Oleh: Redaksi
NEWS.UMIKA.ID, Opini,- Ada satu istilah yang belakangan ramai diperbincangkan dan terdengar seperti lelucon, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang serius: Mahasiswa, Mahasisa, dan Mahasewa.
Tiga kata ini bukan istilah resmi dalam dunia akademik. Namun di balik permainan bahasa itu, tersimpan kritik yang cukup keras terhadap wajah pendidikan tinggi hari ini.
Mahasiswa—yang secara ideal dimaknai sebagai insan pembelajar, agen perubahan, dan calon pemimpin masa depan—perlahan mulai diberi label baru oleh masyarakat.
Bukan lagi sekadar pencari ilmu.
Tetapi menjadi generasi yang bertahan hidup.
Dari Mahasiswa Menjadi “Mahasisa”
Istilah Mahasisa lahir dari rasa frustrasi. Sebuah sindiran bahwa sebagian mahasiswa hari ini hanya menjadi “yang tersisa”.
Tersisa tenaganya setelah kuliah sambil bekerja.
Tersisa uang sakunya setelah membayar kos, makan, transportasi, kuota internet, buku, dan kebutuhan akademik.
Tersisa semangatnya setelah menghadapi tekanan ekonomi keluarga dan ketidakpastian masa depan.
Banyak anak muda masuk perguruan tinggi dengan mimpi besar. Namun di tengah perjalanan, sebagian harus mengurangi beban SKS, mengambil cuti, bahkan menghentikan pendidikan.
Bukan karena malas.
Tetapi karena keadaan.
Di banyak daerah, kuliah bukan lagi sekadar biaya pendidikan. Ada biaya hidup yang terus bergerak naik dan sering kali jauh lebih besar daripada uang kuliah itu sendiri.
Ketika Muncul Istilah “Mahasewa”
Jika Mahasisa adalah simbol bertahan, maka Mahasewa menjadi simbol kritik.
Istilah ini menggambarkan perasaan sebagian mahasiswa yang menganggap pendidikan tinggi semakin terasa seperti sistem yang mahal untuk dijangkau.
Mereka merasa seolah bukan sedang menikmati hak pendidikan, tetapi sedang menyewa kesempatan.
Biaya yang dirasakan tidak hanya datang dari UKT.
Ada kos, fotokopi, tugas lapangan, perangkat digital, praktik, organisasi, hingga biaya tidak terlihat yang terus menggerus kemampuan ekonomi keluarga.
Di kota-kota pendidikan, tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya:
- bekerja paruh waktu,
- menjadi pengemudi daring, berjualan,
- menjadi freelancer,
- atau hidup dengan pengeluaran sangat terbatas.
Bekerja sambil kuliah bukan sesuatu yang salah.
Tetapi pertanyaannya: apakah itu pilihan, atau keterpaksaan?
Pendidikan: Investasi atau Kemewahan?
Konstitusi menempatkan pendidikan sebagai hak warga negara.
Namun di lapangan, muncul pertanyaan yang mulai sering terdengar:
Apakah pendidikan tinggi masih menjadi tangga mobilitas sosial?
Atau perlahan berubah menjadi fasilitas yang lebih mudah dijangkau oleh mereka yang memiliki daya ekonomi?
Pertanyaan ini memang tidak bisa dijawab secara hitam putih.
Karena di sisi lain, negara dan banyak perguruan tinggi juga menyediakan berbagai jalur bantuan seperti beasiswa, bantuan UKT, dan dukungan pendidikan.
Tetapi fakta bahwa istilah seperti “Mahasewa” muncul dan menjadi viral menunjukkan satu hal:
Ada kegelisahan yang nyata.
Dan kegelisahan publik sering kali lahir lebih cepat daripada data statistik.
Negeri Ini Sedang Diuji
Negara tidak sedang kekurangan anak pintar.
Yang sering menjadi masalah adalah berapa banyak anak yang mampu bertahan sampai garis akhir.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang membuka pintu kampus.
Tetapi bangsa yang memastikan mahasiswa tidak berhenti di depan gerbang karena biaya.
Karena ketika anak muda mulai mengubah kata Mahasiswa menjadi Mahasewa, yang sedang dipertanyakan bukan semangat belajar mereka.
Melainkan: seberapa jauh pendidikan masih terasa sebagai hak, bukan beban.
—
Bagaimana menurut Anda? Apakah istilah Mahasiswa–Mahasisa–Mahasewa hanya satire media sosial, atau cermin nyata kondisi pendidikan hari ini?
