UMIKA.ID, Karawang – Krisis kemanusiaan di Gaza kian mengkhawatirkan setelah badan pemantau pangan global, Integrated Food Security Phase Classification (IPC), menetapkan wilayah Gaza City dalam kondisi kelaparan (famine). Fakta memilukan ini menunjukkan bahwa rakyat Palestina kini bukan hanya menjadi korban bom dan peluru, tetapi juga senjata kelaparan yang digunakan secara sistematis oleh Zionis Israel.
Menyikapi situasi tersebut, pembina Yayasan UMIKA, Kang Adi Suryadi, memberikan pernyataan tegas. Ia menilai Israel tengah menggunakan kelaparan sebagai senjata genosida paling mematikan.
“Zionis Israel tengah melakukan genosida dengan senjata kelaparan sebagai senjata yang mematikan. Sungguh zhalim. Cara untuk menghentikan Israel yaitu dengan gerakan global internasional yang nyata, tidak hanya kecaman semata. Harus secepat mungkin gerakan internasional mengambil langkah nyata, karena Israel ini negara pelanggar hukum internasional,” ujar Kang Adi Suryadi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (23/8).
Kelaparan: Senjata Baru yang Membunuh Pelan-Pelan
Sejak berbulan-bulan lalu, Israel memberlakukan blokade total terhadap Gaza. Pasokan makanan, obat-obatan, hingga air bersih nyaris mustahil masuk ke wilayah tersebut. Gudang logistik, rumah sakit, hingga lahan pertanian menjadi sasaran serangan militer.
Situasi ini menyebabkan lebih dari 514.000 warga Gaza mengalami kelaparan akut. IPC bahkan memperingatkan jumlah itu bisa meningkat menjadi 641.000 jiwa pada akhir September 2025.
“Ini bukan lagi perang biasa. Ini adalah bentuk genosida modern. Membunuh manusia bukan dengan peluru, tapi dengan membiarkan mereka mati pelan-pelan karena kelaparan,” tegas Kang Adi.
Dunia Harus Bergerak, Bukan Hanya Mengecam
Kang Adi menekankan, kecaman dari dunia internasional tidak akan cukup. Menurutnya, diperlukan tindakan global yang nyata untuk menghentikan kekejaman Israel.
“Kecaman tanpa aksi nyata hanya akan membuat Israel semakin leluasa. Harus ada langkah global yang konkret—baik diplomasi internasional, embargo, maupun intervensi kemanusiaan—untuk menyelamatkan rakyat Palestina,” katanya.
Pernyataan ini senada dengan desakan PBB dan sejumlah negara besar agar Israel membuka akses penuh bantuan kemanusiaan. Namun, hingga kini, akses tersebut masih tertahan di perbatasan.
Ajakan Solidaritas Umat dan Bangsa
Dalam pesannya, Kang Adi juga menyerukan agar masyarakat Indonesia dan dunia internasional tidak tinggal diam. Ia mengajak seluruh umat manusia untuk bersatu dalam gerakan solidaritas nyata.
“Kita tidak boleh diam. Setiap butir nasi yang tidak sampai ke Gaza adalah peluru yang ditembakkan oleh kezaliman. Mari kita dukung Palestina dengan doa, dengan aksi nyata, dengan segala daya yang kita punya. Ini bukan sekadar isu politik, ini soal kemanusiaan dan keimanan,” ujarnya penuh emosi.
Penggugah Kesadaran
Kenyataan bahwa anak-anak di Gaza kini meregang nyawa bukan karena bom, melainkan karena lapar dan haus, seharusnya mengetuk hati nurani dunia.
- Bayi-bayi yang tubuhnya tinggal tulang menunggu seteguk susu.
- Anak-anak yang menangis bukan karena luka bom, tapi karena perut kosong.
- Ibu-ibu yang kehilangan daya untuk menyusui.
- Keluarga yang terpaksa memakan dedaunan untuk bertahan hidup.
Semua itu adalah potret genosida perlahan yang kini berlangsung di depan mata dunia.
Kesimpulan
Pernyataan tegas Kang Adi Suryadi menambah sorotan bahwa Israel kini bukan hanya pelaku perang, melainkan juga pelanggar hukum internasional dengan menjadikan kelaparan sebagai alat genosida.
Dunia dituntut untuk tidak lagi hanya memberi kecaman, melainkan segera melakukan tindakan nyata demi menyelamatkan Gaza. Karena jika dunia diam, maka sejarah akan mencatat bahwa peradaban abad ke-21 pernah membiarkan satu bangsa dibunuh dengan cara paling kejam: dibuat mati kelaparan.
Sumber: Reuters, Al Jazeera, The Guardian, IPC Report, pernyataan Kang Adi Suryadi
