UMIKA.ID, GAZA UTARA, 10 Oktober 2025 — Setelah dua tahun perang tanpa henti, pemandangan haru mewarnai Jalur Gaza bagian utara. Ribuan warga yang sebelumnya mengungsi kini mulai kembali ke rumah mereka, menyusul pengumuman gencatan senjata bersejarah antara Hamas dan Israel. Namun di balik senyum dan air mata kebahagiaan itu, terselip duka mendalam bagi mereka yang tak sempat pulang selamanya.

Sejak pagi, jalanan utama Gaza Utara dipenuhi langkah-langkah penuh rindu. Anak-anak berjalan sambil membawa kantong kecil, orang tua menenteng barang seadanya, dan beberapa keluarga terlihat saling berpelukan di depan rumah yang kini hanya tersisa puing dan debu.
Mereka datang bukan hanya untuk mencari tempat berteduh, tetapi juga menemukan kembali sebagian dari kehidupan yang direnggut perang. “Meski rumah ini hancur, di sinilah hati kami berada,” ujar Um Khaled, seorang ibu tiga anak yang baru kembali dari kamp pengungsian di Deir al-Balah.

Banyak warga yang menyebarkan foto-foto dan video kepulangan mereka ke media sosial, memperlihatkan bagaimana kehidupan perlahan mencoba berdenyut kembali di antara bangunan yang runtuh dan jalanan yang hancur.
Di tengah kebahagiaan karena bisa kembali, banyak keluarga justru merasakan kehampaan yang tak terlukiskan. Mereka kehilangan orang-orang tercinta yang meninggal di pengungsian — sebagian karena serangan, sebagian lagi karena kelaparan dan kurangnya layanan medis selama blokade berlangsung.

“Hati ini hancur untuk mereka yang tak pernah mendapat kesempatan pulang,” ungkap seorang warga Gaza dalam pesan yang viral di platform X (Twitter).
Nama-nama korban kini diabadikan di dinding-dinding rumah yang roboh, ditulis dengan cat semprot dan air mata. Setiap rumah menjadi monumen kecil bagi mereka yang gugur tanpa sempat melihat tanah kelahirannya lagi.
Pulang ke reruntuhan bukan hanya soal mencari tempat tinggal, tapi juga tindakan simbolis perlawanan. Dengan kembali ke tanah mereka, rakyat Gaza menunjukkan kepada dunia bahwa mereka masih berdiri, masih hidup, dan menolak untuk dilenyapkan.

Beberapa keluarga bahkan mulai membersihkan reruntuhan, membangun tenda di atas bekas rumah, dan menyalakan api kecil untuk memasak. “Kami tidak punya apa-apa lagi,” kata Abu Hamza, seorang warga Beit Lahia, “tapi kami punya tanah ini — dan kami akan menjaganya.”
Perjanjian gencatan senjata yang diumumkan pada 9 Oktober 2025 menjadi titik balik bagi wilayah yang telah lama terjebak dalam penderitaan. Kesepakatan ini mencakup penghentian perang total di Jalur Gaza, penarikan pasukan pendudukan, masuknya bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tawanan.
Sejak pengumuman itu, konvoi Palang Merah dan truk bantuan mulai memasuki Gaza membawa pasokan makanan, air bersih, dan obat-obatan. Namun, jalan menuju pemulihan masih panjang — listrik belum pulih sepenuhnya, infrastruktur rusak berat, dan ribuan keluarga masih kehilangan tempat tinggal.
Aksi solidaritas terus mengalir dari berbagai negara. Di Mesir, bendera Mesir dan Palestina berkibar berdampingan di Sharm El-Sheikh sebagai simbol dukungan atas tercapainya perdamaian. Di berbagai kota besar dunia, warga turun ke jalan menggelar doa dan unjuk rasa mendukung kebebasan Palestina.
Sementara itu, lembaga kemanusiaan internasional menyerukan agar bantuan dan rekonstruksi Gaza segera dipercepat, mengingat kondisi yang sangat kritis dan potensi bencana kemanusiaan yang masih membayangi.
Bagi rakyat Gaza, gencatan senjata ini bukan akhir perjuangan, tetapi awal dari babak baru untuk bangkit dari kehancuran. Mereka tahu, jalan menuju perdamaian sejati masih panjang — tapi setiap langkah kecil menuju rumah adalah bentuk kemenangan tersendiri.
“Kami kehilangan segalanya, tapi kami tidak kehilangan harapan,” ucap seorang anak kecil sambil memungut batu bata dari reruntuhan rumahnya.
Dan di tengah debu, kesunyian, dan air mata, Gaza kembali bernapas — dengan luka, dengan cinta, dan dengan keyakinan bahwa suatu hari, mereka akan benar-benar pulang.
Editor: Adi Suryadi
Sumber: Laporan Lapangan & Rilis Media Palestina
Tanggal: 10 Oktober 2025 / 17 Rabiul Tsani 1447 H
