UMIKA.ID,- Kntor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Hak Asasi Manusia (Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights/OHCHR) pada Jumat (8/11) melaporkan bahwa sekitar 70 persen dari korban tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023 adalah perempuan dan anak-anak.
Menyoroti krisis kemanusiaan parah yang terjadi di Gaza dan daerah lainnya, laporan OHCHR mengonfirmasi bahwa hingga 2 September 2024, pihaknya telah memverifikasi identitas 8.119 warga Palestina yang tewas di Gaza. Dari jumlah tersebut, 2.036 adalah perempuan dan 3.588 adalah anak-anak, yang secara keseluruhan mencakup sekitar 70 persen dari total korban jiwa.
Tidak hanya itu bahwa lebih dari 60.000 anak di bawah usia lima tahun di Gaza menderita kekurangan gizi. Setiap angka dalam statistik ini mewakili satu orang, satu kehidupan, dan satu perjuangan untuk bertahan hidup.
Banyak perempuan Palestina kehilangan suami, anak-anak kehilangan orang tua dan menjadi yatim piatu. Bahkan bayi-bayi yang baru lahir pun harus berjuang bertahan hidup tanpa kasih sayang keluarganya.
Koordinator Maemuna Center Indonesia (Mae-CI) Karawang, Meilina Fitrianti mengungkapkan dan menegaskan bahwa
“Maemuna Center Indonesia sebagai yayasan filantropis yang fokus pada perjuangan perempuan untuk Al-Aqsa & Palestina mengajak kepada seluruh masyarakat karawang khususnya perempuan untuk ikut serta pada Aksi 27/4/2025 nanti”. ungkapnya, Selasa (22/04/2025).
Sebagai seorang perempuan tidak boleh hanya diam menyaksikan genosida yang terjadi di Palestina. Perempuan harus memiliki andil besar dalam menyuarakan & memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui berbagai cara. Do’a Berdonasi, Boikot, Bersuara di social media serta Aksi turun ke jalan.
“Kami mengutuk kejahatan internasional yang dilakukan oleh Zionis Israel yang begitu keji. Kejahatannya tidak dapat diterima oleh akal dan hati nurani apalagi sampai ditolerir. Zionis Israel adalah pelaku kriminal yang tidak patuh dan tunduk pada hukum internasional. Berulang kali melanggar hukum serta perjanjian termasuk gancatan senjata yang telah disepakati awal tahun 2025.
Kita tidak boleh diam, berpangku tangan. Jangan hanya menjadi penonton kedzaliman. Kita harus terus berisik sampai kita menyaksikan dan memastikan bahwa Palestina benar-benar merdeka.” Pungkasnya.
Peace in palestine, Peace in the world.
