Netanyahu di Pusaran Korupsi: Tuduhan Suap hingga Manipulasi Media Kian Menekan Jabatan PM Israel

NEWS.UMIKA.ID, Jerusalem — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi mengajukan permintaan pengampunan kepada Presiden Isaac Herzog dalam upaya menghentikan proses hukum yang mengepungnya sejak 2019.

Pengajuan itu dipandang sebagai salah satu langkah politik paling dramatis dalam sejarah Israel modern, mengingat Netanyahu adalah perdana menteri pertama yang diadili atas kasus penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan saat masih menjabat.

A demonstrator covers her face with a sign against Israel PM Benjamin Netanyahu in April | Jack Guez/AFP via Getty Images

Netanyahu, yang telah memimpin Israel lebih lama dari pemimpin manapun, menghadapi ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara serta kemungkinan pelarangan permanen dari jabatan publik apabila terbukti bersalah dalam salah satu dari tiga kasus besar: Kasus 1000, Kasus 2000, dan Kasus 4000.

Permohonan pengampunan ini diajukan di tengah tekanan politik meningkat, perang berkepanjangan di Gaza, dan proses persidangan yang terus memerangkapnya secara hukum maupun politik.

Tiga Kasus yang Menjerat Netanyahu

1. Kasus 1000 – “Gifts Affair”

Netanyahu dituduh menerima hadiah bernilai lebih dari 700.000 shekel (sekitar USD 200.000) dalam bentuk cerutu dan sampanye dari miliarder Arnon Milchan dan James Packer.

Sebagai imbalannya, Netanyahu diduga:

  • mendorong kebijakan pajak yang menguntungkan Milchan
  • mengintervensi agar visa AS Milchan dipulihkan

Sejumlah saksi, termasuk mantan menteri Yair Lapid dan ajudan keluarga Netanyahu, telah menguatkan kesaksian soal pemberian hadiah tersebut. Namun Netanyahu dan para donatur besar itu membantah adanya tindak pidana.

2. Kasus 2000 – Kesepakatan dengan Pemilik Media

Netanyahu dituduh melakukan negosiasi rahasia dengan Arnon Mozes, pemilik harian Yedioth Ahronoth, untuk memperoleh pemberitaan positif.

Sebagai balasan, Netanyahu diduga menawarkan regulasi untuk membatasi peredaran kompetitor utamanya, Israel Hayom.

Rekaman percakapan keduanya menjadi bukti utama. Dalam rekaman, Mozes menawarkan liputan positif jika Netanyahu mendukung undang-undang yang diusulkan. Netanyahu menolak menganggapnya sebagai bentuk suap.

3. Kasus 4000 – Kasus Terberat dan Mengandung Tuduhan Penyuapan

Kasus terbesar dan paling berisiko bagi Netanyahu. Ia dituduh memberikan keuntungan regulasi kepada raksasa telekomunikasi Bezeq, termasuk persetujuan merger besar pada 2015.

Sebagai imbalannya, pemilik Bezeq, Shaul dan Iris Elovitch, diduga memberikan kendali kepada Netanyahu untuk memengaruhi pemberitaan di portal berita Walla.

Tuduhan penyuapan di kasus ini membawa ancaman maksimum 10 tahun penjara.

Sejak sidang pendahuluan pertama tahun 2020, perjalanan hukum Netanyahu berlarut-larut akibat:

  • keberatan hukum berulang dari tim pembelanya
  • polemik penggunaan spyware oleh polisi terhadap saksi
  • tekanan keamanan yang diklaim Netanyahu menghalangi kehadirannya
  • perang Gaza yang mengalihkan fokus politik nasional

Pada 2024–2025, Netanyahu berulang kali mencoba menunda kesaksiannya, termasuk meminta intervensi Shin Bet.
Direktur Shin Bet Ronen Bar membenarkan bahwa Netanyahu meminta pendapat keamanan untuk menghindari kewajiban hadir di pengadilan—klaim yang memicu kritik luas.

Hingga akhir 2025, Netanyahu telah diperiksa silang selama berbulan-bulan, termasuk 1.778 kali mengaku “tidak ingat” pada saat penyelidikan polisi.

Pengadilan Netanyahu telah memecah belah publik Israel serta memicu protes besar sepanjang 2023, terutama terkait reformasi yudisial yang dianggap akan melemahkan Mahkamah Agung.

Kritikus menilai upaya pengampunan ini adalah puncak dari strategi Netanyahu untuk:

  • melemahkan lembaga peradilan
  • mengalihkan perhatian lewat perang di Gaza
  • mempertahankan posisi politik menjelang pemilu Oktober 2026

Sementara itu, pendukungnya—termasuk tokoh sayap kanan Bezalel Smotrich—mengklaim bahwa Netanyahu selama ini menjadi korban “persekusi politik oleh sistem peradilan yang korup”.

Survei Channel 12 Israel pada 30 November menunjukkan 38% masyarakat mendukung pemberian pengampunan.

Pada akhir November 2025, permohonan resmi diajukan oleh tim hukum Netanyahu dalam dokumen setebal 111 halaman. Mantan Presiden AS Donald Trump juga ikut mendesak Herzog agar memberi pengampunan.

Namun para pakar hukum menilai peluang pengampunan sangat kecil, karena:

  • pengampunan sebelum vonis belum pernah terjadi di Israel
  • Netanyahu masih menjabat sebagai perdana menteri
  • preseden ini dianggap berbahaya bagi rule of law

Mantan Menteri Kehakiman Haim Ramon bahkan mengatakan:
“Tidak akan ada pengampunan kecuali Netanyahu pensiun dari politik—dan itu kecil kemungkinannya.”

Herzog disebut-sebut mungkin menggunakan permintaan ini sebagai alat tawar-menawar politik, misalnya memaksa Netanyahu mengabaikan rancangan undang-undang kontroversial.

Namun apabila pengampunan tidak diberikan dan Netanyahu dinyatakan bersalah, ia hampir dipastikan dilarang dari jabatan publik.

Permohonan pengampunan Netanyahu menjadi babak baru yang menentukan dalam drama politik Israel. Dengan tiga kasus berat yang terus berjalan, perang Gaza yang tidak kunjung usai, serta pemilu 2026 yang semakin dekat, masa depan Netanyahu—baik secara hukum maupun politik—tampak berada di ujung tanduk.

Putusan Presiden Herzog akan menentukan apakah Israel memasuki era baru politik atau justru semakin terpecah.

More From Author

UPDATE TERKINI: Korban Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Indonesia Tembus Ratusan Jiwa, Ribuan Warga Mengungsi

Warga Gaza, di Tengah Derita, Sumbangkan Bantuan untuk Korban Banjir di Sumatera

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories