Kisah Seorang Pasien yang Ingin Menyelamatkan Rumah Tangganya

Beberapa waktu lalu, saya kedatangan seorang pasien yang menemukan nomor saya di Google. Katanya, dia mengetik “terapis keluarga terdekat” dan muncullah kontak saya di sana. Awalnya kami hanya saling sapa lewat pesan singkat, hingga akhirnya ia memutuskan untuk datang langsung ke rumah saya untuk berkonsultasi.

Setelah duduk dan membuka diri, pasien ini bercerita panjang lebar. Saya hanya menjadi pendengar yang baik di awal, karena dari raut wajahnya terlihat dia membawa beban yang berat.

Ia sudah menikah selama lima tahun. Di awal-awal pernikahan, semua terlihat biasa saja. Tapi lama-kelamaan, ia merasa kurang diperhatikan oleh suaminya. Bukan hanya soal romantis, tapi hal-hal sederhana seperti, “Kamu lagi ngapain?” atau sekadar menanyakan kabar saat sakit pun tidak ada. Bahkan ketika ia sakit, suaminya tidak mau mengantar ke dokter.

Singkat cerita, datanglah sosok laki-laki lain. Di situlah hubungan jadi makin rumit. Saat ketahuan, suaminya marah. Tapi tidak lama kemudian, justru terbongkar bahwa suaminya sendiri sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan wanita lain. Bukti-buktinya pun ada, termasuk beberapa riwayat lokasi hotel di Google Maps yang sempat terekam.

Yang lebih menyakitkan, setelah ketahuan dan sempat minta maaf, suaminya berjanji ingin memulai semuanya dari nol. Tapi kenyataannya, setelah janji itu terucap, sikapnya tetap dingin. Saat pasien saya sakit, suaminya masih tidak peduli. Bahkan minta tolong diantar beli obat pun tidak direspons. Sementara di sisi lain, ia merasa harus melupakan pria selingkuhannya karena sadar bahwa hubungan itu tidak benar. Tapi ia juga ingin memperbaiki hubungan dengan suami, meski terasa begitu sulit.

Dari cerita panjang ini, saya mulai mengidentifikasi masalah yang terjadi. Awal mula semua ini adalah karena rumah tangga mereka tidak dibangun dengan dasar keimanan dan ilmu. Tidak ada pembekalan ruhani. Sehingga ketika masuk masa-masa jenuh di usia lima tahun pernikahan, bukannya saling menguatkan, mereka justru mencari pelarian ke orang lain. Istri yang kesepian, suami yang cuek, dan akhirnya muncul pihak ketiga dari kedua belah pihak.

Lalu saya sampaikan beberapa saran:

  1. Putuskan hubungan dengan laki-laki lain itu. Karena laki-laki itu hanya ingin memanfaatkan secara biologis saja. Dia masih lajang, dan melihat celah dari kondisi emosional pasien saya. Bahkan kalau sampai pasien ini cerai pun, belum tentu laki-laki itu akan serius. Bisa jadi ia hanya akan berpindah ke wanita lain untuk memuaskan nafsu sesaat.

  2. Ikhtiarkan untuk tetap melayani suami. Fokuskan memenuhi kebutuhan dari pinggang ke atas dulu: pastikan makanan tersedia saat jam makan tiba, layani dengan senyum dan perhatian. Kemudian, penuhi juga kebutuhan biologis suami, idealnya dua kali sehari jika memungkinkan. Pijat suami sepulang kerja, karena dari sentuhan itulah biasanya komunikasi dan kedekatan emosional mulai tumbuh kembali. Kalau setelah itu suami tetap cuek, silakan mulai proses pemisahan rumah selama 6 bulan sebagai bagian dari fase menuju perceraian. Tapi siapa tahu, dalam proses itu suami mulai tersentuh dan ingin rujuk. Kalau pun akhirnya resmi cerai, selama belum menikah lagi, masih terbuka kemungkinan rujuk kembali. Tapi saya tekankan, kalau pun rujuk, harus tetap berkonsultasi dengan saya agar suaminya tahu kewajibannya dan tidak mengulang luka yang sama.

  3. Terapi hati yang sudah saya ajarkan. Pasien saya sudah saya bimbing untuk membersihkan luka batin, menata emosi, dan kembali mengenali jati dirinya sebagai istri sekaligus hamba Allah.

Dari kisah ini, saya menyampaikan pesan penting:

  • Komunikasi itu adalah nyawa dari pernikahan, terutama saat masa jenuh datang.

  • Hindari kontak dengan orang ketiga, karena setan paling senang merusak keluarga.

  • Perdalam ilmu agama dan ilmu rumah tangga. Jangan hanya menikah karena cinta, tapi juga karena tanggung jawab dan pemahaman.

  • Dan yang paling penting: jangan malu untuk konsultasi pada ahlinya. Karena kadang, dengan bercerita saja, kita sudah mulai menyembuhkan diri.

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja yang sedang diuji dalam rumah tangga. Jangan menyerah, tapi juga jangan mengulang kesalahan yang sama.

More From Author

Bank Syariah Matahari Resmi Beroperasi, PP Muhammadiyah Ajak Warga Persyarikatan Dukung Penuh

Dari Dunia Gelap Menuju Cahaya Islam: Kisah Mengharukan Nuray Istiqbal

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories