Teheran Sebut Ini Sebagai Kemenangan Strategis atas Israel
UMIKA.ID, Teheran,- Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (Supreme National Security Council) secara resmi mengakui dan menerima kesepakatan gencatan senjata dengan Israel. Keputusan ini diumumkan pada Selasa (24/6/25), menyusul serangkaian eskalasi militer yang berlangsung selama berminggu-minggu di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resminya, otoritas tinggi Iran menyebut langkah gencatan senjata sebagai “kemenangan strategis” atas apa yang mereka sebut sebagai “agresi Zionis.” Iran menegaskan bahwa gencatan senjata ini bukanlah bentuk kelemahan, melainkan hasil dari tekanan dan perlawanan yang memaksa Israel menghentikan serangan.
Gencatan Senjata Bertahap
Menurut keterangan pejabat senior di Teheran, kesepakatan ini bersifat bertahap. Iran memulai penghentian operasi militernya secara sepihak pada pukul 04.00 GMT, Selasa (24/6/25), sementara pihak Israel dijadwalkan mengikuti dalam rentang 12 jam kemudian. Gencatan senjata penuh diharapkan terealisasi dalam 24 jam setelah dimulainya proses penghentian.
“Ini bukan gencatan senjata tanpa syarat. Kami siap bertindak kembali jika pihak lawan melanggar,” ujar seorang juru bicara Dewan Keamanan Iran melalui televisi pemerintah.
Ketegangan Sebelumnya
Sebelum tercapainya kesepakatan, Iran dan Israel terlibat dalam konflik intensif yang melibatkan serangan rudal dan drone. Iran, melalui Garda Revolusi Islam (IRGC), menargetkan beberapa instalasi strategis di Israel sebagai balasan atas dugaan serangan terhadap fasilitas nuklirnya.
Menlu Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataan beberapa hari sebelumnya, menyebut bahwa tidak ada ruang untuk negosiasi damai selama Israel masih melanjutkan agresi militer. Namun, pergeseran sikap mulai terlihat setelah tekanan diplomatik dari negara-negara sekutu Iran, termasuk China dan Rusia.
Reaksi Internasional
Berita tentang diterimanya kesepakatan gencatan senjata oleh Iran disambut positif oleh sejumlah negara besar. Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengapresiasi langkah ini sebagai pintu masuk menuju stabilitas regional, meskipun banyak pihak tetap memperingatkan bahwa situasinya masih rapuh dan dapat berubah sewaktu-waktu.
“Ini adalah perkembangan yang menggembirakan, tetapi kami tetap mewaspadai potensi pelanggaran dari kedua belah pihak,” ujar juru bicara Sekretaris Jenderal PBB dalam keterangan pers di New York.
Posisi Iran Tetap Tegas
Meski telah menerima kesepakatan gencatan senjata, Iran tetap menyuarakan peringatan keras. Dalam pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional, disebutkan bahwa pihaknya “tidak akan ragu untuk membalas jika ada provokasi lanjutan dari Israel.”
Iran juga menekankan bahwa gencatan senjata ini harus dihormati secara menyeluruh, bukan hanya sebagai jeda sementara untuk menyusun strategi ulang. “Kami bukan pihak yang mencari perang, tetapi kami juga tidak akan tunduk pada agresi,” tambah juru bicara tersebut.
Analisis: Damai yang Rapuh?
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Tehran, Dr. Mahdi Khosravi, menyebut kesepakatan ini sebagai bentuk kompromi yang lebih bersifat teknis daripada ideologis. “Iran melihat ini sebagai pencapaian politik, tetapi akar masalahnya belum selesai. Selama tidak ada penyelesaian menyeluruh terhadap isu Palestina, stabilitas akan terus terganggu,” ujarnya dalam wawancara dengan IRIB News.
Sementara itu, analis politik dari Jerusalem Institute, David Goldstein, menyebut gencatan senjata ini sebagai bentuk jeda sementara yang dibutuhkan kedua belah pihak untuk menilai kembali posisi mereka. “Ini lebih ke strategi militer ketimbang kesepakatan damai,” katanya.
Kesimpulan
Iran akhirnya mengakui dan menerima kesepakatan gencatan senjata dengan Israel melalui Dewan Keamanan Nasional Tertingginya. Proses ini terjadi secara bertahap dan diwarnai ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Dunia internasional menyambut positif, namun situasi masih dinilai rapuh. Iran menegaskan, gencatan senjata hanya akan dipertahankan jika Israel tidak melanggar.
Editor: Adi Suryadi
UMIKA Media Network
Hak Cipta © 2025
