Berkata Baik atau Diam dalam Islam: Panduan untuk Menghindari Ucapan yang Tidak Bermanfaat

UMIKA.ID,- Islam menekankan pentingnya menjaga lisan dan berkata baik. Dalam ajaran Islam, lisan adalah salah satu anggota tubuh yang paling harus dijaga, karena apa yang kita ucapkan dapat membawa kebaikan atau sebaliknya, mendatangkan dosa. Konsep “berkata baik atau diam” merupakan salah satu prinsip yang ditekankan dalam berbagai hadis dan ajaran ulama.

Dalil dari Al-Qur’an dan Hadis

Salah satu dalil yang menjadi landasan konsep ini adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa salah satu tanda keimanan seseorang adalah menjaga lisannya. Jika tidak ada kebaikan dalam ucapan yang akan diutarakan, lebih baik memilih untuk diam. Rasulullah ﷺ menekankan bahwa berkata baik adalah salah satu indikator dari keimanan yang kuat.[1]

Selain hadis tersebut, Al-Qur’an juga menyinggung pentingnya menjaga ucapan. Dalam Surat Al-Ahzab ayat 70, Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”

Ayat ini menegaskan pentingnya berkata benar dan baik, sebagai bagian dari ketakwaan kepada Allah. Ucapan yang baik bukan hanya ucapan yang tidak menyakitkan hati, tetapi juga ucapan yang membawa manfaat, menyebarkan kebaikan, atau sekadar menunjukkan akhlak yang mulia.[2]

Menghindari Ghibah dan Fitnah

Dalam Islam, menjaga lisan juga berarti menghindari ghibah (menggunjing) dan fitnah. Ghibah dilarang keras dalam Islam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hujurat ayat 12:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”

Ayat ini mengibaratkan ghibah seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati, suatu perbuatan yang sangat buruk dan tercela. Ghibah dapat menghancurkan persaudaraan dan menyebabkan permusuhan. Oleh karena itu, dalam Islam, diam adalah pilihan yang lebih baik daripada terlibat dalam pembicaraan yang merugikan orang lain.

Keutamaan Berbicara yang Baik

Berbicara yang baik adalah salah satu amalan yang memiliki banyak keutamaan dalam Islam. Ucapan yang baik bisa menjadi sarana dakwah, penyebaran ilmu, dan upaya mendamaikan perselisihan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kalimat yang baik adalah sedekah.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Ucapan yang baik diibaratkan sebagai sedekah, yang artinya setiap kata yang diucapkan dengan niat baik bisa menjadi pahala. Dengan berkata baik, kita tidak hanya menghindari dosa, tetapi juga mendapatkan ganjaran dari Allah SWT.[3]

Mengapa Diam Lebih Baik Ketika Ragu

Ada kalanya kita berada dalam situasi yang sulit, di mana kita merasa ragu apakah kata-kata kita akan membawa kebaikan atau justru menimbulkan masalah. Dalam keadaan seperti ini, Islam mengajarkan bahwa lebih baik untuk diam. Diam bukan berarti lemah atau tidak peduli, melainkan menunjukkan kedewasaan dan kehati-hatian dalam berbicara.

Seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

“Bukanlah kebaikan itu pada banyaknya berbicara, akan tetapi kebaikan itu pada banyaknya diam dan berpikir.”

Diam memberi kita waktu untuk merenung dan mempertimbangkan dampak dari kata-kata kita. Ini adalah bentuk kesabaran dan kebijaksanaan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Penutup

Konsep “berkata baik atau diam” adalah prinsip penting dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Dengan menjaga lisan, kita dapat menghindari dosa, mempererat persaudaraan, dan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Sebagai Muslim, kita harus selalu ingat bahwa setiap kata yang keluar dari mulut kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, mari kita berupaya untuk selalu berkata baik atau memilih untuk diam ketika ragu.

Wallahua’lam

[1] Sri Hariyati lestari and Muhammad Alwi HS, ‘KONTEKSTUALISASI HADIS “BERKATA BAIK ATAU DIAM” SEBAGAI LARANGAN HATE SPEECH DI MEDIA SOSIAL: Aplikasi Double Movement Fazlur Rahman’, Al-Bayan: Jurnal Ilmu Al Qur’an Dan Hadist, 3.2 (2020), 127.

[2] Luthviyah Romziana and Linda Fajarwati, ‘Kepemimpinan Dalam Tafsir Al-Mishbah’, Al-Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Hadist, 6.2 (2023), 191–209.

[3] Ach Puniman, ‘Keutamaan Menjaga Lisan Dalam Perspektif Hukum Islam’, Jurnal Yustitia Fakultas Hukum Universitas Madura Pamekasan, 19.2 (2018), 165–75 <https://core.ac.uk/download/pdf/196255896.pdf>.

***

Penulis
Artikel ditulis oleh Ustadz A Khaerul Mu’min, M.Pd. beliau juga Konsultan Keluarga, Kesehatan dan Karir, Dosen STEI Bina Cipta Madani Karawang serta Penulis Karya Ilmiah
Bagi yang mau konsultasi keluarga, kesehatan dan karir hubungi :
Laki-laki : +62857-1513-1978
Perempuan : +62855-1777-251

More From Author

Tanya Jawab UMIKA : Cara Memilih Pasangan Sebelum Menikah

Istri yang Dirindukan Syurga: Karakteristik Wanita Shalihah dalam Islam

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories