NPD dalam Sorotan Islam: Waspadai Bahaya Sifat Narsistik yang Menggerogoti Hati

Islam telah memperingatkan bahaya kesombongan dan ujub jauh sebelum psikologi modern mengenal istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD).

UMIKA.ID, Jakarta – Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik kini semakin banyak dibahas dalam dunia psikologi dan kesehatan mental. Namun menariknya, sifat-sifat dalam NPD telah lama mendapat perhatian serius dalam ajaran Islam. Bahkan, Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan peringatan keras terhadap karakteristik NPD seperti sombong, merasa diri paling hebat, hingga haus pujian.

Dalam dunia medis, NPD didefinisikan sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa keagungan yang berlebihan terhadap diri sendiri (grandiosity), kebutuhan terus-menerus akan kekaguman, serta kurangnya empati terhadap orang lain. Individu dengan NPD sering kali merasa lebih penting daripada orang lain, sulit menerima kritik, dan rela memanipulasi orang demi kepentingan pribadi.

Namun bagaimana Islam memandang sifat-sifat ini?

Islam Mengecam Kesombongan dan Ujub

Dalam Islam, sikap seperti sombong, merasa diri lebih tinggi dari orang lain, dan pamer adalah bagian dari penyakit hati yang sangat berbahaya. Islam tidak mengenal istilah medis seperti NPD, tetapi gejala-gejalanya sangat sejalan dengan yang dikategorikan sebagai takabbur, ujub, dan riya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji zarrah.”
(HR. Muslim)

Kesombongan adalah akar dari banyak kerusakan jiwa. Seseorang yang merasa dirinya paling unggul dan tidak mau menerima kebenaran karena datang dari orang lain, termasuk dalam kelompok yang dikecam oleh agama.

Cermin dari Kisah Qarun

Sikap merasa hebat yang mengarah pada ujub juga tercermin dalam kisah Qarun yang termaktub dalam Al-Qur’an. Qarun menolak bahwa kekayaannya adalah pemberian Allah, melainkan mengklaim sebagai hasil usahanya sendiri.

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

“Qarun berkata: Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash: 78)

Pernyataan tersebut adalah contoh nyata dari mentalitas narsistik yang menolak peran Allah dalam kehidupan manusia, dan justru mengagungkan kemampuan pribadi secara berlebihan.

Riya: Menipu dengan Amal

Salah satu ciri NPD adalah keinginan untuk terus-menerus dikagumi dan diakui. Dalam Islam, perilaku ini dikenal dengan istilah riya, yaitu berbuat kebaikan demi pujian manusia, bukan karena Allah.

إِنَّمَا نَحْنُ نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ ۖ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharap wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”
(QS. Al-Insan: 9)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ”، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “الرِّيَاءُ”

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.”
(HR. Ahmad)

NPD dan Beban Dosa dalam Islam

Lalu, apakah seseorang yang mengalami NPD berdosa menurut Islam?

Jawabannya tergantung. Jika sifat-sifat narsistik seperti sombong dan riya dilakukan dengan sadar dan menjadi bagian dari karakter sehari-hari tanpa upaya memperbaikinya, maka jelas tergolong dalam dosa besar.

Namun jika seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik secara klinis, sebagaimana dijelaskan dalam ilmu psikologi, maka diperlukan pendekatan medis dan spiritual secara bersamaan. Dalam kondisi ini, beban dosa tidak serta-merta dibebankan sepenuhnya, karena terdapat unsur ketidaksadaran atau hilangnya kendali diri.

Solusi Islamik Mengatasi Gejala NPD

Islam menawarkan terapi hati yang mendalam dan sejalan dengan prinsip psikoterapi modern. Beberapa langkah yang disarankan ulama dan para ahli tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) antara lain:

1. Meningkatkan Tawadhu’ (Rendah Hati)

Rasulullah ﷺ, meskipun menjadi manusia paling mulia, tetap hidup sederhana dan rendah hati. Ini menjadi contoh konkret bagi siapa pun agar tidak terjebak dalam narsisme.

2. Bersyukur dan Menyadari Keterbatasan Diri

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).”
(QS. An-Nahl: 53)

Menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah akan menurunkan ego dan membentuk pribadi yang berserah, bukan menyombongkan diri.

3. Bergaul dengan Orang Shalih

Lingkungan yang baik akan menjadi cermin untuk introspeksi. Orang-orang shaleh akan menasihati dan menuntun agar tidak terjebak dalam perilaku narsistik.

4. Rajin Muhasabah dan Zikir

Salah satu zikir yang dianjurkan untuk mengobati hati dari penyakit ujub dan takabbur adalah:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْعُجْبِ

“Ya Allah, bersihkan hatiku dari riya, takabbur, dan ujub.”

Islam dan Kesehatan Mental: Perlu Pendekatan Komprehensif

Islam sangat menghargai kesehatan jiwa. Maka, bila seseorang mengalami gangguan seperti NPD, Islam tidak mengabaikan aspek medis. Bahkan, pengobatan kejiwaan dipandang sebagai bagian dari ikhtiar yang disyariatkan.

Seorang penderita NPD sebaiknya menggabungkan terapi medis seperti konseling psikologis dengan terapi spiritual seperti memperbanyak zikir, mendalami tafsir Al-Qur’an, dan membangun hubungan yang tulus dengan sesama.

Penutup: Kembali pada Fitrah dan Keseimbangan

Sifat narsistik bisa menjauhkan manusia dari fitrah kehambaan. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk lemah yang harus selalu bergantung kepada Allah, bukan merasa dirinya sempurna dan berkuasa penuh.

Maka dari itu, penting bagi setiap muslim untuk menanamkan nilai-nilai seperti:

  • Tawadhu’ dalam bersikap
  • Ikhlas dalam beramal
  • Syukur atas nikmat Allah
  • Rendah hati di hadapan sesama

“Siapa yang merendahkan dirinya karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)


Reporter: Redaksi
Editor: Adi Suryadi

More From Author

Ketika NPD Melekat pada Penguasa: Bahaya Nyata Bagi Umat

Kenali Gejala-Gejala NPD: Ketika Rasa Percaya Diri Berubah Jadi Gangguan Kepribadian

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories