UMIKA Media – Perilaku gemulai siswa laki-laki saat acara perpisahan sekolah kerap dinilai lucu dan menghibur. Banyak guru dan orang tua menganggap hal ini wajar selama dalam rangka “hanya hiburan.” Namun, jika ditelaah dari sudut pandang psikologi perkembangan anak, kebiasaan ini bukanlah hal sepele.
Keyword utama artikel ini adalah siswa laki-laki gemulai saat perpisahan. Fenomena ini berulang dari tahun ke tahun. Anak-anak bahkan berlomba tampil “unik” dengan menirukan gaya perempuan. Beberapa mengenakan rok, berdandan, dan bertingkah laku lembut.
Tindakan tersebut memang tidak langsung menyebabkan penyimpangan identitas. Tapi, bila dibiarkan berulang tanpa bimbingan, ia bisa membentuk persepsi keliru dalam diri remaja.
Bahaya Psikologis Dari Tontonan Yang Terbiasa
1. Siswa Laki-Laki Gemulai Saat Perpisahan Membentuk Skema Sosial Baru
Setiap manusia memiliki skema (pola berpikir) yang terbentuk dari pengalaman. Ketika anak terbiasa menyaksikan temannya bertingkah seperti perempuan dan mendapat tepuk tangan, ia menyimpan pesan bawah sadar: “Menjadi gemulai itu diterima.”
Apalagi di usia SMP dan SMA, anak-anak sedang mencari identitas. Psikolog Erik Erikson menyebut masa ini sebagai tahap “identity vs role confusion.” Bila tak ada arahan jelas, anak bisa mengalami krisis identitas.[1]
2. Pembiaran Bisa Menumpulkan Sensitivitas Moral
Seringkali, guru, wali kelas, bahkan kepala sekolah membiarkan ini karena tak ingin mengganggu suasana perpisahan. Namun, menurut Psikolog Klinis Roslina Verauli, bila penyimpangan perilaku dibiarkan berulang tanpa batas, moral siswa bisa tumpul dan menyimpang dianggap biasa.
3. Konflik Identitas Yang Berlarut
Banyak remaja akhirnya kesulitan membedakan antara “acting” dan “being”. Di awal mungkin hanya untuk seru-seruan. Tapi, bila terus menjadi bahan hiburan, bisa jadi ia merasa lebih diterima saat berperan feminin. Lama-lama, identitas laki-lakinya goyah.
Ini diperparah dengan konten media sosial yang membiarkan tren seperti itu menjadi viral tanpa sensor nilai.
Hiburan Sekolah Yang Tidak Mendidik
1. Siswa Laki-Laki Gemulai Saat Perpisahan Justru Mengaburkan Nilai Laki-Laki
Laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga (QS. An-Nisa: 34) mestinya sejak dini dibiasakan menjadi kuat dan tegas. Bukan keras, tapi mantap dalam memimpin. Acara sekolah seharusnya membentuk ketegasan itu, bukan malah memfemininkannya.
Para istri dan pasangan kelak tentu menginginkan sosok pria yang dapat memimpin, bukan yang terbiasa tampil lucu dengan gaya keperempuanan.
2. Peran Guru Dalam Menyusun Acara Penting
Sekolah wajib mengarahkan kegiatan perpisahan agar tetap mendidik. Hiburan tak dilarang, tetapi tidak boleh mengorbankan nilai identitas gender. Bila guru membiarkan, mereka turut andil dalam pembentukan karakter menyimpang.
Pendidikan Karakter Bukan Sebatas Kurikulum
Sekolah sering mengklaim mengusung pendidikan karakter, tapi dalam praktiknya justru mendukung acara yang membingungkan identitas anak. Terutama pada anak laki-laki, pendidikan karakter harus melatih ketegasan, tanggung jawab, dan kepemimpinan.
1. Siswa Laki-Laki Gemulai Saat Perpisahan Butuh Pendekatan Bukan Cemoohan
Mengkritik bukan berarti mencemooh. Justru kita harus memberikan pendekatan yang empatik. Anak perlu dijelaskan bahwa hiburan tetap bisa dilakukan tanpa harus meniru lawan jenis. Mereka bisa tampil lucu dengan tetap menjaga jati diri.
2. Melibatkan Orang Tua Dan Lingkungan
Sekolah tak bisa sendiri. Orang tua perlu paham bahwa setiap momen sekolah — termasuk perpisahan — adalah ajang pembentukan jati diri. Mereka harus aktif dalam membimbing dan mengevaluasi setiap acara yang diikuti anak.
Kesimpulan: Jangan Sepelekan “Lucu-Lucuan” Yang Membingungkan
Fenomena siswa laki-laki gemulai saat perpisahan tak boleh dianggap lucu semata. Dari sisi psikologis, ini bisa mengaburkan batas identitas gender yang sehat pada anak.
Jika dibiarkan, anak-anak bisa menganggap penyimpangan sebagai ekspresi yang sah. Padahal, tugas orang tua, guru, dan lingkungan adalah menjaga agar arah perkembangan psikologis anak tetap sehat dan proporsional.
Kita tidak anti hiburan, tapi kita peduli dengan masa depan anak-anak. Jangan sampai mereka kelak menjadi pribadi yang kehilangan arah hanya karena dibiarkan bermain peran yang salah.
Konusltasi dengan Ustad Khaerul Mu’min klik di sini
Catatan Kaki :
[1] Santrock, 2012, Adolescence, Jakarta, Erlangga, hlm. 145
[2] Verauli, 2019, Psikologi Anak dan Remaja, Jakarta, Gramedia, hlm. 118
