UMIKA Media – Menikahi orang yang dicintai memang membahagiakan. Namun, perjalanan rumah tangga tidak cukup hanya mengandalkan rasa cinta awal. Setelah akad terucap, tugas berikutnya adalah menjaga cinta itu agar tumbuh dan bertahan.[1]
Pernikahan akan langgeng jika kedua pasangan saling mengerti, menghindari sikap saya benar kamu salah, melupakan masalah sepele, dan selalu melihat kebaikan pasangan.
Saling Mengerti Adalah Pondasi Pasangan Bahagia
Tidak ada pasangan yang sempurna. Setiap orang membawa latar belakang, kebiasaan, dan cara pandang berbeda ke dalam rumah tangga. Saling mengerti menjadi pondasi agar perbedaan itu justru menguatkan, bukan memisahkan.[2]
Memahami pasangan berarti mendengar lebih banyak daripada berbicara. Kita tidak hanya menunggu giliran untuk menjawab, tetapi benar-benar menyerap apa yang dia rasakan. Hal ini membuat pasangan merasa dihargai, bahkan saat sedang berbeda pendapat.
Kutipan bijak mengatakan, “Orang yang dicintai bukan berarti orang yang sama dengan kita, tapi orang yang mau berjalan bersama meski berbeda arah pandang.”
Hilangkan Sikap Saya Benar Kamu Salah
Banyak pernikahan retak bukan karena masalah besar, tetapi karena perang ego. Jika setiap masalah dihadapi dengan pembuktian siapa yang paling benar, hubungan akan dipenuhi pertengkaran (Musbikin, 2009, Menikah dan Bahagia, Jakarta, Mitra Pustaka, hlm. 72).
Sebaiknya, fokuslah pada solusi. Kalau pun ada perbedaan pendapat, gunakan bahasa yang lembut. Alih-alih mengatakan, “Kamu selalu salah”, lebih baik katakan, “Bagaimana kalau kita mencoba cara ini?”.
Dalam Islam, Rasulullah ﷺ memberikan teladan dengan sabarnya menghadapi perbedaan dengan istri-istrinya.
Beliau tidak memarahi secara emosional, tetapi memberi nasihat dengan hikmah.[3]
Lupakan Masalah Sepele, Fokus pada Hal Penting
Tidak semua masalah layak untuk diperdebatkan. Kadang, pertengkaran justru berawal dari hal-hal kecil: handuk yang tidak digantung, gelas yang tidak dicuci, atau nada bicara yang dianggap tinggi.
Kalau semua masalah kecil dibawa serius, hubungan akan terasa melelahkan. Belajar memaafkan dan melupakan hal sepele adalah investasi emosional jangka panjang.[4]
Ingatlah, pernikahan bukan ajang mencari kesalahan, tetapi tempat saling menguatkan. Menyimpan dendam terhadap hal kecil hanya akan membuat jarak di hati semakin lebar.
Pandang Kebaikan Pasangan Lebih Banyak Daripada Kekurangannya
Setiap manusia punya sisi baik dan buruk. Namun, pernikahan akan terasa indah bila kita memilih untuk fokus pada kebaikan pasangan.
Kalau ada kesalahan kecil, ingatlah seribu kebaikan yang dia lakukan. Ketika kita menghargai hal baik, pasangan akan terdorong untuk mempertahankan bahkan menambah kebaikannya.[5]
Psikolog pernikahan menyebut teknik ini sebagai positive focusing. Semakin sering kita mengingat kebaikan pasangan, semakin dalam rasa cinta yang kita rasakan.
Ikhtiar Mencintai Pasangan Seumur Hidup
Mencintai orang yang dinikahi adalah proses yang harus diusahakan setiap hari. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
-
Luangkan Waktu Berkualitas Bersama
Jangan hanya tinggal serumah tanpa interaksi bermakna. -
Ungkapkan Rasa Sayang Secara Rutin
Kata-kata sederhana seperti “terima kasih” atau “aku bangga padamu” bisa membuat hati pasangan hangat. -
Bantu Meringankan Beban Pasangan
Tawarkan bantuan tanpa diminta, baik urusan rumah tangga maupun pekerjaan luar. -
Berdoa untuk Kebaikan Pasangan
Doa adalah bukti cinta yang tulus. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita selalu mendoakan orang yang kita sayangi. -
Hindari Membandingkan dengan Orang Lain
Setiap pernikahan punya cerita dan ritme sendiri. Membandingkan hanya akan merusak rasa syukur.
Kesimpulan
Menikahi orang yang dicintai adalah impian yang membuat hati berbunga-bunga di awal pernikahan.
Namun, mencintai orang yang dinikahi adalah kewajiban yang harus dijaga setiap hari.
Dengan saling mengerti, menghapus sikap saya benar kamu salah, melupakan masalah sepele, dan selalu memandang kebaikan pasangan, rumah tangga akan lebih harmonis.
Seperti kata pepatah Arab, “Al-hubb laisa kalimah, bal ‘amal wa istiqamah” Cinta bukan sekadar kata, tetapi tindakan yang berkesinambungan.
Konsultasi di sini
Sumber Refrensi :
[1] Al-Ghazali, 2010, Ihya’ Ulumuddin, Beirut, Dar al-Fikr, hlm. 56
[2] Salim, 2016, Psikologi Cinta dan Pernikahan, Bandung, Pustaka Hidayah, hlm. 104
[3] Al-Bukhari, 2002, Shahih al-Bukhari, Riyadh, Darussalam, hlm. 45
[4] Chapman, 2015, The 5 Love Languages, Chicago, Northfield Publishing, hlm. 18
[5] Salim, 2016, Psikologi Cinta dan Pernikahan, Bandung, Pustaka Hidayah, hlm. 109
