Artis dan Aktivis Pro-Palestina Ramaikan Toronto International Film Festival 2025

UMIKA.ID, Toronto, 4–14 September 2025 – Toronto International Film Festival (TIFF) 2025 resmi digelar pada 4 hingga 14 September 2025. Memasuki edisi ke-50, festival film bergengsi dunia ini tidak hanya menjadi ajang pemutaran perdana ratusan karya sinema dari berbagai negara, tetapi juga berubah menjadi panggung solidaritas global bagi Palestina. Dari layar bioskop, karpet merah, hingga jalanan Toronto, pesan kemanusiaan menggema: dunia perfilman tak bisa diam melihat penderitaan rakyat Palestina di tengah agresi Israel.

Film Palestine 36: Sejarah yang Menggema di Masa Kini

Salah satu sorotan utama TIFF tahun ini adalah pemutaran perdana Palestine 36, karya sutradara ternama Palestina Annemarie Jacir. Film drama sejarah ini mengangkat kisah perlawanan rakyat Palestina pada 1936 ketika mereka berada di bawah mandat Inggris. Dengan latar yang kental akan kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan, film ini menghadirkan narasi kuat tentang identitas, tanah air, dan harga diri.

Film tersebut dibintangi aktor dan aktris papan atas asal Timur Tengah, antara lain Hiam Abbass, Saleh Bakri, dan Yasmine Al Massri. Penampilan mereka menuai tepuk tangan panjang dari para penonton usai pemutaran perdana.

“Film ini adalah suara dari generasi yang pernah terlupakan. Kisah 1936 masih relevan dengan kondisi Palestina hari ini. Sejarah selalu berulang, dan melalui sinema, kami ingin dunia melihat penderitaan sekaligus keteguhan hati rakyat kami,” ujar Annemarie Jacir dalam konferensi pers.

Di karpet merah, suasana menjadi semakin politis. Beberapa tamu festival dan kru film terlihat membawa bendera Palestina serta mengenakan pita berwarna merah, hitam, dan hijau sebagai simbol solidaritas. Foto-foto aksi simbolis ini kemudian viral di media sosial, menambah sorotan media internasional.

Aksi Protes Pro-Palestina di Luar TIFF Lightbox

Dukungan terhadap Palestina tidak berhenti di layar lebar. Di luar gedung TIFF Lightbox, kelompok aktivis Liberate 48 menggelar aksi damai bertepatan dengan pemutaran film Tunisia The Voice of Hind Rajab. Film tersebut berkisah tentang seorang anak perempuan Palestina berusia enam tahun yang tewas di Gaza, sebuah kisah nyata yang mengguncang hati dunia.

Puluhan demonstran membawa poster bertuliskan “Stop Arming Israel” dan “Ceasefire Now”. Mereka menuntut pemerintah Kanada menghentikan ekspor senjata ke Israel yang dianggap memperparah penderitaan rakyat sipil.

“Kami tidak bisa hanya merayakan seni tanpa menyadari bahwa di saat yang sama, di Gaza ada anak-anak yang kehilangan nyawa. TIFF harus menjadi ruang untuk solidaritas, bukan sekadar hiburan,” kata salah satu koordinator aksi, dikutip dari Entertainment Weekly.

Meski berlangsung damai, sempat terjadi insiden ketika seorang perempuan menyerang demonstran dengan benda mirip tongkat. Polisi turun tangan dan memastikan tidak ada korban serius. Namun, peristiwa itu menunjukkan tingginya ketegangan politik bahkan di ruang budaya seperti festival film.

Gelombang Dukungan dari Industri Film Global

Dukungan terhadap Palestina di TIFF merupakan bagian dari gerakan lebih luas di dunia perfilman. Lembaga advokasi Film Workers for Palestine meluncurkan kampanye global dengan dukungan lebih dari 1.800 pekerja film internasional, termasuk aktor dan aktris kenamaan Hollywood.

Nama-nama besar seperti Olivia Colman, Mark Ruffalo, Emma Stone, hingga Tilda Swinton menandatangani seruan untuk memboikot institusi perfilman Israel. Menurut mereka, lembaga-lembaga tersebut terlibat dalam upaya whitewashing atau menutupi praktik pelanggaran HAM terhadap warga Palestina.

“Seniman tidak boleh netral ketika kemanusiaan diinjak-injak. Dunia film harus berdiri di sisi keadilan,” bunyi pernyataan bersama yang dirilis awal September 2025.

Langkah ini mempertegas bahwa perfilman bukan sekadar medium hiburan, tetapi juga arena politik global. Boikot tersebut disebut-sebut sebagai salah satu gerakan solidaritas terbesar di industri seni sejak era anti-apartheid Afrika Selatan.

TIFF 2025: Antara Seni dan Politik

Secara keseluruhan, TIFF 2025 menayangkan sekitar 292 film dari berbagai negara, termasuk beberapa produksi besar Hollywood seperti Knives Out 3, karya terbaru Aziz Ansari, dan film yang dibintangi Sydney Sweeney. Namun, di tengah gegap gempita bintang internasional, isu Palestina tetap menjadi perbincangan utama.

Festival ini juga menghadirkan sesi diskusi panel tentang “Cinema and Resistance”, di mana para pembuat film dari Timur Tengah membahas bagaimana seni dapat menjadi alat perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan.

Bagi banyak pihak, TIFF 2025 adalah bukti bahwa budaya dan politik tidak bisa dipisahkan. Seni bukan hanya hiburan, melainkan juga cermin masyarakat yang berfungsi sebagai medium kritik sosial.

Reaksi Publik dan Media Sosial

Munculnya simbol pro-Palestina di karpet merah serta aksi protes di luar gedung festival cepat menyebar di media sosial. Tagar seperti #PalestineAtTIFF dan #StandWithPalestine sempat menjadi trending di Twitter/X.

Banyak warganet memuji keberanian para artis dan aktivis yang menggunakan panggung internasional untuk menyuarakan isu kemanusiaan. Namun, tidak sedikit pula kritik datang dari pihak yang menilai bahwa festival film seharusnya menjadi ruang netral dari isu politik.

Di Kanada sendiri, dukungan terhadap Palestina memicu perdebatan politik. Sebagian kalangan mendesak pemerintah mengambil sikap lebih tegas terhadap Israel, sementara kelompok lain menilai bahwa TIFF tidak boleh dimanfaatkan untuk agenda politik tertentu.

Toronto sebagai Pusat Diplomasi Budaya

Toronto International Film Festival selama ini dikenal sebagai salah satu festival film terbesar dan paling berpengaruh di dunia, sejajar dengan Cannes dan Venice. Dengan jumlah penonton mencapai hampir setengah juta orang setiap tahunnya, TIFF menjadi ajang penting bagi para sineas untuk mempromosikan karya sekaligus isu yang mereka angkat.

Pada edisi ke-50 ini, TIFF tidak hanya merayakan perjalanan sinema global, tetapi juga menunjukkan peran penting kota Toronto sebagai ruang diplomasi budaya. Toronto dikenal sebagai kota multikultural dengan komunitas Arab dan Palestina yang cukup besar, sehingga solidaritas terhadap Gaza mendapat ruang yang luas.

Suara yang Tak Terbendung

Dengan rangkaian peristiwa ini, TIFF 2025 mencatat sejarah sebagai festival yang sarat muatan politik dan kemanusiaan. Dari film Palestine 36 yang membuka mata tentang sejarah perjuangan rakyat Palestina, hingga aksi protes jalanan yang menggugah kesadaran publik, pesan yang tersampaikan jelas: solidaritas global untuk Palestina terus menguat.

Festival ini menunjukkan bahwa seni dan budaya bisa menjadi senjata ampuh melawan ketidakadilan. TIFF 2025 akan dikenang bukan hanya karena kualitas film yang ditampilkan, tetapi juga karena keberaniannya menjadi panggung solidaritas dunia.

Kesimpulan

Toronto International Film Festival 2025, yang berlangsung pada 4–14 September 2025, menegaskan dirinya bukan sekadar ajang sinema, tetapi juga ruang perjuangan moral. Dukungan artis, aktivis, hingga sineas terhadap Palestina menegaskan bahwa industri hiburan global tidak bisa menutup mata dari tragedi kemanusiaan.

Dengan momentum ini, TIFF 2025 menjadi bukti nyata bahwa film dapat menggerakkan hati, mengubah opini publik, dan mungkin suatu hari membantu mengubah arah sejarah.

More From Author

Pentingnya Orang Tua Mengajarkan Literasi Keuangan Berdikari

Palestine 36: Film Sejarah Palestina Tayang Perdana di Toronto, Resmi Wakili Palestina ke Oscar 2026

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories