Kang Adi dari Umika Karawang: Lima Langkah Nyata untuk Membantu Palestina

UMIKA.ID, Karawang,– Yayasan Umika Fatimah Az-Zahra, sebuah organisasi kemanusiaan dan dakwah yang berpusat di Karawang, kembali menunjukkan kepedulian globalnya melalui seruan kemanusiaan untuk Palestina. Kang Adi, selaku pembina utama Umika, menyampaikan lima langkah konkret yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia dalam membantu perjuangan rakyat Palestina.

Tabligh Akbar Palestina Memanggil, Saatnya Umat Bergerak Bersama KH. Bachtiar Nasir, Ahad 27 April 2025 di Masjid Al Jihad Karawang

Di tengah derasnya informasi dan peristiwa memilukan dari tanah Gaza, berbagai elemen masyarakat menunjukkan solidaritas dan kepedulian mereka terhadap kondisi rakyat Palestina yang hingga kini masih berada dalam tekanan penjajahan, kekerasan, dan blokade. Yayasan Umika Fatimah Az-Zahra, yang telah lama berkiprah dalam bidang dakwah, sosial, dan kemanusiaan, turut andil dalam menyuarakan suara keadilan tersebut.

Dalam sebuah kegiatan diskusi dan kajian bertema “Palestina Memanggil, Saatnya Umat Bergerak” yang diselenggarakan Kolaborasi Komunitas Karawang (K3) pekan lalu di Masjid Al Jihad, Karawang, Kang Adi tampil memberikan sambutannya. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan bahwa perjuangan membantu Palestina bukan hanya milik para aktivis internasional atau lembaga besar, tetapi juga tanggung jawab umat Islam secara keseluruhan.

“Kita tidak harus berada di Gaza untuk bisa berjuang bagi saudara kita di sana. Perjuangan itu bisa kita mulai dari rumah, dari lingkungan, dan dari hati kita yang bersih,” ujarnya di hadapan para peserta yang hadir.

Kang Adi lalu merinci lima langkah yang menurutnya bisa dilakukan siapa pun, dari semua kalangan, untuk ikut serta dalam upaya membantu Palestina secara nyata. Berikut kelima langkah tersebut:

 

1. Senantiasa Mendoakan Palestina

Langkah pertama dan paling mendasar menurut Kang Adi adalah senantiasa menyertakan Palestina dalam doa-doa kita. Dalam perspektif Islam, doa adalah senjata orang beriman. Meski tampak sederhana, kekuatan doa memiliki dampak yang sangat besar.

“Doa bukanlah tindakan pasif. Ia adalah ikatan spiritual yang menembus batas geografis dan politik. Ketika kita mendoakan Palestina, kita sesungguhnya sedang menghubungkan hati kita dengan perjuangan mereka,” tutur Kang Adi.

Ia juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ

 

“Doa adalah senjata orang mukmin.”

(HR. Al-Hakim)

Menurutnya, setiap selesai shalat, umat Islam bisa menyelipkan doa agar Allah menolong rakyat Palestina, memberikan ketabahan, dan menghancurkan segala bentuk kezaliman yang mereka alami.

 

2. Menyebarkan Informasi Tentang Palestina

Langkah kedua adalah menjadi agen informasi yang jujur dan aktif tentang apa yang terjadi di Palestina. Dalam era digital seperti sekarang, informasi menjadi alat yang sangat kuat dalam membentuk opini publik dan menggugah empati.

“Kita punya media sosial, kita punya WhatsApp, kita punya banyak saluran komunikasi. Gunakan itu untuk menyuarakan kebenaran, untuk mengedukasi orang-orang di sekitar kita tentang apa yang sebenarnya terjadi di Palestina,” ungkapnya.

Kang Adi menekankan pentingnya menyaring dan menyampaikan informasi yang benar dan valid, bukan sekadar provokatif atau emosional. Ia menyarankan masyarakat untuk mengikuti akun-akun resmi dan terpercaya dari lembaga kemanusiaan dan media independen.

Dengan menyebarkan informasi yang benar, masyarakat juga bisa membentengi diri dari propaganda yang berupaya memutarbalikkan fakta, termasuk narasi yang menggiring opini agar simpati terhadap Palestina menjadi bias.

 

3. Memboikot Produk yang Terafiliasi dengan Israel

Langkah ketiga yang disampaikan Kang Adi adalah melakukan aksi boikot terhadap produk atau perusahaan yang diketahui mendukung atau terafiliasi dengan Israel. Aksi boikot ini menurutnya merupakan bentuk perlawanan ekonomi yang efektif jika dilakukan secara kolektif.

“Ketika kita memilih untuk tidak membeli produk yang mendukung penjajahan, kita sedang menyatakan sikap politik dan kemanusiaan. Ini bukan semata soal belanja, ini adalah bentuk keberpihakan pada nilai kemanusiaan dan keadilan,” tegasnya.

Ia menyebut bahwa boikot bukanlah kebencian terhadap satu bangsa atau agama, tetapi penolakan terhadap tindakan penindasan. Ia mengajak masyarakat untuk mulai mencari alternatif produk lokal yang tidak memiliki keterkaitan dengan entitas yang mendukung pendudukan terhadap Palestina.

Kang Adi juga mengutip pernyataan ulama besar Yusuf al-Qaradhawi yang mendukung boikot sebagai bagian dari jihad ekonomi terhadap penjajahan Zionis.

 

4. Ikut Aksi Solidaritas

Langkah keempat menurut Kang Adi adalah turut serta dalam aksi-aksi solidaritas, baik secara langsung maupun daring. Aksi solidaritas bisa berupa ikut serta dalam aksi damai, penggalangan dana, diskusi publik, maupun kampanye sosial media.

“Solidaritas yang ditunjukkan secara kolektif itu bisa menjadi tekanan moral terhadap kekuatan dunia. Jangan pernah meremehkan dampak dari spanduk, dari poster, dari tagar, karena itu adalah simbol bahwa dunia tidak tinggal diam,” jelasnya.

Umika sendiri telah beberapa kali menyelenggarakan aksi damai, doa bersama, dan pengumpulan tanda tangan dukungan bagi Palestina, terutama dalam momen-momen puncak kekerasan yang terjadi di Gaza.

Ia juga menekankan bahwa aksi solidaritas tidak harus selalu turun ke jalan, terutama bagi mereka yang tidak memungkinkan. Membuat video edukatif, menulis opini di media, atau sekadar membuat unggahan yang menyentuh di media sosial, semua adalah bentuk solidaritas.

 

5. Memberikan Donasi

Terakhir dan tak kalah penting adalah memberikan donasi. Menurut Kang Adi, meski tak bisa membantu langsung dengan tenaga, kita bisa mengulurkan bantuan dalam bentuk materi. Banyak lembaga terpercaya yang menyalurkan bantuan untuk rakyat Palestina, mulai dari bantuan pangan, obat-obatan, hingga pembangunan infrastruktur darurat.

“Inilah saatnya kita bertindak. Tidak peduli besar atau kecil jumlahnya, setiap rupiah yang kita berikan bisa berarti kehidupan bagi seorang anak, bisa menjadi harapan bagi satu keluarga,” kata Kang Adi dengan penuh haru.

Ia menyampaikan bahwa Umika juga membuka pintu bagi siapa pun yang ingin menitipkan donasinya, dan akan menyalurkannya lewat mitra-mitra kemanusiaan yang memiliki akses langsung ke wilayah konflik.

Ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW:

 

مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

 

“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan dari kesusahan dunia seorang Muslim, maka Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan hari kiamat.”

(HR. Muslim)

 

Menutup dengan Seruan Kemanusiaan

Di akhir pemaparannya, Kang Adi mengajak semua pihak, terutama generasi muda, untuk tidak bersikap apatis terhadap isu Palestina. Ia menegaskan bahwa persoalan Palestina adalah persoalan umat dan kemanusiaan, bukan semata konflik wilayah atau politik.

“Kita mungkin berbeda negara, berbeda bendera, tapi sebagai umat manusia dan umat Islam, hati kita adalah satu. Palestina adalah ujian untuk nurani kita. Apakah kita akan diam, atau kita akan berbuat?” pungkasnya.

 

Tentang Umika Fatimah Az-Zahra

Yayasan Umika Fatimah Az-Zahra merupakan organisasi nirlaba yang berbasis di Karawang, Jawa Barat. Didirikan dengan semangat dakwah, sosial, dan kemanusiaan, Umika telah aktif dalam berbagai program seperti pengajian rutin, pembinaan remaja, bantuan untuk kaum dhuafa, hingga respon cepat terhadap bencana.

Melalui kepemimpinan Kang Adi sebagai pembina, Umika terus berkembang menjadi lembaga yang tak hanya aktif di tingkat lokal, tetapi juga menunjukkan kepedulian pada isu-isu global.

Penulis: Fajar Indra Priyana

Editor: Samsul

 

 

More From Author

Membangun Pondasi Anak dari Dalam Rumah

Bayam: Si Hijau Multimanfaat Untuk Kesehatan Tubuh

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories