999-2001), Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralisme dan demokrasi yang memperjuangkan hak-hak minoritas dan kebebasan beragama.
Menginisiasi reformasi era pasca-Orde Baru, termasuk pembukaan ruang sipil dan pers, serta upaya rekonsiliasi nasional.
Dalam pendidikan Islam, Gus Dur juga dikenal sebagai cendekiawan Muslim yang mempromosikan pendidikan inklusif serta dialog antar-umat beragama.
2. Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto — Jawa Tengah
Lahir 8 Juni 1921 (Kemusuk, Yogyakarta) dan meninggal 27 Januari 2008.
Kontribusi:
Soeharto menjabat Presiden RI ke-2 selama lebih dari tiga dekade (1966/67-1998), memimpin Indonesia dalam pembangunan masif dan stabilitas nasional.
Masa pemerintahannya ditandai proyek‐proyek besar seperti tol/jalan nasional, pembangunan infrastruktur, industrialisasi, dan penanaman sistem ekonomi nasional.
Ia juga berperan dalam diplomasi luar negeri dan pembentukan kerjasama regional ASEAN.
Catatan kritis: Meski demikian, warisan pemerintahan Soeharto juga diwarnai tuduhan pelanggaran HAM dan korupsi—yang kemudian menjadi bagian dari perdebatan publik. Artikel ini hanya menyoroti jasa yang menjadi dasar penganugerahan.
3. Marsinah — Jawa Timur
Lahir 10 April 1969 (Nganjuk) dan meninggal secara tragis 8 Mei 1993.
Kontribusi:
Marsinah adalah aktivis buruh yang memperjuangkan hak-hak pekerja, terutama kaum perempuan dan buruh pabrik. Ia menjadi simbol gerakan buruh Indonesia.
Keberaniannya dalam menuntut kenaikan upah dan kondisi kerja lebih baik membuatnya menjadi tokoh yang dikenang dalam perjuangan sosial dan kemanusiaan.
Penculikannya dan kematiannya kemudian menjadi momentum bagi kesadaran nasional akan pentingnya keadilan sosial dan perlindungan pekerja.
4. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja — Jawa Barat
Lahir 17 Februari 1929 (Batavia/Jakarta), wafat 6 Juni 2021.
Kontribusi:
Seorang pakar hukum internasional dan diplomat, ia menjabat Menteri Luar Negeri (1988-1998) serta Duta Besar RI untuk PBB.
Ia berjasa dalam merumuskan konsep “Negara Kepulauan” yang kemudian digunakan dalam konvensi hukum laut internasional dan pengakuan hak maritim Indonesia.
Pengaruhnya dalam kebijakan luar negeri dan diplomasi menjadikan Indonesia sebagai pemain yang lebih dihormati di arena internasional.
5. Hj. Rahmah El Yunusiyyah — Sumatera Barat
Lahir 26 Oktober 1900 (Padang), wafat 16 Februari 1969.
Kontribusi:
Sebagai ulama perempuan dan pendidik, Rahmah El Yunusiyyah mendirikan lembaga pendidikan untuk perempuan dan aktif dalam perjuangan kemerdekaan.
Ia menjadi pionir pendidikan Islam perempuan di Sumatra Barat dan Indonesia secara umum, membuka jalan bagi pemajuan hak-hak perempuan di bidang pendidikan.
Perannya dalam politik lokal (anggota DPR periode 1950-1955) memperkuat kiprahnya sebagai tokoh yang menghubungkan pendidikan, agama, dan kemerdekaan.
6. Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo — Jawa Tengah
Lahir 25 Juli 1927 (Purworejo), wafat 9 November 1989.
Kontribusi:
Sarwo Edhie Wibowo adalah tokoh militer yang terlibat dalam salah satu fase penting sejarah Indonesia pasca-1965 sebagai Komandan RPKAD (sekarang Kopassus) dan kemudian Gubernur Akademi Militer.
Ia dikenal karena perannya dalam operasi militer dan pembentukan struktur pertahanan nasional yang lebih modern.
Ini menjadikan kontribusinya sebagai bagian dari upaya mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa pada masa transisi.
7. Sultan Muhammad Salahuddin — Nusa Tenggara Barat (NTB)
Lahir tahun 1888 or sekitarnya (sumber pelbagai menyebut 1888-1951) dan memerintah Kesultanan Bima sebagai sultan ke-XIV.
Kontribusi:
Sebagai pemimpin lokal dan sultan yang memahami tantangan penjajahan Belanda di wilayah Bima, Sultan Muhammad Salahuddin memperkuat tradisi pendidikan dan diplomasi lokal serta perjuangan kemerdekaan.
Ia mendirikan sekolah-sekolah umum dan agama di wilayahnya, serta mendorong kesadaran politik rakyat terhadap kemerdekaan Indonesia.
Dengan demikian, ia menjadi simbol perjuangan lokal yang penting bagi pembangunan dan identitas daerah serta nasional.
8. Syaikhona Muhammad Kholil — Jawa Timur
Lahir 1820 (sekitar) – wafat 1925 (sekitar).
Kontribusi:
Sebagai ulama kharismatik dan pendidik, Syaikhona Muhammad Kholil terkenal sebagai guru besar yang melahirkan banyak ulama dan tokoh Islam di Jawa Timur.
Ia membantu penyebaran pendidikan Islam tradisional (pesantren) dan memperkuat kehidupan sosial-agama masyarakat lokal.
Warisannya membantu memelihara tradisi keilmuan Islam dan menjembatani nilai modern dan lokal dalam pendidikan agama.
9. Tuan Rondahaim Saragih — Sumatera Utara
Lahir 1 Januari 1900 (Simalungun) – wafat (tahun tidak jelas).
Kontribusi:
Ia adalah pemimpin adat Batak (Raja Simalungun) yang aktif dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda dan kemudian mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sebagai tokoh adat sekaligus politik, Tuan Rondahaim memperkuat identitas lokal dan kontribusinya dalam proses kemerdekaan membuatnya layak memperoleh gelar tersebut.
10. Zainal Abidin Syah — Maluku Utara
Lahir 1912 (Tidore) – wafat 1967.
Kontribusi:
Sebagai Sultan Tidore ke-37 dan pemimpin masa awal kemerdekaan Indonesia di wilayah Maluku Utara, ia memperjuangkan hak rakyat, diplomasi lokal, dan penggabungan wilayah ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Peran lokalnya ini penting dalam menjaga persatuan nasional dan memperkuat wilayah ketidak–terpinggirkan di wilayah timur Indonesia.
Mengapa Keputusan Ini Signifikan?
Penetapan 10 tokoh kali ini menunjukkan keragaman latar belakang: dari mantan presiden (Soeharto, Gus Dur) hingga aktivis buruh (Marsinah), dari ulama (Kholil) hingga pemimpin lokal adat/sultan (Rondahaim, Zainal Abidin Syah).
Ini menunjukan bahwa penghargaan “pahlawan nasional” tidak hanya untuk pejuang kemerdekaan militer semata, tetapi juga untuk tokoh di bidang hak-asasi, pendidikan, diplomasi, dan pembangunan sosial.
Keputusan ini juga menjadi momen refleksi bagi bangsa Indonesia dalam mengenang jasa-jasa masa lalu serta mengingat pluralitas perjuangan nasional.
Catatan dan Pertimbangan
Gelar Pahlawan Nasional memiliki makna simbolik tinggi, namun juga memunculkan wacana bahwa penghargaan ini harus diiringi dengan penjelasan transparan mengenai kontribusi dan proses seleksi.
Terdapat suara bahwa pengangkatan tokoh-tokoh yang kontroversial (termasuk Soeharto) menuntut dialog publik yang terbuka terkait aspek jasa dan aspek kontroversi.
Penggunaan gelar ini hendaknya dijadikan momentum pendidikan sejarah yang inklusif: agar generasi mendatang memahami tidak hanya sisi “kejayaan” tetapi juga kompleksitas sejarah.
Implikasi untuk Bangsa ke Depan
Generasi muda dapat menjadikan 10 tokoh ini sebagai teladan pluralitas pelayanan kepada bangsa—bahwa pahlawan bisa dari ranah militer, agama, buruh, diplomasi, lokal atau nasional.
Pemerintah dan institusi pendidikan perlu mengintegrasikan narasi kontribusi tokoh-tokoh ini ke dalam kurikulum dan budaya publik agar jasa mereka tidak hanya menjadi pengumuman seremonial.
Publik diharapkan menjadikan moment ini sebagai pemicu dialog nasional tentang bagaimana kita mengenang dan menghargai jasa (yang berbeda latar belakang) sekaligus memperkuat persatuan.
Penutup
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh tahun 2025 merupakan langkah penting dalam menyegarkan memori kolektif bangsa. Masing-masing tokoh membawa cerita-usaha yang berbeda namun bersatu dalam satu tema besar: pengabdian untuk Indonesia. Dengan mengenalkan jasa-jasa mereka dan juga belajar dari aspek sejarahnya, kita bukan hanya mengingat masa lalu—melainkan meneguhkan komitmen bersama menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkeadaban.
Oleh: Kang Adi Suryadi (dari berbagai sumber)
