Ketika NPD Melekat pada Penguasa: Bahaya Nyata Bagi Umat

Narsisme bukan sekadar masalah pribadi. Dalam kepemimpinan, ia bisa jadi bencana sistemik.

UMIKA.ID, Opini,– Salah satu topik psikologi yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini adalah Narcissistic Personality Disorder (NPD)—gangguan kepribadian narsistik. Media sosial dipenuhi konten yang menjelaskan gejalanya: manipulatif, haus pujian, selalu ingin dikagumi, merasa paling benar, minim empati, dan cenderung menindas orang di sekitarnya.

 

Masyarakat pun mulai bertanya-tanya:

“Jangan-jangan aku NPD?”

“Apakah pasangan, atasan, atau orang tua saya termasuk?”

Kesadaran ini tentu baik. Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan:

“Bagaimana jika gangguan narsistik ini justru melekat pada seorang pemimpin atau penguasa?”

 

Bukan Lagi Masalah Personal, Tapi Masalah Sistemik

Ketika seorang penguasa memiliki karakteristik NPD, bahaya yang ditimbulkan jauh melampaui relasi pribadi. Ini adalah ancaman sistemik. Seorang pemimpin dengan kepribadian narsistik tidak akan bisa dikritik, karena ia merasa dirinya paling benar. Ia akan membungkam siapa saja yang dianggap merusak citra atau mengancam kekuasaannya. Kritik dianggap serangan. Ketidaksetujuan dianggap pengkhianatan.

Dalam kondisi seperti ini, kekuasaan bukan lagi alat untuk mengurus rakyat—melainkan cermin untuk memuaskan ego. Kepemimpinan berubah menjadi ajang pencitraan, bukan pelayanan.

 

Firaun: Potret Narsisme dalam Kekuasaan

Sejarah telah memberi kita contoh nyata pemimpin dengan gejala NPD: Firaun.

Ia mengaku sebagai tuhan:

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi!”

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ ٱلْأَعْلَىٰ

(QS. An-Nazi’at: 24)

Firaun menolak kebenaran karena tidak sesuai dengan keinginannya. Ia menindas rakyatnya, membunuh anak laki-laki Bani Israil, dan hanya mengelilingi dirinya dengan para penjilat. Inilah puncak narsisme dalam kepemimpinan—menganggap diri suci, menyucikan kekuasaan, dan menolak kritik dengan kekerasan.

 

Pemimpin Narsistik di Era Sekuler

Sayangnya, karakter kepemimpinan seperti ini tidak berhenti pada Firaun. Di zaman modern, sistem sekuler justru membuka peluang besar bagi individu narsistik untuk naik ke tampuk kekuasaan. Sistem ini tidak mensyaratkan ketakwaan, keadilan, atau keilmuan dalam kepemimpinan—yang penting adalah elektabilitas, pencitraan, dan kekuatan modal.

Akibatnya, tak jarang kita menyaksikan pemimpin yang sangat aktif tampil di media, tapi sulit mendengar suara rakyat. Mereka gemar dipuji, tapi alergi pada kritik. Mereka menyukai kekuasaan, tapi tak paham amanah.

  • Islam Membedakan Kepemimpinan dan Pemuasan Ego
  • Berbeda dengan sistem sekuler, Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah, bukan alat mengagungkan diri.
  • Seorang pemimpin dalam Islam harus memiliki syarat:
  • Adil dan bertakwaFaqih (memahami hukum syariat)

Sadar bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh rakyat, tapi oleh Allah Ta’ala

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Islam, seorang pemimpin bukan sosok sakral yang tak bisa disentuh. Bila ia menyimpang, umat berhak—bahkan wajib—mengoreksinya.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

“Sebaik-baik jihad adalah berkata benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud)

Mekanisme Islam: Cegah dan Koreksi Penguasa

Sistem Islam memiliki kontrol internal dan eksternal dalam kepemimpinan:

Mahkamah Madzalim: Lembaga peradilan khusus untuk mengadili pemimpin zalim.

Qadhi Mazhalim: Hakim independen yang bisa mengadili pejabat negara.

 

Umat: Memiliki hak untuk menasihati, mengoreksi, bahkan mencopot pemimpin jika ia berkhianat.

Contoh nyata dari sistem ini adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ketika ia berkhutbah dengan mengenakan jubah baru, seorang rakyat menyela dan bertanya, “Dari mana engkau mendapat dua helai kain sementara kami hanya satu?” Umar tidak marah. Ia menjawab dengan jujur—bahwa kain itu tambahan dari anaknya. Pemimpin dalam Islam tidak anti kritik. Ia menjawab, bukan menindas.

 

Kita Butuh Sistem, Bukan Sekadar Sosok

Maka jika hari ini kita mulai menyadari bahaya NPD secara personal, jangan berhenti di situ. Kita butuh solusi sistemik. Kita butuh sistem yang mencegah penguasa narsistik naik ke tampuk kepemimpinan.

 

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا

(QS. An-Nisa: 58)

Islam bukan hanya agama pribadi. Ia adalah sistem kehidupan yang menyeluruh—termasuk dalam bidang kepemimpinan. Dalam sistem Islam, pemimpin bukan pusat pujian, tapi pelayan umat yang takut kepada Tuhannya.

Ingin mempublikasikan ini dalam bentuk buletin, leaflet, atau infografis carousel? Saya siap bantu desain siap cetak dan digital. Tinggal beri tahu formatnya.

 

 

 

 

More From Author

Inn syaaAlloh UMIKA Kembali Gelar MBBY Session 6: “Muharram Penuh Cinta, Bersama Merangkul Kebahagiaan”

NPD dalam Sorotan Islam: Waspadai Bahaya Sifat Narsistik yang Menggerogoti Hati

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories