UMIKA.ID, Doha, Qatar – Dunia internasional kembali diguncang oleh perkembangan mengejutkan dalam konflik Timur Tengah. Pada 9 September 2025, Israel melancarkan serangan udara di ibu kota Qatar, Doha, menargetkan sejumlah pimpinan politik Hamas yang tengah berada di negara itu untuk membicarakan proposal gencatan senjata Gaza.
Serangan ini bukan hanya memakan korban jiwa, tetapi juga membuka babak baru eskalasi konflik, karena untuk pertama kalinya Israel menyerang langsung ke wilayah Qatar—sebuah negara yang selama ini dikenal sebagai mediator penting dalam konflik Gaza.
Kronologi Serangan Udara di Doha
Serangan dilaporkan terjadi di kawasan Leqtaifiya, sebuah area elit di Doha yang berdekatan dengan kompleks perumahan mewah. Warga sekitar melaporkan suara ledakan keras disertai kepulan asap hitam pada sore hari.
Menurut laporan Associated Press (AP), setidaknya lima orang tewas, termasuk putra dari negosiator senior Hamas, Khalil al-Hayya, beserta sejumlah pengawal pribadi. Sementara itu, Reuters menyebut adanya “beberapa korban jiwa” namun belum merinci jumlah pasti.
Laporan lain menyebutkan bahwa korban mencapai enam orang, termasuk seorang pejabat keamanan Qatar. Beberapa pimpinan Hamas yang menjadi target utama dilaporkan selamat, meski identitas mereka belum sepenuhnya terungkap.
Serangan ini mengejutkan masyarakat Qatar, yang jarang sekali menghadapi serangan militer langsung di wilayahnya. Sebagai negara kaya energi dan tuan rumah berbagai pertemuan diplomasi internasional, Doha selama ini dianggap sebagai salah satu kota teraman di kawasan Teluk.
Reaksi Qatar: “Pelanggaran Kedaulatan yang Keji”
Pemerintah Qatar langsung bereaksi keras atas serangan Israel ini. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut serangan tersebut sebagai:
“Tindakan pengecut yang melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara, serta mengancam keamanan dan stabilitas kawasan.”
Qatar juga menegaskan akan membawa kasus ini ke Dewan Keamanan PBB dan menuntut Israel bertanggung jawab atas eskalasi berbahaya tersebut.
Selain itu, Doha memperingatkan bahwa langkah Israel ini bisa merusak upaya perdamaian yang selama ini dimediasi Qatar, termasuk negosiasi gencatan senjata di Gaza yang sedang berjalan.
PBB dan Dunia Internasional Mengecam
PBB
Sekretaris Jenderal António Guterres mengecam keras serangan Israel ke Qatar. Ia menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap integritas teritorial Qatar, dan menyerukan agar diplomasi ditempatkan di atas konfrontasi militer.
“Dunia tidak bisa terus menyaksikan eskalasi konflik tanpa batas. Serangan ke Qatar adalah langkah berbahaya yang mengancam proses perdamaian dan stabilitas global,” ujar Guterres.
Turki
Presiden Recep Tayyip Erdoğan termasuk salah satu yang paling keras mengecam. Ia menuduh Israel telah menjadikan terorisme sebagai kebijakan negara.
“Serangan ke Qatar adalah bukti bahwa Israel kini tidak hanya menyerang Palestina, tetapi juga negara berdaulat lain. Dunia harus bersatu menghentikan agresi ini,” tegas Erdoğan.
Inggris
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyampaikan kecaman. Ia menilai serangan Israel ke Doha sebagai ancaman langsung bagi stabilitas kawasan Timur Tengah, serta menekankan pentingnya menjaga jalur diplomasi.
Amerika Serikat
Mantan Presiden AS, Donald Trump, justru mengkritik langkah Israel. Menurutnya, operasi militer ini merugikan kepentingan Israel sendiri, sekaligus merusak hubungan dengan mitra strategis seperti Qatar dan Amerika Serikat.
Analisis Geopolitik: Dampak Besar Serangan Israel ke Qatar
1. Eskalasi ke Negara Teluk
Serangan ini menandai perluasan konflik dari Gaza dan Lebanon ke negara Teluk. Selama ini, Israel fokus pada operasi militer di sekitar wilayah Palestina dan negara tetangga. Dengan menyerang Qatar, Israel membuka babak baru yang bisa memicu ketidakstabilan lebih luas.
2. Posisi Qatar sebagai Mediator Terancam
Qatar selama ini menjadi tuan rumah perundingan antara Hamas, faksi Palestina lain, serta pihak internasional. Serangan Israel bisa membuat Hamas kehilangan rasa aman untuk bernegosiasi di Doha, sehingga memperlemah proses mediasi.
3. Reaksi Dunia Arab
Serangan ke Qatar kemungkinan akan memicu solidaritas negara-negara Arab dan Muslim. Liga Arab diperkirakan akan menggelar sidang darurat untuk merespons. Negara Teluk lain, seperti Arab Saudi, UEA, dan Kuwait, berada pada posisi sulit—antara mengecam Israel atau menjaga hubungan strategis dengan Barat.
4. Ancaman Perang Regional
Jika Qatar memutuskan untuk merespons dengan tindakan militer atau membatasi hubungan diplomatik, ketegangan bisa meningkat menjadi konflik regional. Hal ini akan memperumit peta politik dan keamanan di Timur Tengah.
Israel dan Strategi Militer Baru
Menurut analis, serangan ke Qatar mungkin merupakan bagian dari strategi Israel untuk menekan Hamas di luar Gaza. Dengan menghantam markas politik Hamas di luar negeri, Israel berusaha melemahkan struktur kepemimpinan organisasi itu.
Namun, langkah ini juga dinilai sebagai “perjudian besar” karena berisiko memicu krisis diplomatik dengan negara-negara Teluk yang selama ini relatif stabil hubungannya dengan Israel sejak normalisasi Abraham Accords.
Reaksi Masyarakat Global
Di media sosial, tagar #IsraelAttacksQatar dan #PrayForDoha menjadi trending global. Banyak warga dunia mengekspresikan keprihatinan, kecaman, sekaligus kekhawatiran bahwa serangan ini bisa memicu perang lebih luas di Timur Tengah.
Di Eropa, ribuan demonstran turun ke jalan di Brussels dan Madrid sebagai bentuk solidaritas dengan Qatar dan Palestina, sekaligus mengecam agresi Israel.
Apa Selanjutnya?
Pertanyaan terbesar pasca serangan ini adalah: bagaimana Qatar akan merespons?
- Apakah akan membalas secara militer?
- Atau akan menempuh jalur diplomasi melalui PBB dan organisasi internasional?
Banyak analis menilai, Qatar kemungkinan besar akan memilih jalur diplomasi, namun tidak menutup kemungkinan meningkatkan kerja sama keamanan dengan negara-negara sahabat seperti Turki dan Iran.
Kesimpulan
Serangan Israel ke Qatar pada 9 September 2025 bukan sekadar operasi militer biasa. Ia membuka front baru konflik Timur Tengah, mengguncang diplomasi internasional, dan mengancam stabilitas kawasan Teluk yang selama ini relatif aman.
Dengan meningkatnya kecaman dari dunia internasional, tekanan terhadap Israel untuk menghentikan agresi semakin besar. Namun, jika Israel terus melanjutkan strategi serangan lintas batas, dunia bisa menghadapi babak baru krisis yang lebih berbahaya di Timur Tengah.
