Umika Media – Krisis literasi di Indonesia menjadi perhatian serius, terutama karena dampaknya pada kualitas sumber daya manusia. Meski kurikulum sudah beberapa kali direvisi, hasil survei internasional seperti PISA menunjukkan kemampuan membaca siswa Indonesia masih rendah. Kondisi ini menyulitkan generasi muda untuk bersaing di era global.
Masalah literasi juga tampak dari rendahnya minat baca masyarakat. Perpustakaan yang sepi, buku yang hanya jadi pajangan, hingga data UNESCO yang menyebutkan hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang gemar membaca, menjadi bukti nyata. Maka, penting untuk memahami faktor mana yang paling dominan: salah kurikulum atau budaya baca?
1. Kurikulum Nasional: Terlalu Padat, Kurang Kontekstual
Masalah literasi seringkali berakar dari kurikulum yang belum sepenuhnya mendukung kebiasaan membaca. Kurikulum di Indonesia cenderung menekankan pada pencapaian target nilai dan hafalan, bukan pada kemampuan berpikir kritis dan pemahaman teks.
Guru pun dituntut menyelesaikan silabus dalam waktu sempit. Akibatnya, waktu untuk membiasakan membaca secara mendalam sangat minim. Materi yang seharusnya membangkitkan rasa ingin tahu justru menjadi beban kognitif yang membingungkan siswa.
Kurikulum ideal seharusnya bersifat tematik, mendorong eksplorasi, dan menumbuhkan literasi informasi. Seperti yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara, “Pendidikan harus sesuai kodrat anak.” Sayangnya, pendekatan ini belum merata di seluruh wilayah Indonesia. artikel lain bisa dibaca di sini.
2. Budaya Baca: Luntur oleh Gadget dan Konten Singkat
Selain kurikulum, krisis literasi di Indonesia juga dipengaruhi budaya baca yang belum mengakar. Perubahan gaya hidup digital membuat orang lebih memilih scrolling media sosial daripada membaca buku. Konten singkat seperti meme, video pendek, dan berita viral lebih menarik dibanding teks panjang.
Budaya keluarga yang tidak membiasakan anak membaca sejak dini juga berkontribusi besar. Banyak orang tua yang belum memahami pentingnya literasi dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak.
Dalam The Read-Aloud Handbook karya Jim Trelease, dijelaskan bahwa anak-anak yang rutin dibacakan buku oleh orang tuanya memiliki kosakata yang jauh lebih kaya dibanding anak-anak lain. Sayangnya, tradisi ini belum populer di Indonesia.[1]
3. Infrastruktur Literasi: Masih Terpusat di Kota
Masalah literasi tidak bisa dilepaskan dari akses terhadap bahan bacaan. Sayangnya, perpustakaan, toko buku, dan komunitas literasi lebih banyak berkembang di kota besar. Di daerah pelosok, jumlah buku masih terbatas dan sering tidak sesuai dengan kebutuhan lokal.
Laporan Badan Perpustakaan dan Arsip Nasional menunjukkan bahwa hanya 28% sekolah di Indonesia yang memiliki perpustakaan layak (BAPUSIP, 2023). Ini memperparah kesenjangan akses bacaan antara kota dan desa.
Oleh karena itu, membangun budaya baca harus dimulai dari pemerataan fasilitas. Buku harus lebih mudah dijangkau, murah, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.[2]
4. Peran Media dan Teknologi dalam Membentuk Literasi Baru
Kini, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca teks cetak, tapi juga memahami informasi digital. Literasi digital menjadi penting agar masyarakat bisa memilah informasi hoaks, berpikir kritis, dan menulis secara bertanggung jawab.
Sayangnya, digital literacy belum banyak masuk dalam kurikulum resmi. Banyak siswa mahir menggunakan gadget, tetapi tidak tahu cara membaca artikel akademik, menulis esai, atau menyampaikan argumen dengan data yang kuat.
Menurut riset dari Kominfo (2022), 60% pengguna internet di Indonesia belum memahami bagaimana memverifikasi informasi secara tepat. Ini menandakan krisis literasi di Indonesia semakin kompleks dan multidimensi.[3]
5. Jalan Keluar dari Krisis: Sinergi Kurikulum dan Budaya Baca
Mengatasi krisis literasi di Indonesia membutuhkan pendekatan holistik. Pemerintah, pendidik, orang tua, hingga media harus bekerja sama memperbaiki ekosistem literasi nasional.
Kurikulum harus lebih fleksibel dan berbasis literasi. Sementara itu, budaya baca harus dimulai dari rumah, diperkuat oleh sekolah, dan didukung oleh komunitas. Gerakan membaca harus dijadikan gaya hidup, bukan hanya program tahunan.
Program seperti Gerakan Literasi Nasional (GLN) perlu diperluas hingga ke desa-desa. Pelatihan guru dalam membuat reading corner, festival literasi, dan tantangan membaca juga perlu dikembangkan lebih serius.
Penutup: Saatnya Indonesia Bangkit dari Krisis Literasi
Krisis literasi di Indonesia bukan semata soal kurikulum, tapi juga budaya baca yang belum kuat. Keduanya saling memengaruhi dan membutuhkan pembenahan menyeluruh. Jika tidak ditangani secara serius, maka masalah literasi ini bisa menjadi hambatan utama dalam kemajuan bangsa.
Referensi:
[1] Trelease, Jim. (2013). The Read-Aloud Handbook. New York: Penguin Books, hlm. 55
[2] Badan Perpustakaan dan Arsip Nasional. (2023). Laporan Statistik Perpustakaan. Jakarta: BAPUSIP, hlm. 72
[3] Kominfo. (2022). Indeks Literasi Digital Indonesia 2022. Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika, hlm. 19
