Umika Media – Fungsi keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak adalah pondasi penting dalam pembentukan karakter. Namun, zaman kini menunjukkan adanya pergeseran nilai. Banyak anak lebih dekat dengan gadget daripada orang tua. Pendidikan akhlak pun hanya bergantung pada sekolah.[1]
Hal ini tentu mengkhawatirkan. Peranan keluarga tidak bisa tergantikan oleh institusi mana pun. Keluarga adalah tempat pertama dan utama anak belajar tentang nilai hidup, agama, kasih sayang, hingga makna tanggung jawab.[2]
Tak sedikit orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada lembaga formal. Padahal, dalam Islam, orang tualah yang pertama kali dimintai pertanggungjawaban tentang pendidikan anaknya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).[3]
Memahami Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Anak Sejak Dini
Peranan keluarga dalam pendidikan anak dimulai bahkan sejak dalam kandungan. Anak belajar dari sikap, tutur kata, dan nilai-nilai yang diterapkan oleh orang tua di rumah.[4]
1. Menjadi Contoh Nyata
Anak lebih banyak meniru daripada mendengar nasihat. Orang tua yang membiasakan sholat tepat waktu, bersikap jujur, dan berkata santun akan membentuk kebiasaan serupa pada anak.
2. Menanamkan Nilai Religius dan Moral
Peran ini tidak cukup dilakukan oleh sekolah. Pendidikan agama harus dimulai sejak kecil. Misalnya, mengajarkan anak mengucapkan salam, membaca doa sebelum makan, dan mengenal Allah sejak dini.
3. Membangun Kedisiplinan dan Tanggung Jawab
Di rumah, anak bisa belajar tanggung jawab lewat hal-hal sederhana. Seperti merapikan tempat tidur, membereskan mainan, atau membantu ibu menyiapkan makanan.
Strategi Menghidupkan Kembali Fungsi Keluarga Sebagai Madrasah
Agar peranan keluarga tidak tergantikan teknologi dan lingkungan luar, perlu ada strategi konkret. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Jadikan Rumah Sebagai Tempat Nyaman Untuk Belajar
Buatlah rumah menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar. Sediakan sudut baca atau ruang belajar yang kondusif. Hindari terlalu banyak larangan saat anak ingin bertanya atau berekspresi.
2. Bangun Komunikasi Dua Arah
Ajak anak berdiskusi setiap hari. Dengarkan cerita mereka. Ketika anak merasa dihargai, mereka akan lebih terbuka dan mudah diarahkan.
3. Kurangi Waktu Layar, Perbanyak Waktu Bersama
Buat aturan jelas tentang penggunaan gadget. Gantikan waktu layar dengan aktivitas keluarga, seperti membaca buku bersama, bermain di taman, atau membuat karya seni.
4. Jadwal Rutin Kegiatan Keagamaan
Bangun kebiasaan ibadah bersama. Misalnya, shalat berjamaah di rumah, membaca Al-Qur’an, atau mengikuti kajian keluarga. Ini membentuk ikatan spiritual yang kuat. artikel lain juga bisa dibaca di sini.
Tantangan Dalam Menjalankan Peranan Keluarga Di Era Digital
Tidak bisa dimungkiri, fungsi keluarga sebagai madrasah pertama kini menghadapi tantangan besar. Era digital membawa pengaruh luar yang sangat kuat ke dalam rumah. Anak bisa dengan mudah mengakses konten apapun tanpa filter (Hadi, 2015, hlm. 128).
Selain itu, kesibukan orang tua juga menjadi faktor penghambat. Banyak ayah dan ibu yang terlalu lelah sepulang kerja sehingga waktu berkualitas bersama anak sangat minim.
Namun, keterbatasan bukan alasan. Setiap orang tua harus berjuang mengembalikan peran keluarga sebagai tempat pertama anak mengenal nilai kehidupan.
Sebagaimana dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”
Data Tentang Minimnya Perhatian Keluarga di Indonesia
Berdasarkan data BPS tahun 2023, rata-rata waktu yang dihabiskan orang tua bersama anak hanya 45 menit per hari. Sementara anak mengakses gadget hingga 4 jam sehari. Ini menunjukkan adanya ketimpangan besar dalam interaksi keluarga.
| Aspek | Rata-rata Harian |
|---|---|
| Waktu bersama anak | 45 menit |
| Waktu anak dengan gadget | 4 jam |
| Waktu anak di luar rumah | 6 jam |
| Waktu ibadah bersama keluarga | 15 menit |
(Sumber: BPS, 2023, Statistik Waktu Luang Anak Indonesia, Jakarta: Badan Pusat Statistik)
Harapan Baru: Gerakan Menguatkan Fungsi Keluarga Dari Rumah
Kini, saatnya setiap rumah memulai perubahan. Tak perlu menunggu sempurna. Peranan keluarga bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Mulai dengan membacakan doa sebelum tidur, mengajarkan adab makan, atau sekadar menanyakan kabar hari ini.
Generasi yang kuat berasal dari rumah yang penuh cinta dan arahan yang benar. Fungsi keluarga sebagai madrasah pertama anak tidak bisa digantikan oleh apapun.
Kita perlu bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai tempat terbaik untuk tumbuh. Karena pada akhirnya, rumah adalah sekolah pertama, orang tua adalah guru pertama, dan cinta adalah metode pembelajaran terbaik.
DAFTAR REFERENSI:
[1] Zuhairini, 2004, Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, hlm. 56
[2] Hadiwijoyo, 2017, Pendidikan Keluarga dalam Islam, Surabaya: Lintas Media, hlm. 89
[3] HR. Bukhari dan Muslim dalam An-Nawawi, 2011, Riyadhus Shalihin, Jakarta: Darus Sunnah, hlm. 7
[4] Hadi, 2015, Psikologi Perkembangan Anak, Yogyakarta: Andi, hlm. 120
