UMIKA.ID, Buletin,- Dalam kehidupan rumah tangga, salah satu tantangan terbesar yang sering muncul bukan hanya berasal dari dalam, tetapi dari eksternal yang memiliki ikatan erat: mertua. Hubungan antara menantu dan mertua menjadi bagian penting dalam membentuk keluarga yang bahagia. Dalam Islam, posisi mertua diakui dengan kehormatan tersendiri, dan menantu dituntut untuk menjaga adab serta etika terhadap mereka. Membangun keluarga bahagia tak bisa lepas dari harmonisasi relasi antara suami, istri, dan kedua pihak orang tua, termasuk mertua.
Mertua dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, hubungan dengan mertua adalah bagian dari silaturahmi (ṣilah al-raḥim), terutama jika mereka adalah orang tua dari pasangan kita yang kini menjadi bagian dari hidup kita. Islam sangat menjunjung tinggi penghormatan terhadap orang tua, termasuk orang tua pasangan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُواْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”
(QS. Al-Isra: 23)
Ayat ini memang berbicara tentang orang tua kandung, namun prinsip berbuat baik (ihsān) kepada mertua sebagai bentuk penghormatan kepada pasangan sangat dianjurkan, karena keberkahan rumah tangga juga berakar dari relasi baik antargenerasi.
Hadis Nabi dan Adab Terhadap Mertua
Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya menjaga adab dalam berinteraksi dengan sesama, lebih-lebih terhadap orang tua dan keluarga pasangan. Dalam sebuah hadis disebutkan:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا
“Bukan dari golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.”
(HR. Tirmidzi)
Dari hadis ini kita bisa memahami bahwa mertua sebagai orang yang lebih tua patut dihormati sebagaimana kita menghormati orang tua sendiri. Penghormatan ini bukan sekadar sopan santun, melainkan bagian dari akhlak Islamiyah.
Sudut Pandang Menantu: Antara Tanggung Jawab dan Keseimbangan
Banyak menantu—baik laki-laki maupun perempuan—menghadapi dilema antara memenuhi kebutuhan rumah tangga inti dan menjaga hubungan baik dengan mertua. Di sinilah pentingnya komunikasi, kesabaran, dan ketulusan. Islam menekankan keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan.
Suami sebagai kepala keluarga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ini. Ia harus menjadi penengah yang adil antara istri dan orang tuanya. Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Suami bertanggung jawab untuk memastikan istri tidak tertekan oleh ekspektasi mertuanya, namun juga menuntun istri untuk tetap bersikap hormat dan sopan terhadap orang tuanya.
Perspektif Mertua: Rasa Memiliki dan Tantangan Melepas Anak
Dari sisi mertua, muncul perasaan kehilangan saat anak mereka membangun keluarga sendiri. Terkadang, tanpa disadari, mereka masih ingin turut serta mengambil keputusan atau merasa berhak atas kehidupan anak dan menantunya. Hal ini jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan ketegangan.
Islam mengajarkan pentingnya membiarkan anak mandiri dalam rumah tangganya, sebagaimana firman Allah:
فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ
“Maka nikahilah perempuan-perempuan (lain) yang kamu senangi…”
(QS. An-Nisa: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa setelah menikah, suami-istri membentuk unit keluarga baru. Peran orang tua, termasuk mertua, adalah sebagai penasihat, bukan pengendali.
Keluarga Bahagia: Kolaborasi Bukan Kompetisi
Konsep keluarga bahagia dalam Islam bukan sekadar soal nafkah dan anak, tapi juga ketenangan batin (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat. Allah SWT berfirman:
وَمِنْ ءَايَاتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجٗا لِّتَسْكُنُوٓا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Keluarga yang harmonis adalah hasil kolaborasi, bukan dominasi. Termasuk dalam hal ini adalah relasi mertua dan menantu yang saling menghormati, mendukung, dan menghindari prasangka.
Tips Membangun Harmoni dengan Mertua
1. Niatkan karena Allah
Setiap perlakuan baik kepada mertua diniatkan sebagai ibadah dan mencari ridha Allah.
2. Bangun komunikasi terbuka
Jangan simpan unek-unek. Sampaikan dengan cara yang lembut dan santun.
3. Tetapkan batasan sehat
Keluarga baru berhak memiliki batasan privasi. Batasan ini tidak berarti memutus hubungan, tapi menjaga keseimbangan.
4. Libatkan pasangan sebagai jembatan
Masalah dengan mertua sebaiknya dibicarakan dulu dengan pasangan, bukan langsung dihadapkan ke mertua.
5. Jaga adab dan sopan santun
Meski berbeda pendapat, tetap jaga tutur kata dan sikap.
Teladan dari Keluarga Nabi
Kita bisa mengambil pelajaran dari hubungan Nabi Muhammad SAW dengan mertuanya. Salah satu mertuanya adalah Abu Sufyan, yang dulunya adalah musuh Islam. Namun setelah masuk Islam, Nabi tetap memperlakukan beliau dengan hormat sebagai ayah dari istrinya, Ummu Habibah.
Kisah Fatimah r.a. dan Ali bin Abi Thalib juga memperlihatkan bagaimana Rasulullah tidak mencampuri rumah tangga mereka secara berlebihan, tetapi selalu siap memberikan nasihat saat dibutuhkan.
Kesimpulan
Keluarga bahagia bukan berarti tanpa masalah, melainkan mampu mengelola perbedaan dengan kebijaksanaan. Hubungan dengan mertua adalah bagian penting dari kebahagiaan rumah tangga. Islam memberikan pedoman yang jelas untuk menjaga adab, menetapkan batas, dan menumbuhkan kasih sayang lintas generasi. Selama semua pihak berusaha menundukkan ego dan mengutamakan cinta karena Allah, keharmonisan bukanlah impian yang jauh.
Referensi:
1. Al-Qur’an al-Karim
2. HR. Bukhari dan Muslim
3. HR. Tirmidzi
4. Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin
5. Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Adab dalam Rumah Tangga Islam
6. Tafsir Ibnu Katsir
