Indonesia resmi bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) untuk Gaza yang diinisiasi oleh Amerika Serikat pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss, guna mendukung stabilitas, gencatan senjata, dan rekonstruksi Palestina. Presiden Prabowo Subianto menandatangani piagam tersebut bersama negara-negara lain seperti Arab Saudi, Mesir, dan Turki. Partisipasi ini bertujuan mendorong solusi dua negara, melindungi warga sipil, dan membuka akses bantuan kemanusiaan.
NEWS.UMIKA.ID, Buletin,- Di tengah dentuman bom yang belum sepenuhnya reda, dunia kembali mendengar kata yang terdengar indah: “perdamaian.” Amerika Serikat dan sekutunya menggagas berbagai skema perdamaian untuk Gaza. Namun satu pertanyaan penting muncul:
di mana suara rakyat Palestina dalam semua pembicaraan ini?
Ironisnya, perdamaian sering dirancang jauh dari reruntuhan rumah Gaza, tanpa duduk bersama mereka yang kehilangan anak, orang tua, dan masa depan.
Perdamaian Versi Kekuatan, Bukan Keadilan
Dalam banyak inisiatif internasional, perdamaian dipahami sebatas:
- gencatan senjata sementara,
- stabilitas kawasan,
- dan jaminan keamanan bagi Israel.
Sementara akar persoalan Palestina—penjajahan, blokade, perampasan tanah, dan pengusiran—tidak disentuh secara adil. Rakyat Palestina tidak diposisikan sebagai subjek perdamaian, melainkan sekadar objek kebijakan global.
Padahal Islam mengajarkan bahwa keadilan adalah fondasi utama perdamaian, bukan sekadar senyapnya senjata.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah…”
(QS. An-Nisa: 135)
Tanpa keadilan, perdamaian hanyalah jeda sebelum luka berikutnya.
Ketika Korban Tidak Diikutsertakan
Rakyat Gaza:
- tidak dilibatkan secara langsung dalam perundingan, aspirasinya diwakili oleh aktor luar, penderitaannya dianggap angka statistik.
Inilah yang membuat perdamaian yang dibangun rapuh. Sejarah membuktikan, setiap “kesepakatan” yang mengabaikan suara korban hanya akan melahirkan konflik baru dengan wajah yang berbeda.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)
Zalim yang dilembagakan, sekalipun dibungkus kata “perdamaian”, tetaplah zalim.
Tugas Kita Sebagai Umat
Sebagai umat Islam, kita mungkin tidak duduk di meja diplomasi dunia. Namun kita punya peran:
- menyuarakan kebenaran,
- mendidik umat agar paham akar masalah Palestina,
- mendoakan dan membantu dengan harta serta solidaritas,
- menolak narasi palsu yang menormalisasi penjajahan.
Allah ﷻ mengingatkan:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ
“Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas?”
(QS. An-Nisa: 75)
Membela yang tertindas tidak selalu dengan senjata—kadang dimulai dari kesadaran, doa, dan keberpihakan hati.
Penutup
Perdamaian sejati tidak lahir dari ruang rapat para penguasa, tetapi dari pengakuan atas hak-hak korban. Selama Palestina dibicarakan tanpa melibatkan rakyatnya, selama penjajahan dinormalisasi atas nama stabilitas, maka perdamaian hanyalah ilusi.
Semoga Allah ﷻ membukakan mata dunia, menguatkan saudara-saudara kita di Palestina, dan menjadikan kita bagian dari orang-orang yang berdiri di sisi kebenaran.
Aamiin.
