وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْࣖ ٨
Surat Al-Insyirah, dikenal sebagai Surat Alam Nasyrah, merupakan surat ke-94 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari delapan ayat. Surat ini diturunkan di Mekah dan berfungsi sebagai penghibur bagi Nabi Muhammad SAW, mengingatkan beliau akan nikmat-nikmat Allah serta memberikan motivasi untuk terus beribadah dan berharap hanya kepada-Nya.
Tafsir Surat Al-Insyirah : 8
Ayat kedelapan dari surat ini berbunyi: “وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ” (Wa ilā rabbika farghab), yang artinya: “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
Menurut Tafsir Al-Mukhtashar, ayat ini mengarahkan agar seseorang menjadikan keinginan dan tujuannya hanya kepada Allah semata.
Hal ini menekankan pentingnya ikhlas dalam beribadah dan tidak mengharapkan imbalan dari makhluk lain.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setelah menyelesaikan urusan dunia, seorang mukmin dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah dan berdoa, serta membesarkan harapan kepada Allah agar doa dikabulkan.
Ini menunjukkan bahwa setelah menyelesaikan satu tugas, hendaknya kita segera beralih kepada ibadah dan selalu berharap kepada Allah.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ayat ini mengajarkan umat Islam untuk selalu mengarahkan harapan dan keinginan hanya kepada Allah. Setelah menyelesaikan suatu pekerjaan atau urusan, dianjurkan untuk segera beribadah dan berdoa kepada Allah, menunjukkan ketergantungan penuh kepada-Nya. Hal ini juga mengajarkan bahwa segala bentuk harapan dan permohonan hendaknya ditujukan hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.
Selain itu, ayat ini mengingatkan bahwa setelah menyelesaikan suatu urusan, janganlah terlena atau berpaling dari Allah. Sebaliknya, segera kembali kepada-Nya dengan beribadah dan berdoa, menunjukkan bahwa hati seorang mukmin selalu terikat dengan Tuhannya dalam segala situasi.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dengan hina. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” Hadits ini menegaskan pentingnya mengarahkan harapan dan tujuan hanya kepada Allah dan kehidupan akhirat.
Dengan demikian, Surat Al-Insyirah ayat 8 mengajarkan umat Islam untuk selalu berharap dan bergantung hanya kepada Allah setelah menyelesaikan setiap urusan, serta menjadikan ibadah sebagai prioritas utama dalam kehidupan. Hal ini akan membawa ketenangan hati dan kemudahan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Jangan Berharap Kepada Manusia Menurut Ali Bin Abu Thalib
Ali bin Abu Thalib, khalifah keempat sekaligus salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, pernah berkata, “Jangan berharap kepada manusia, karena mereka hanya makhluk yang lemah. Letakkan harapanmu hanya kepada Allah SWT yang Maha Kuat.” Ucapan ini mengandung hikmah mendalam yang relevan sepanjang masa, mengingat sifat manusia yang serba terbatas.
Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman, “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati” (QS. Al-Furqan: 58). Ayat ini menegaskan pentingnya menggantungkan harapan hanya kepada Allah, bukan kepada manusia yang memiliki keterbatasan. Manusia sering kali mengecewakan, baik karena kesalahan yang disengaja maupun karena ketidaksanggupan memenuhi ekspektasi.
Rasulullah SAW juga bersabda, “Barang siapa yang ingin menjadi orang yang paling kaya, maka hendaklah ia lebih percaya kepada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangan manusia.” (HR. Ahmad). Hadis ini menekankan bahwa kebergantungan kepada Allah mendatangkan ketenangan hati dan rasa cukup.
Buku-buku ulama seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali juga menggarisbawahi hal ini. Menurut Al-Ghazali, berharap kepada manusia sering kali membawa kekecewaan, sementara berharap kepada Allah selalu memberi harapan yang pasti.
Dengan memahami ini, umat Islam diajak untuk memperkuat hubungan dengan Allah melalui doa, tawakal, dan ikhtiar. Sikap ini tidak hanya meningkatkan keimanan tetapi juga melahirkan ketenangan batin.
Refrensi:
- Al-Quran Surah Al-Furqan: 58
- Hadis Riwayat Ahmad
- Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin
