Apa Yang Harus Dilakukan Jika Hubungan Suami Istri Sudah Mati Rasa?
Umika Media – Saat hubungan suami istri sudah mati rasa, muncul berbagai pertanyaan: Haruskah berpisah? Apa salahku? Kenapa tidak lagi ada getar cinta itu? Keyword utama ini menandai sebuah fase yang banyak dialami pasangan, terutama setelah bertahun-tahun menikah.
Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita mulai dengan mengingat dalil dari Al-Qur’an:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya soal perasaan cinta yang membara, tetapi juga tentang ketenangan jiwa. Jika rasa itu menghilang, artinya ada bagian dari ketenangan yang perlu dipulihkan, bukan dibuang.
Mengapa Perasaan Bisa Mati Dalam Hubungan Suami Istri?
Dalam teori Sternberg’s Triangular Theory of Love, cinta terdiri dari tiga unsur: gairah (passion), keintiman (intimacy), dan komitmen (commitment). Ketika salah satu komponen hilang, maka hubungan menjadi tidak seimbang.
Biasanya, dalam hubungan jangka panjang, bagian passion atau gairah adalah yang paling cepat pudar. Rutinitas, beban hidup, kurang komunikasi, dan konflik yang tidak terselesaikan bisa jadi penyebab utamanya.
Namun, para pakar psikologi keluarga sepakat: perasaan bisa dipulihkan. Menurut John Gottman dalam bukunya The Seven Principles for Making Marriage Work, pasangan yang saling memperkuat “bank emosi” atau emotional bank account-nya cenderung lebih tahan terhadap konflik dan rasa hambar.[1]
Bagaimana Cara Menghidupkan Kembali Hubungan Suami Istri yang Sudah Mati Rasa?
1. Mulai Dengan Tanya Diri Sendiri
“Apakah saya masih ingin memperbaiki ini?” Jika jawabannya iya, maka langkah pertama telah dimulai. Niat baik adalah awal dari perbaikan.
Allah tidak mengubah suatu kaum kecuali mereka mengubah diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11).
2. Buat Komunikasi yang Hangat dan Terbuka
Jangan menunggu pasangan berubah. Mulailah duluan. Sampaikan bahwa kamu merasa hubungan mulai hampa. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk memulai ruang dialog.
Gunakan komunikasi asertif, bukan pasif atau agresif. Hindari kalimat yang menghakimi seperti “Kamu tidak pernah…” dan ganti dengan “Aku merasa…”.
3. Bangun Kebiasaan Kecil yang Bermakna
Terkadang kita kehilangan rasa karena kehilangan momen sederhana: menyapa pagi, memijat bahu pasangan, atau makan malam tanpa gadget.
Kebiasaan kecil ini menyentuh bagian keintiman. Psikolog Tara Parker-Pope menyebut bahwa hubungan yang bertahan lama dibangun bukan dari peristiwa besar, tetapi dari kebiasaan kecil sehari-hari.[2]
4. Tumbuhkan Gairah Melalui Aktivitas Bersama
Buat aktivitas baru yang tidak biasa. Ikut seminar, olahraga, atau bahkan traveling bareng. Perubahan suasana dapat menumbuhkan kembali chemistry.
Sebuah studi dari Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa pasangan yang melakukan aktivitas baru bersama akan lebih merasa terikat secara emosional.[3]
5. Konsultasi Pernikahan Jika Perlu
Jika hubungan suami istri sudah mati rasa parah dan tak kunjung membaik, jangan ragu meminta bantuan profesional. Konselor atau psikolog keluarga bisa membantu membedakan apakah ini masalah hubungan atau masalah pribadi yang terbawa ke hubungan.
Apakah Mungkin Jatuh Cinta Lagi Pada Pasangan Yang Sama?
Ya, sangat mungkin. Bahkan, jatuh cinta lagi pada pasangan sendiri bisa lebih indah daripada jatuh cinta pada orang baru. Karena cinta kali ini dibarengi dengan kedewasaan dan pemahaman yang lebih luas.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya” (HR. Tirmidzi no. 3895).
Maka, saat hubungan suami istri sudah mati rasa, bukan berpisah yang pertama kali dipikirkan. Tetapi bagaimana memperbaiki, menyegarkan, dan jatuh cinta kembali dengan cara yang benar dan diridhai Allah.
Penutup
Ketika hubungan suami istri sudah mati rasa, itu bukan akhir dari segalanya. Justru itu sinyal untuk memperbaiki. Jadikan momen ini sebagai awal untuk membangun ulang cinta yang mungkin sempat hilang. Sebab cinta sejati tidak selalu tentang rasa, tapi tentang komitmen dan usaha.
kosnultasi di sini
Catatan Kaki :
[1] Gottman, 2015, The Seven Principles for Making Marriage Work, New York, Harmony Books, hlm. 42
[2] Parker-Pope, 2010, For Better, New York, Dutton, hlm. 113
[3] Aron, et al., 2000, Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 78, No. 2, hlm. 273–284
