Anak Sering Membantah Orang Tua? Ini Kata Ulama dan Solusinya

UMIKA Media – Fenomena anak yang membantah orang tua bukan lagi hal asing. Di lingkungan masyarakat urban maupun rural, kasus ini terus meningkat.

Di media sosial, tak sedikit video viral memperlihatkan anak menentang orang tua secara terang-terangan. Baik berupa ucapan kasar, tatapan tajam, bahkan aksi membanting pintu atau barang. Fenomena ini membuat banyak orang tua merasa kehilangan wibawa. Padahal, mereka telah berusaha memberi yang terbaik.

Lantas, mengapa anak-anak zaman sekarang lebih mudah membantah orang tua? Pertama, pengaruh media dan gaya hidup bebas. Kedua, pola asuh yang terlalu permisif. Ketiga, kurangnya pendidikan adab sejak kecil. Sayangnya, membantah orang tua bukan hanya soal etika. Dalam Islam, perbuatan ini tergolong dosa besar.

Larangan Membantah Orang Tua Dalam Al-Qur’an dan Hadis

Islam memuliakan orang tua. Al-Qur’an berulang kali menegaskan pentingnya berbuat baik kepada mereka.

Allah berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ…
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu sekali-kali mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’…” (QS. Al-Isra: 23)

Kata “uf” dalam ayat ini berarti kata kecil bernada kesal. Maka, membantah orang tua dengan nada tinggi tentu lebih dilarang.

Rasulullah SAW pun bersabda:

“Maukah kalian aku beritahu dosa besar yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua…” (HR. Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)[1]

Hadis ini menunjukkan bahwa membantah orang tua tergolong ‘uqūq al-wālidayn, atau kedurhakaan yang bisa menghapus amal.

Pandangan Ulama Tentang Anak Yang Menentang Orang Tua

Para ulama sejak dahulu memberi perhatian serius terhadap akhlak anak terhadap orang tuanya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa berbuat baik kepada orang tua merupakan bentuk ibadah setelah tauhid. Ia menekankan pentingnya menjaga lisan dan sikap meski orang tua bersikap keras.

Syekh Shalih al-Fauzan berkata:

“Durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar, dan pelakunya bisa mendapatkan adzab di dunia sebelum akhirat.”.[2]

Dengan demikian, anak yang membantah orang tua tak hanya menyakiti perasaan, tapi juga menjerumuskan diri ke dalam murka Allah.

5 Solusi Islami Mengatasi Anak Sering Membantah Orang Tua

Fenomena anak sering membantah orang tua perlu solusi nyata. Berikut lima langkah Islami yang bisa diterapkan:

1. Ajarkan Adab Sejak Usia Dini

Anak tidak lahir dengan adab. Orang tualah yang menanamkan sejak kecil. Ajarkan anak untuk meminta izin, mengucapkan terima kasih, dan tidak menyela pembicaraan. Pendidikan adab lebih penting dari sekadar ilmu umum. Adab melandasi karakter dan spiritualitas anak.

2. Gunakan Keteladanan, Bukan Hanya Perintah

Orang tua harus menjadi role model. Jika ingin anak tidak menentang, maka orang tua juga tidak membentak anak. Ucapan yang lembut, ketegasan yang penuh kasih, dan konsistensi akan melunakkan hati anak. Keteladanan ini akan mengurangi anak yang membantah orang tua

3. Kurangi Marah, Perbanyak Doa

Membentak anak yang membantah hanya memperkeruh suasana. Salah satu doa Nabi Ibrahim untuk anaknya:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat…” (QS. Ibrahim: 40)

Doa memiliki kekuatan yang luar biasa. Sertakan doa dalam setiap sujud.

4. Kontrol Akses Gawai dan Lingkungan

Anak bisa belajar membantah dari tontonan, teman, atau media sosial. Batasi akses kepada konten yang merusak akhlak. Perhatikan juga dengan siapa anak berteman. Kata pepatah Arab, “Teman itu seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.” Pilihan lingkungan sangat memengaruhi.

5. Konsultasi Kepada Ahli Jika Memburuk

Jika anak sudah sangat sering menentang orang tua dan sulit diajak bicara, jangan ragu konsultasi. Datangi ustaz terpercaya, psikolog Islami, atau konselor keluarga. Kadang-kadang, masalah anak adalah cerminan luka yang belum selesai dalam keluarga.

Penutup: Mendidik Anak Tidak Membantah Orang Tua

Fenomena anak sering membantah orang tua harus menjadi perhatian serius. Islam tidak hanya melarang secara hukum, tapi juga menawarkan solusi mendalam berbasis hati, adab, dan spiritualitas. Mari kembali kepada metode Rasulullah dan para ulama dalam mendidik generasi penuh hormat.

Karena sesungguhnya, anak yang berbakti adalah aset dunia dan akhirat.

“Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi no. 1899)

Semoga kita mampu membina anak-anak yang lembut, taat, dan beradab dalam Islam.

Sumber Refrensi :

[1] Muhammad bin Ismail. (2002). Shahih al-Bukhari. Riyadh: Darussalam, Kitab al-Adab, Hadis No. 5973
[2] Al-Fauzan, 2010, Syarh al-Kabair, Riyadh: Darul Atsar, hlm. 37

More From Author

Subhanallah, Tak Pantas Menjadikan Neraka Sebagai Bahan Olokan, Ini Bahayanya dalam Pandangan Islam

Tentara Cadangan Israel Tewas Disergap Pejuang Hamas di Gaza Utara

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories