Perjuangan dari Palestina ke Indonesia demi Bisa Kuliah, Ingin Jadi Dokter di G4za

Langit Gaza selalu memiliki dua warna, biru jernih atau merah membara. Tak ada abu-abu. Tak ada pilihan tengah. Begitu pula hidup Samaa M.A. Alkafarna (21) yang terus bergerak di antara harapan dan ketakutan.

Dentuman bom sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Samaa. Desiran peluru yang berterbangan, seolah hembusan angin yang bisa datang kapan saja, membentuk latar kehidupan yang penuh ketegangan.
Namun, di tengah kegelapan perang yang mengoyak Gaza, Samaa tetap memupuk harapan yang tak kunjung padam. Yakni harapan untuk membangun kembali tanah kelahirannya melalui pendidikan. Meski harus meninggalkan keluarga dan berkelana jauh ke negeri orang, yaitu Indonesia.

“Pendidikan itu sangat berarti. Bagi saya dan keluarga, ia menduduki tempat yang paling mulia dalam hati. Setiap jiwa Palestina yang merantau di negeri orang, sejatinya memiliki satu tujuan, yaitu menuntaskan ilmu untuk kembali menghidupkan Gaza. Kami, yang masih muda, memandang masa depan dengan penuh harapan, percaya bahwa dengan pengetahuan yang kami raih, kami dapat menata kembali Gaza,” kata Samaa saat ditemui Kompas.com, Kamis (24/04/25).

“Semua orang Palestina yang tinggal di negara lain sebenarnya ingin menyelesaikan studi mereka dan kembali untuk membangun Gaza lagi. Karena kami semua masih muda, jadi kami harus bisa membangun Gaza kembali,” imbuhnya.

Perjuangan keluar dari Gaza
Keputusan untuk meninggalkan Gaza memang tidak mudah. Tanah itu, meski berlumuran darah, bagi Samaa tetaplah rumah. Di sana tersimpan kenangan, tersimpan cerita, dan tertanam akar kehidupan.

“Setelah kami kehilangan dua sepupu, kakek, dan teman-teman kami, ayah saya bilang bahwa kami harus keluar dari Gaza karena dia tidak ingin kehilangan siapa pun dari anak-anaknya,” ujar Samaa mengenang kata-kata yang memaksa mereka untuk meninggalkan segalanya dan mencari harapan di tempat yang tak dikenal.
Untuk keluar dari Gaza, ada harga yang harus dibayar, dan itu bukan soal uang.

Selama sebulan penuh, jelas Samaa, ia dan sepupunya tinggal di Deir-al-balah, di tengah Gaza, menunggu waktu untuk bergerak menuju perbatasan Rafah yang berada di selatan.

Dari Deir-al-balah menuju Rafah, keluarga Samaa harus melewati Khan Younis, wilayah yang saat itu menjadi zona tempur yang berbahaya karena tentara penjajah masih ada di sana.

Perjalanan mereka bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga pengalaman yang menorehkan luka dalam ingatan dan hati mereka. Di Khan Younis, lanjut Samaa, mereka menyaksikan kengerian perang dengan mata kepala sendiri.

“Di sana ada lima mobil, dan salah satu mobil di antara lima tersebut hancur karena dibom. Ada orang di dalam mobil tersebut juga. Kami langsung keluar dari mobil karena ada pengeboman dari udara di sana,” cerita Samaa dengan suara bergetar.

Setelah dihujani bom selama satu jam, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Rafah. Ketika akhirnya sampai di perbatasan, Samaa mengira mereka telah menemukan keamanan. Namun, mereka belum sepenuhnya aman, karena bahkan setelah keluar dari neraka pun, ancaman masih mengintai Samaa dan keluarganya.

“Tepat setelah kami melewati perbatasan, bom kembali dijatuhkan. Mereka mengebom pintu di bagian luar dari perbatasan Rafah,” kata dia

Sayangnya, ayah Samaa, yang telah berjuang keras untuk menyelamatkan keluarganya, justru tertinggal di Gaza.

“Waktu itu ayah saya masih berada di bagian luar dan belum masuk ke perbatasan yang berada di Mesir. Ia masih berada di Gaza sampai sekarang,” ujar Samaa dengan mata yang berkaca-kaca namun enggan meneteskan air mata.

Sementara itu, Samaa bersama ibu dan saudara-saudaranya sudah berada di sisi Mesir, mereka melanjutkan proses pemeriksaan yang memakan waktu 12 jam. Total 16 jam mereka habiskan di perbatasan Rafah, dengan 4 jam di sisi Gaza dan 12 jam di sisi Mesir.

Perjalanan berlanjut dari Rafah ke Al-Arish, Mesir, dan memakan waktu sekitar satu hari dengan bus. Total waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari Gaza adalah dua hari. Dua hari yang terasa seperti selamanya bagi Samaa.

Ditutupnya perbatasan Rafah
Sebelum tahun 1967, pendidikan di Gaza berada pada jalur yang sangat menguntungkan. Para mahasiswa sering kali meraih hasil yang gemilang, bercita-cita tinggi untuk melanjutkan studi ke luar Gaza. Namun, segala harapan itu sirna seiring datangnya penjajahan yang merusak segala sesuatu, termasuk dunia pendidikan.

Gadis yang lahir dan besar di tanah penuh konflik ini tahu betul bagaimana rasanya belajar dalam ketidakpastian. Ketika semester tiga berjalan pada 2022, serangan besar kembali menggetarkan fondasi kehidupan di Gaza.

Meski begitu, hujan bom tak berhasil memadamkan api semangat belajarnya. Samaa seperti bunga yang tumbuh di antara bebatuan keras. Ia tetap berusaha mengakses situs universitas, mengikuti ujian, dan menyelesaikan materi perkuliahan melalui video yang disediakan dosen.

Sampai akhirnya, situs web universitas pun mengalami kerusakan parah. Perkuliahan jarak jauh yang seharusnya menjadi penyelamat, kini ikut tenggelam dalam kubangan perang.

Selain masalah dengan situs web, perang di Gaza juga membuat alat-alat yang diperlukan universitas untuk pembelajaran mahasiswa sulit masuk. Perbatasan Rafah harus tutup karena terjadi perang.

“Ketika saya belajar Farmasi di Al-Azhar, ada ada kekurangan dalam peralatan seperti di alat-alat di laboratorium misalnya. Di Indonesia gampang mencari alat baru untuk laboratorium, tetapi di Gaza, kita tidak dapat menemukan alat baru karena perang,” kata Samaa.

Bagi banyak mahasiswa di belahan dunia lainnya, jadwal ujian yang tiba-tiba berubah mungkin bukan masalah besar. Bagi Samaa, ujian yang dibatalkan karena pemboman adalah kenyataan pahit yang harus ditelan bulat-bulat. Karena semakin lama ujian ditunda, semakin lama pula ia bisa lulus.

“Ada juga masalah ketika saya di tengah menjalani semester kedua di Gaza, tepatnya saat ujian akhir, mereka hanya mengirim pesan bahwa kami tidak bisa mengikuti ujian karena ada pemboman. Tapi, saya tetap harus membayar untuk ujian tersebut,” tambahnya.

Mengapa Indonesia jadi pilihan?
Harapan selalu datang dari tempat yang tak pernah kita bayangkan. Bagi Samaa, harapan itu bernama Indonesia, sebuah negara yang terletak ribuan kilometer dari Gaza, yang namanya baru dikenal lebih dalam ketika jemarinya menelusuri mesin pencarian.

Dari sekian banyak pilihan, Indonesia menyala seperti mercusuar di tengah kegelapan. Bukan karena kemegahan kampusnya atau reputasi akademisnya yang mendunia, melainkan karena sesuatu yang lebih mendasar. Kemanusiaan.

“Masyarakat dan negara Indonesia memang terkenal selalu mendukung negara Palestina, karena itu pasti di negara Indonesia, tidak akan ada yang membenci saya karena saya dari Palestina,” ujar Samaa.

“Berbeda halnya apabila saya misalnya mau studi ke Amerika atau ke Italia. Mereka tentu akan tahu saya orang Arab dan seorang warga Palestina, dan mereka akan membenci saya,” tambahnya.

Keputusan untuk akhirnya berkuliah di Indonesia diambil bersama keluarganya. Orang tua Samaa sangat setuju ketika Samaa mengatakan ingin ke Indonesia, ketimbang negara-negara lainnya.

“Mereka kemudian setuju dan bilang Indonesia adalah negara Islam, jadi kamu akan merasa nyaman di sana karena banyak umat islam di sana,” lanjut Samaa.

Perjalanan menuju Indonesia seperti melangkah ke dunia yang sama sekali baru. Seumur hidupnya, Samaa belum pernah meninggalkan Timur Tengah. Bahkan dalam mimpi terliarnya, ia tak pernah membayangkan akan menjejakkan kaki di negeri kepulauan di Asia Tenggara.

“Sebenarnya, selama perjalanan itu saya bersama saudara laki-laki saya. Saudara saya sekarang sudah ada di Indonesia, jadi saya merasa lebih nyaman karena dia ada bersama saya,” ujarnya

Namun, takdir kembali menguji ketahanan Samaa. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, ia harus menghadapi perpisahan lagi. Kali ini, dengan adiknya yang harus melanjutkan perjalanan ke Maluku.

“Itu momen yang sangat emosional bagi saya. Saya tidak ingin berpisah dengannya dan saya menangis waktu itu. Tapi dia harus melanjutkan studi juga di Universitas Muhammadiyah di Maluku, mengambil jurusan IT,” katanya.

Perjalanan dari bandara menuju kost pertamanya di Jakarta membawa campuran perasaan. Kelegaan, kecemasan, pengharapan, dan ketakutan.

Namun, seperti tanaman yang beradaptasi dengan tanah baru, Samaa pun perlahan menemukan penghiburannya di Indonesia. Semua bisa terjadi karena bantuan dan dukungan yang diberikan.

“Setelah satu minggu, saya merasa nyaman karena orang-orang di sini sangat baik dan sopan. Itu membantu saya beradaptasi di Indonesia,” ujarnya, kali ini dengan senyum yang lebih lebar.

Di Indonesia, gejolak emosi jadi tantangan
Setelah meninggalkan kuliah Farmasinya di Gaza, Samaa kini mengambil pendidikan dokter di Universitas Yarsi di Jakarta. Meski begitu, sebagian jiwanya masih tertinggal di Gaza, terutama pada sosok ayahnya yang masih berada di sana, berjuang untuk bertahan hidup di tengah perang yang berkecamuk.

“Sebenarnya, sangat sulit untuk berkomunikasi dengan ayah saya karena di sana tidak ada jaringan dan internet tidak tersedia di semua tempat. Hanya ada tempat-tempat tertentu yang memiliki internet,” jelasnya.

Ayah Samaa adalah seorang dosen ilmu politik di Universitas Al-Azhar. “Ayah saya harus pergi ke tempat atau kota lain hanya untuk bisa terhubung ke internet dan menelepon saya, juga untuk menelepon saudara saya di Mesir,” ujar Samaa.

Awalnya, komunikasi dengan ayahnya hanya bisa dilakukan satu kali sebulan. Sekarang, frekuensinya sudah meningkat menjadi dua kali seminggu. Namun, itu sama sekali tidak mengurangi kekhawatiran yang dirasakan Samaa.

Tinggal di Indonesia memberikan keamanan fisik bagi Samaa, tetapi perasaannya masih bergejolak setiap kali melihat berita tentang perang di Gaza.

“Terakhir kali ketika saya melihat berita bahwa tetangga saya meninggal, saya hanya menangis dan kembali ke kamar saya. Sampai sekarang, saya merasa seperti saya tidak bisa beradaptasi dengan situasi ini,” kenang Samaa.

Samaa juga khawatir tentang teman-temannya yang tidak membalas pesan. “Saya tidak tahu apakah mereka baik-baik saja atau tidak. Ayah saya juga tidak membalas pesan saya,” ujarnya dengan raut wajah cemas.

Pernah sekali, Samaa tidak masuk kelas karena mengetahui ada keluarganya yang meninggal di Gaza.

“Jadi dulu di awal, dia memang pernah gak masuk kelas karena tahu ada info keluarganya ada yang meninggal di sana. Nah, terus kita bertanya, “Samaa di mana?” Si Samaa akhirnya ngobrol sama kakaknya dan kakaknya bilang Samaa punya kewajiban untuk menuntaskan belajarnya.Baru setelah itu dia kembali lagi untuk ikut kuliah,” ujar salah seorang staf internasional di Universitas Yarsi.

Ingin bangun kembali negeri tercinta
Meski terpisah ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, Samaa tetap memandang pendidikan sebagai kunci untuk masa depan Gaza.

“Sangat penting. Jika pendidikan tidak berarti apa-apa bagi saya, mengapa saya harus ke Indonesia lalu kembali ke Gaza lagi? Pendidikan sangat berarti bagi saya, karena saya meninggalkan keluarga saya dan datang ke negara ini,” tegasnya.

Samaa bukan satu-satunya anggota keluarga yang menganggap pendidikan sebagai prioritas utama, bahkan di tengah perang.

“Bahkan ayah saya mendapatkan gelar doktoral ketika dia di Gaza dan itu dilakukannya secara online. Jadi selama serangan, dia berada di Deir-al-balah. Dia pergi ke Khan Younis hanya untuk terhubung ke internet dan melakukan diskusi online dengan universitasnya, untuk mendapatkan gelar PhD. Dia menempatkan dirinya dalam situasi berbahaya hanya untuk belajar,” jelasnya.

Pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi juga tentang kontribusi nyata. Samaa menceritakan pengalamannya menjadi relawan di rumah sakit selama serangan terjadi di Gaza.

Ia menjelaskan bahwa banyak dokter dan perawat yang meninggal. Selain itu, pihak rumah sakit juga banyak yang melarikan diri dari daerah peperangan.

“Jadi, kementerian kesehatan di Gaza meminta para mahasiswa farmasi, keperawatan, dan kedokteran, untuk datang dan membantu dokter di rumah sakit. Saya adalah mahasiswa farmasi saat itu, dan saya pergi sebagai relawan untuk membantu pasien dan membantu dokter,” kata dia.

Samaa menjelaskan bahwa impiannya tidak berhenti pada penyelesaian studi kedokterannya di Indonesia. Setelah mengantongi ijazahnya, ia berniat membangun kembali satu persatu puing-puing di Gaza dengan ilmu kedokterannya.

“Saya ingin menyelesaikan studi kedokteran saya. Setelah itu, saya ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan S2 dan kembali ke Gaza. Saya ingin membangun Gaza kembali,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Universitas Yarsi setiap tahunnya memberikan beasiswa kepada mahasiswa Palestina. Samaa adalah salah satu mahasiswa yang beruntung bisa keluar dari Gaza.

Sebelumnya, pihak universitas mencoba mengeluarkan seorang mahasiswa bernama Zainab. Sayangnya, Zainab terjebak di Gaza karena saat itu perbatasan Rafah sudah ditutup.

Sumber: kompas

More From Author

Dimana Malu Mu?

Quinoa: Superfood Kaya Nutrisi dan Manfaat untuk Kesehatan Tubuh

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories