UMIKA.ID, Brussels/Madrid – Suara lantang dukungan terhadap rakyat Palestina kembali menggema di Eropa. Ribuan hingga puluhan ribu orang memenuhi jalanan dua ibu kota penting, Brussels (Belgia) dan Madrid (Spanyol), dalam unjuk rasa solidaritas yang disebut sebagai salah satu gelombang demonstrasi pro Palestina terbesar dalam sejarah kedua negara.
Aksi ini menunjukkan bahwa isu Palestina bukan sekadar konflik di Timur Tengah, melainkan persoalan kemanusiaan yang menggetarkan hati nurani masyarakat global. Dari bendera Palestina yang dikibarkan di alun-alun, spanduk bertuliskan “Stop Genocide” hingga teriakan “From the river to the sea, Palestine will be free”, jalanan Eropa berubah menjadi panggung solidaritas untuk Gaza yang masih dikepung konflik.
Brussels: “Red Line for Gaza” Himpun Lebih dari 100 Ribu Peserta
Di ibu kota Belgia, Brussels, demonstrasi digelar pada awal September 2025 dengan tajuk “Red Line for Gaza”. Aksi ini berlangsung di jantung kota, melibatkan massa dari berbagai latar belakang usia, profesi, dan organisasi.
Menurut catatan kepolisian, sekitar 70.000 orang hadir. Namun panitia menyebut jumlah sebenarnya bisa mencapai 110.000 peserta yang ikut dalam long march sejauh 3,5 kilometer. Mereka membawa bendera Palestina, poster dengan wajah anak-anak Gaza, hingga spanduk besar yang mengecam kebijakan Israel.
Lebih dari 200 organisasi internasional ikut menginisiasi aksi ini, mulai dari lembaga kemanusiaan besar seperti Amnesty International, Oxfam, Greenpeace, Save the Children, hingga Doctors Without Borders (MSF). Partisipasi organisasi sebesar ini membuat demonstrasi tidak sekadar simbolis, tetapi juga terstruktur dengan pesan yang jelas: Eropa harus bertindak lebih keras terhadap Israel.
Para demonstran menuntut Uni Eropa dan pemerintah Belgia untuk:
- Menjatuhkan sanksi tegas terhadap Israel, termasuk embargo senjata.
- Mengakui Negara Palestina secara resmi di tingkat internasional.
- Menghentikan hubungan politik dan ekonomi yang dianggap menopang pendudukan Israel di Palestina.
Banyak orator yang menyuarakan bahwa sikap netral Eropa sudah tidak bisa lagi dipertahankan di tengah ribuan korban jiwa sipil di Gaza. “Ini bukan konflik biasa, ini genosida,” ujar salah satu aktivis HAM di hadapan kerumunan.
Madrid: Gelombang Solidaritas yang Terus Berlanjut
Sementara di Madrid, Spanyol, aksi solidaritas pro Palestina juga berlangsung dengan penuh semangat. Ribuan orang memenuhi jalan-jalan utama kota, mengenakan keffiyeh (syal khas Palestina) dan membawa poster bergambar bayi dan anak-anak korban serangan.
Demonstrasi pro Palestina di Madrid sebenarnya sudah berlangsung sejak 2023 dan terus berlanjut hingga 2025.
- Pada Oktober 2023, tercatat sekitar 35.000 peserta turun ke jalan.
- Pada Januari 2024, sekitar 20.000 orang bergabung dalam aksi serupa.
- Pada Februari 2024, sekitar 3.000 orang kembali berunjuk rasa menuntut gencatan senjata.
- Pada Mei 2024, tercatat 4.000 massa menggelar aksi di pusat kota.
- Bahkan pada September 2024, ribuan orang kembali memadati Plaza Sol dengan simbol-simbol Palestina.
Dalam demonstrasi terbaru, ribuan peserta menuntut gencatan senjata segera, penghentian pembunuhan terhadap warga sipil, serta pembebasan sandera. Slogan-slogan keras menggema, di antaranya “From the river to the sea, Palestine will be free” dan “It’s not a war, it’s genocide.”
Aksi di Spanyol juga menarik perhatian karena dihadiri oleh sejumlah politisi. Bahkan, enam menteri dari kabinet Perdana Menteri Pedro Sánchez pernah ikut serta dalam aksi pro Palestina, termasuk dari partai Sumar dan satu dari PSOE. Kehadiran tokoh politik di jalanan memperlihatkan bahwa isu Palestina sudah masuk ke ranah perdebatan resmi negara.
Latar Belakang: Gaza di Tengah Kepungan
Gelombang demonstrasi di Brussels dan Madrid tidak terjadi dalam ruang hampa. Selama hampir dua tahun terakhir, Gaza menjadi pusat perhatian dunia karena agresi militer Israel yang menewaskan puluhan ribu warga sipil.
Laporan lembaga internasional menyebutkan:
- Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.
- Fasilitas kesehatan hancur, rumah sakit lumpuh, dan akses obat-obatan semakin sulit.
- Blokade Israel membuat bantuan kemanusiaan tidak sampai kepada warga Palestina.
Kondisi inilah yang memicu kemarahan global. Tidak sedikit masyarakat Eropa yang sebelumnya pasif, kini turun ke jalan menuntut perubahan kebijakan luar negeri negaranya.
Tekanan Moral terhadap Uni Eropa
Demonstrasi besar di Brussels memiliki makna simbolis tersendiri karena kota ini adalah pusat pemerintahan Uni Eropa. Ribuan massa yang turun ke jalan bukan hanya menekan pemerintah Belgia, tetapi juga menyampaikan pesan langsung ke jantung kebijakan Eropa.
Para demonstran menuntut:
- Embargo senjata agar Israel tidak lagi mendapat pasokan persenjataan dari negara-negara Eropa.
- Pemutusan hubungan diplomatik jika Israel tetap melanjutkan pendudukan.
- Pengakuan Palestina secara resmi sebagai negara berdaulat oleh Uni Eropa.
Meski beberapa negara anggota Uni Eropa sudah mulai bergerak mengakui Palestina, sebagian lainnya masih ragu dengan alasan politik dan ekonomi. Aksi massa ini diharapkan bisa menjadi titik balik perubahan sikap Uni Eropa terhadap konflik Palestina-Israel.
Madrid: Tradisi Gerakan Jalanan yang Kuat
Berbeda dengan Brussels yang menyoroti aspek kebijakan Uni Eropa, aksi di Madrid menegaskan kekuatan gerakan jalanan rakyat Spanyol. Spanyol memang memiliki sejarah panjang solidaritas dengan Palestina.
Dukungan rakyat Spanyol ditandai dengan:
- Kehadiran ribuan peserta di setiap aksi sejak 2023.
- Keterlibatan serikat buruh, mahasiswa, hingga kelompok feminis.
- Orasi yang menekankan bahwa “pembebasan Palestina adalah isu kemanusiaan, bukan sekadar politik luar negeri.”
Bahkan dalam beberapa kesempatan, pemerintah Spanyol sudah menunjukkan sikap lebih progresif dibanding negara Eropa lainnya, dengan mendorong pengakuan Palestina di forum internasional.
Suara Global: Palestina Milik Dunia
Aksi di Brussels dan Madrid hanyalah bagian dari gelombang solidaritas yang terjadi di seluruh dunia. Dari London, Paris, Berlin, Roma hingga Jakarta, jutaan orang telah turun ke jalan dalam dua tahun terakhir untuk menuntut akhir pendudukan Israel di Palestina.
Gerakan ini menandakan bahwa isu Palestina bukan lagi monopoli dunia Arab atau negara mayoritas Muslim. Palestina kini menjadi isu global yang menyatukan berbagai kelompok dengan latar belakang berbeda. Dari aktivis lingkungan, akademisi, seniman, hingga politisi, semua bersuara dalam satu nada: keadilan untuk Palestina.
Reaksi Israel dan Aliansi Barat
Meski demonstrasi terus membesar, pemerintah Israel tetap menolak tuntutan internasional. Tel Aviv beralasan bahwa operasi militer di Gaza adalah untuk “menghancurkan kelompok bersenjata.” Namun narasi ini semakin sulit diterima publik global setelah ribuan anak dan perempuan menjadi korban.
Sementara itu, negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan sebagian besar anggota Uni Eropa, masih terpecah. AS tetap memberikan dukungan penuh kepada Israel, sedangkan beberapa negara Eropa mulai mengambil jarak.
Kesimpulan: Eropa Tidak Lagi Diam
Demonstrasi besar di Brussels dan Madrid menjadi penanda bahwa masyarakat Eropa tidak lagi diam melihat penderitaan Palestina. Tekanan publik semakin kuat, dan jika pemerintah tetap abai, legitimasi mereka bisa terguncang.
Lautan massa di dua ibu kota Eropa ini adalah simbol bahwa dukungan terhadap Palestina bukan sekadar suara minoritas, melainkan gelombang besar yang sulit dibendung. Dengan semakin kuatnya tekanan internasional, harapan akan terciptanya perdamaian yang adil dan pengakuan penuh terhadap Palestina kian menguat.
