UMIKA.ID, Buletin — Unjuk rasa yang bergulir di berbagai daerah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menjadi bukti nyata bahwa rakyat sedang mengalami kekecewaan yang mendalam terhadap jalannya pemerintahan. Aspirasi yang mereka sampaikan sejatinya adalah hak konstitusional, sekaligus cermin kepedulian terhadap masa depan bangsa. Namun, sangat disayangkan, gelombang protes tersebut sering kali ternodai oleh tindakan yang justru merusak esensi perjuangan itu sendiri: kekerasan, penjarahan, dan perusakan fasilitas umum maupun pribadi.
Kita menyaksikan bagaimana rumah tokoh publik seperti Ahmad Sahroni, Eko Patrio, hingga Uya Kuya ikut menjadi sasaran amukan massa. Kejadian ini memperlihatkan bahwa kemarahan yang tidak terkendali bisa berubah menjadi tindakan destruktif. Alih-alih membawa perubahan, aksi tersebut justru memperpanjang luka, menimbulkan rasa takut, serta merugikan masyarakat luas.
Di tengah kondisi panas seperti ini, sudah saatnya kita bersama-sama menenangkan hati, mendinginkan kepala, dan berpikir positif. Mari kita gaungkan bersama #StopKekerasan, #StopPenjarahan, dan #JagaIndonesia. Sebab, dari sudut pandang Islam, penjarahan, perusakan, dan kekerasan bukanlah jalan yang diridhai Allah ﷻ, melainkan termasuk dosa besar yang harus dihindari.
Islam dan Larangan Kekerasan
Islam adalah agama yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Segala ajaran di dalamnya mengarah pada terciptanya kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan bagi manusia. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan larangan terhadap segala bentuk kekerasan dan kerusakan.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini secara tegas melarang perusakan, baik dalam bentuk merusak alam, fasilitas umum, maupun menciptakan kekacauan sosial. Kerusakan yang dilakukan dengan dalih apapun tidak akan pernah dibenarkan.
Lebih jauh lagi, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah yang membuat Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menekankan bahwa seorang Muslim sejati adalah orang yang mampu menjaga diri agar tidak menyakiti orang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatannya. Maka, menjarah, memukul, atau merusak sama sekali tidak mencerminkan akhlak seorang Muslim.
Penjarahan adalah Haram
Dalam syariat Islam, harta orang lain dijaga kehormatannya sebagaimana darah dan kehormatan. Rasulullah ﷺ menegaskan dalam khutbah wada’:
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram (tidak boleh dilanggar) sebagaimana sucinya hari ini, di bulan ini, dan di negeri ini.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengandung pesan yang sangat kuat: harta orang lain tidak boleh dirampas dengan alasan apa pun. Penjarahan termasuk perbuatan yang melanggar syariat, dan pelakunya berdosa besar. Bahkan dalam hukum Islam, mencuri atau merampas harta bisa dikenai hukuman hudud, menunjukkan betapa seriusnya larangan ini.
Aspirasi Boleh, Kekerasan Jangan
Hak menyampaikan pendapat dijamin oleh undang-undang dan dilindungi dalam Islam sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Namun, Islam memberikan tuntunan agar nasihat dan kritik disampaikan dengan cara yang penuh hikmah, bukan dengan tindakan destruktif.
Allah ﷻ berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Aspirasi rakyat harus disampaikan dengan santun, bijak, dan damai. Sebab, tujuan dari menyampaikan kritik adalah agar kebaikan ditegakkan, bukan malah menciptakan kerusakan baru. Jika unjuk rasa berubah menjadi ajang penjarahan, maka makna perjuangan akan hilang, dan yang tertinggal hanyalah luka serta kebencian.
Mengapa Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah?
- Merugikan orang yang tidak bersalah.
Rumah pribadi, toko rakyat kecil, bahkan kendaraan umum sering jadi korban amukan massa, padahal mereka bukan pihak yang diprotes. - Merusak citra perjuangan.
Aksi yang semula ingin menyuarakan keadilan malah dipandang sebagai kerusuhan. Suara rakyat jadi tidak terdengar karena tenggelam oleh berita perusakan. - Menambah masalah baru.
Selain menambah kerugian materi, kekerasan memicu konflik horizontal dan memperpanjang penderitaan masyarakat. - Bertentangan dengan nilai Islam.
Kekerasan adalah bentuk mengikuti hawa nafsu amarah, padahal Allah ﷻ memuji hamba-Nya yang mampu menahan marah.
Menahan Amarah: Jalan Keselamatan
Allah ﷻ berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali Imran: 134)
Ayat ini menjadi kunci utama dalam menghadapi kondisi sosial yang panas. Menahan amarah bukan berarti diam terhadap ketidakadilan, tetapi mengendalikan diri agar tidak terjerumus pada tindakan yang lebih buruk. Kritik tetap boleh, aspirasi tetap sah, tetapi semua harus dalam koridor kedamaian.
Mari Jaga Indonesia Bersama
Indonesia adalah tanah air kita bersama. Negeri yang Allah titipkan kepada kita untuk dijaga, bukan untuk dihancurkan. Jika kita biarkan amarah menguasai, maka yang hancur bukan hanya rumah atau fasilitas, tetapi juga persaudaraan, persatuan, dan masa depan anak cucu kita.
Karenanya, mari kita satukan suara untuk:
✨ #StopKekerasan
✨ #StopPenjarahan
✨ #JagaIndonesia
Dengan mengedepankan nilai-nilai Islam yang penuh kasih sayang, kita bisa menyampaikan kritik tanpa merusak. Kita bisa menyalurkan aspirasi tanpa melukai. Dan kita bisa menjaga persatuan tanpa harus mengorbankan kedamaian.
Penutup
Perubahan sejati tidak akan lahir dari amarah dan kekerasan, tetapi dari kesabaran, doa, dan ikhtiar yang bijak. Islam mengajarkan umatnya untuk menegakkan keadilan dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang menyalahi syariat.
Mari kita ingat kembali pesan Rasulullah ﷺ:
“Seorang Muslim sejati adalah yang membuat Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”
Semoga dengan menahan amarah, menghindari penjarahan, serta menolak kekerasan, kita dapat menjaga Indonesia agar tetap damai, adil, dan penuh keberkahan.
Akhirnya, mari kita renungkan:
Apakah kita ingin dikenang sebagai generasi perusak, atau sebagai generasi penjaga yang menebar kebaikan? Pilihan ada di tangan kita.
Doa Memohon Kedamaian dan Dijauhkan dari Kekerasan
Di tengah kondisi bangsa yang penuh ujian, mari kita panjatkan doa kepada Allah ﷻ agar negeri ini dijauhkan dari kekerasan, kerusuhan, dan penjarahan. Semoga diganti dengan kedamaian, persatuan, dan keberkahan.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَأَعِذْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِلْحَقِّ وَالْعَدْلِ، وَاجْمَعْ كَلِمَةَ شَعْبِنَا عَلَى الْخَيْرِ وَالْوَحْدَةِ
Allāhummaj‘al baladanā baladan āminan muthma‘innan, wa a‘idznā minal-fitan mā zhahara minhā wa mā bathan, wa waffiq wulāta umūrinā lil-haqqi wal-‘adli, wajma‘ kalimata sya‘binā ‘alal-khairi wal-wahdah.
“Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman dan tenteram. Lindungilah kami dari segala fitnah yang tampak maupun tersembunyi. Tuntunlah para pemimpin kami kepada kebenaran dan keadilan. Satukanlah hati rakyat kami dalam kebaikan dan persatuan.”
