Setiap hari, dunia menyaksikan kekejaman yang menimpa rakyat Palestina. Serangan demi serangan dari Israel bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan rumah, sekolah, bahkan tempat ibadah. Namun, hingga hari ini, pertanyaan besar yang menggema adalah: berapa banyak nyawa lagi yang harus hilang sebelum dunia benar-benar peduli?
Realitas pahit yang dihadapi Palestina bukan sekadar konflik dua negara, melainkan bentuk nyata penjajahan modern. Israel, dengan kekuatan militer dan dukungan politik internasional, terus memperluas wilayah pendudukan, melanggar hukum internasional, dan menindas warga sipil Palestina. Dunia internasional terlalu lama diam, atau hanya mengeluarkan kecaman tanpa tindakan nyata. Padahal, diam terhadap penjajahan berarti menjadi bagian dari ketidakadilan itu sendiri [1].
Palestina saat ini adalah bangsa tanpa kedaulatan penuh. Status kenegaraannya tidak sepenuhnya diakui karena tekanan politik dan dominasi narasi global yang dikendalikan kekuatan besar. Padahal, pengakuan Palestina sebagai negara yang dijajah merupakan langkah penting untuk mengembalikan hak-hak mereka. Ini bukan sekadar soal peta wilayah, tetapi pengakuan atas kemanusiaan yang telah diinjak-injak selama puluhan tahun [2].
Kepedulian dunia tidak cukup hanya dalam bentuk doa dan solidaritas media sosial. Diperlukan tekanan politik global terhadap Israel, boikot terhadap produk yang mendukung penjajahan, dan upaya diplomatik berkelanjutan agar Palestina mendapat haknya sebagai bangsa merdeka. Ketika dunia mulai bertindak, itulah awal dari harapan baru bagi rakyat Palestina [3].
Tindakan konkret dari negara-negara di dunia juga akan menjadi tekanan internasional agar Israel menghentikan tindakan agresinya. Palestina bukan hanya masalah Timur Tengah, tetapi soal kemanusiaan yang harus diperjuangkan bersama.
Maka, pertanyaan itu tetap bergema: berapa banyak nyawa lagi sebelum dunia peduli?

Sumber Referensi:
[1] Haron Din. (2002). Palestin: Antara Kezaliman dan Pengkhianatan Dunia Islam. Kuala Lumpur: Pustaka Ilmi, hlm. 73.
[2] Mawardi. (2016). Politik Internasional dan Diplomasi Palestina. Yogyakarta: Deepublish, hlm. 45.
[3] Samsul Bahri. (2015). Palestina dalam Politik Global. Bandung: Humaniora, hlm. 89.
