Vicky Purwadi PS: Dari Luka Cinta dan Harapan, Lahirkan Karya Penuh Jiwa

Tak semua luka harus dilupakan. Sebagian luka, jika dituliskan dengan jujur, bisa menjadi jalan pulang—kepada diri sendiri, kepada keluarga, bahkan kepada Tuhan. Itulah yang dilakukan oleh Vicky Purwadi PS, seorang pendamping remaja berkebutuhan khusus yang kini juga dikenal sebagai penulis fiksi psikologi Islami.

Lahir dan besar di Pacitan, Jawa Timur, Vicky dibesarkan oleh seorang ibu dalam keluarga sederhana. Ketidakhadiran sosok ayah sejak kecil menjadi pertanyaan besar dalam hidupnya, yang kelak menjelma menjadi karya bertajuk “Ayah Itu Makhluk Apa?”—sebuah novel reflektif tentang peran ayah dan pentingnya kehadiran dalam keluarga.

Melalui wawancara ini, kita diajak menyelami dunia batin Vicky, bagaimana ia memandang hidup, proses kreatif di balik novelnya, serta perjuangannya dalam kampanye kesehatan mental. Dengan gaya tutur yang jujur dan sederhana, Vicky membuktikan bahwa setiap orang punya cerita yang layak untuk disampaikan—dan mungkin, menyembuhkan.

Simak Eksklusif Kisah Inspiratif, Kang Adi Suryadi dalam Program Lebih Dekat Bersama Vicky Purwadi PS, tentang menulis, berdamai dengan masa lalu, dan menciptakan ruang “Dari Luka Cinta dan Harapan, Lahirkan Karya Penuh Jiwa” lewat kata-kata.

UMIKA.ID, Karawang,— Tak pernah terbayangkan oleh Vicky Purwadi PS bahwa dirinya akan menjadi seorang penulis. Pria kelahiran Pacitan, 7 Mei 1990 ini, dulunya hanya menulis saat SD, tepatnya kelas 6, kala mengikuti lomba. Setelah itu, pena dan kertas tak lagi menjadi kawan akrabnya. Namun, takdir berkata lain. Di tahun 2025, kehidupan justru membawanya kembali pada aktivitas menulis sebagai bentuk pelepasan emosi dan trauma masa lalu—dan kini ia telah menelurkan dua karya yang penuh makna dan nilai reflektif.

Moment kebersamaan Kang Vicky Purwadi PS bersama Keluarga Tercinta.

Vicky saat ini berdomisili di Karawang, Jawa Barat, dan berprofesi sebagai pendamping remaja berkebutuhan khusus. Ia juga tengah menempuh pendidikan S1 di Fakultas Psikologi Islam, INSIP Pemalang, Jawa Tengah. Dalam kesehariannya, Vicky tak hanya mengurus keluarga kecilnya—istri dan tiga putri tercinta—tetapi juga aktif dalam kegiatan dakwah dan sosial, terutama kampanye tentang kesehatan mental dan kemandirian anak.

Menulis dari Luka, Merangkai Kata Menjadi Cahaya

“Menulis bukanlah hal yang ada dalam benak saya,” ujar Vicky. Namun seiring perjalanan hidup yang sarat makna, termasuk luka dan trauma, dorongan untuk menuangkan keresahan dalam bentuk tulisan pun hadir. Dalam dunia psikologi yang tengah ia pelajari, Vicky memahami bahwa menulis adalah salah satu bentuk “emotional release” yang sehat.

Motivasi utamanya menulis adalah membagikan inspirasi sekaligus meredakan emosi batin. Latar belakang keluarga yang sederhana—dibesarkan oleh single parent tanpa kehadiran ayah dan ibu—menjadi fondasi kuat dalam tiap karya-karyanya. Hal itu terasa dalam novel debutnya yang berjudul “Ayah Itu Makhluk Apa?”, sebuah karya reflektif yang mempertanyakan peran ayah dalam keluarga dari sudut pandang seorang anak yang tumbuh tanpa sosok ayah.

“Ketika saya menjadi ayah, pertanyaan itu terus menghantui saya: seperti apa seharusnya ayah itu?” ungkap Vicky. Karya ini lahir dari pergulatan batin panjang, hingga akhirnya berhasil ia rangkum menjadi novel dengan pesan kuat mengenai pentingnya kehadiran figur ayah dalam tumbuh kembang anak.

Karya Terbaru: Mengajak Pulang Jiwa yang Tersesat

Tak berhenti di satu buku, Vicky kini tengah menunggu proses penerbitan karya keduanya, “Ya Allah Aku Ingin Pulang”. Novel ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga dan mengisahkan perjuangan Zidan, seorang mahasiswa yang mengalami depresi setelah kehilangan orang yang dicintainya. Karya ini sarat akan nilai-nilai kesehatan mental dan pentingnya dukungan lingkungan sekitar dalam menghadapi duka mendalam.

“Banyak orang yang berduka tidak mendapat dukungan yang tepat. Novel ini bukan hanya kisah pribadi saya, tapi juga bentuk kampanye kesehatan mental,” jelas Vicky.

Dengan perubahan gaya narasi dari orang pertama pada novel pertama ke orang ketiga pada novel kedua, Vicky berupaya menghadirkan perspektif berbeda namun tetap kuat secara emosional.

Proses Kreatif yang Organik

Berbeda dari penulis lainnya, Vicky memiliki cara unik dalam menulis. Ia memanfaatkan grup WhatsApp pribadi—yang hanya berisi dua kontaknya sendiri—untuk menulis ide-ide secara spontan. Ketika muncul kalimat yang dirasa tepat, ia langsung menuliskannya di sana. Lalu pada malam hari, ia akan memindahkan dan menyusunnya di laptop.

“Waktu menulis tidak tentu. Tapi ketika kalimat itu datang, saya langsung tangkap,” ujarnya sambil tersenyum.

Keterbatasan waktu dan pengalaman sebagai penulis pemula menjadi tantangan tersendiri, namun ia mengatasinya dengan semangat dan ketekunan. Pengetahuannya dari bangku kuliah Psikologi dan pengalaman pribadi menjadi sumber riset utama dalam pengembangan karakter dan cerita.

Respon Positif dan Harapan Lebih Besar

Karya-karyanya disambut baik oleh pembaca. Banyak yang merasa kisah dalam novelnya sangat dekat dengan kehidupan mereka. “Banyak yang bilang, ‘itu seperti kisah hidup saya’. Itu hal yang paling membuat saya bersyukur,” tuturnya.

Vicky berharap, pembaca tak hanya berhenti pada proses menikmati cerita, tetapi juga menyampaikan pesan moral dari buku tersebut kepada orang lain. Baginya, fiksi bukan sekadar hiburan, tapi juga sarana dakwah dan penggerak kesadaran sosial.

“Novel saya bergenre fiksi psikologi Islam, saya ingin masyarakat jadi lebih aware terhadap kondisi mentalnya maupun orang lain, terutama dalam keluarga,” katanya.

Ia juga menyoroti rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Vicky ingin melihat budaya membaca buku cetak kembali hidup, dan percaya bahwa karya sastra memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang dan meningkatkan empati sosial masyarakat.

Melangkah ke Depan: Semangat yang Terus Menyala

Vicky tidak berpuas diri. Saat ini ia sedang dalam proses menyiapkan novel ketiganya melalui ajang event menulis. Sementara novel keduanya tengah dalam proses layout penerbitan.

Kepada para penulis pemula, ia memberikan pesan penuh semangat, “Tuliskan saja apa yang menjadi keresahan. Jangan ragu. Dengan menulis, nama kita akan dikenang sepanjang masa, dan bisa jadi itu adalah amal jariyah kita. Insya Allah.”

Profil Singkat Narasumber:

  • Nama: Vicky Purwadi PS
  • Tempat/Tanggal Lahir: Pacitan, 7 Mei 1990
  • Domisili: Karawang, Jawa Barat
  • Profesi: Pendamping Remaja Berkebutuhan Khusus
  • Pendidikan: SMK Administrasi, S1 Psikologi (sedang ditempuh)
  • Karya:
    • Jejak Rasa (Antologi) – 2025
    • Ayah Itu Makhluk Apa? – 2025
    • Ya Allah Aku Ingin Pulang – 2025 (dalam proses terbit)
  • Penghargaan: Juara 3 Menulis Cerpen Antologi, 2025
  • Aktif di: Dakwah, kampanye kesehatan mental, dan parenting

Kutipan Inspiratif:

“Dari ketidakhadirannya, aku belajar makna kehadiran. Dari diamnya, aku memahami arti mendengar. Dari bayangannya yang samar, aku menemukan cara untuk menjadi nyata.”
Vicky Purwadi PS


Kontak dan Media Sosial
📸 Instagram: @kangvicky_90
📘 Facebook: Vicky

More From Author

Kata-Kata Mutiara Tentang Qurban, Idul Adha yang Menyentuh Hati

Tadabbur Surah Al-Munāfiqūn: Waspadai Kemunafikan yang Menggerogoti dari Dalam

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories