Fenomena Suami Lebih Baik kepada Orang Lain daripada Istri dan Anak: Sebuah Kritik Sosial Berbasis Sunnah

Fenomena sosial yang cukup memprihatinkan dewasa ini adalah kecenderungan sebagian suami untuk lebih berbuat baik kepada orang lain—rekan kerja, teman komunitas, bahkan orang asing—daripada kepada istri dan anak-anaknya sendiri. Sikap ini bertolak belakang dengan tuntunan Rasulullah ﷺ yang justru menekankan pentingnya memperlakukan keluarga inti dengan akhlak terbaik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi, no. 3895).

Dalam praktiknya, tidak jarang kita temukan suami yang bersikap lembut kepada tetangga namun berbicara kasar kepada istrinya, atau yang murah senyum di luar namun pemarah di rumah. Fenomena ini mencerminkan ketidakseimbangan dalam memahami prioritas kebaikan dalam Islam.

Al-Qur’an juga menekankan pentingnya menciptakan rumah tangga yang penuh kasih sayang:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat.” (QS. Ar-Rum: 21).

Kesalahan ini sering kali muncul akibat pemahaman yang keliru, bahwa kebaikan di luar rumah lebih bernilai daripada di dalam rumah. Padahal, kebaikan kepada istri dan anak adalah bentuk ibadah yang utama. Menurut Abdullah Nasih Ulwan, pendidikan karakter anak dan hubungan harmonis dengan istri adalah pondasi peradaban Islam [1].

Senada dengan itu, Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Awlawiyyat, menekankan pentingnya prioritas dalam berbuat baik, dan keluarga adalah yang utama [2]. Bahkan, Hasan al-Banna dalam Majmu’ah Rasail mengingatkan bahwa rumah tangga adalah ladang pertama dakwah seorang Muslim [3].

Sudah saatnya para suami meneladani akhlak Rasulullah ﷺ secara utuh, termasuk bagaimana beliau memperlakukan istri-istrinya dengan kasih, canda, dan penghormatan. Mengutamakan kebaikan kepada keluarga bukan hanya sunnah, tapi keharusan moral dalam Islam.

Daftar refrensi :
[1] Abdullah Nasih Ulwan, 2002, Tarbiyatul Aulad fil Islam (Beirut: Darussalam, hlm. 117
[2] Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Awlawiyyat (2001, Kairo: Maktabah Wahbah, hlm. 48)
[3] Hasan al-Banna, Majmu’ah Rasail,1998, Kairo: Dar al-Da’wah, hlm. 122

 

More From Author

Perjanjian Hudaibiyah: Titik Balik Kemenangan Islam

Segudang Manfaat Teh Hijau untuk Kesehatan

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories