UMIKA.ID, Gaza City, Palestina – Dunia jurnalisme kembali berduka. Anas al-Sharif (28), koresponden senior Al Jazeera Arabic yang dikenal berani meliput langsung krisis kemanusiaan di Jalur Gaza, gugur bersama lima jurnalis lainnya akibat serangan udara Israel pada Minggu malam, 10 Agustus 2025.
Serangan yang terjadi sekitar pukul 23.35 waktu setempat itu menghantam tenda media di luar kompleks Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, tempat para jurnalis berkumpul untuk menyiarkan perkembangan terbaru dari medan konflik. Menurut laporan Al Jazeera, serangan dilakukan menggunakan drone dan menewaskan setidaknya 8 orang, termasuk 4 staf Al Jazeera, 2 jurnalis lepas, dan 2 warga sipil.
Korban yang Gugur
- Selain Anas al-Sharif, korban jiwa lainnya meliputi:
- Mohammed Qreiqeh (33), koresponden Al Jazeera
- Ibrahim Zaher (25), juru kamera
- Mohammed Noufal (29), juru kamera
- Moamen Aliwa, juru kamera lepas
- Mohammed al-Khalidi, jurnalis lepas
Dua warga sipil lainnya, termasuk kerabat Anas al-Sharif
Kecaman Internasional
Al Jazeera Media Network mengecam keras serangan ini, menyebutnya sebagai “serangan terang-terangan dan terencana terhadap kebebasan pers”. Pihaknya menegaskan bahwa para jurnalis tersebut sedang melaksanakan tugas peliputan, bukan terlibat dalam aktivitas militer.
Militer Israel mengklaim bahwa Anas al-Sharif adalah anggota sayap bersenjata Hamas yang menyamar sebagai jurnalis. Klaim ini dibantah tegas oleh pihak keluarga, rekan kerja, dan organisasi pers internasional.
Organisasi seperti Committee to Protect Journalists (CPJ), Amnesty International, dan Kantor Hak Asasi Manusia PBB mendesak adanya investigasi independen serta menuntut akuntabilitas atas serangan yang menewaskan pekerja media tersebut.
Duka dan Solidaritas Global
Kabar duka ini memicu aksi solidaritas dan protes di berbagai kota dunia, dari Doha hingga New York, menuntut perlindungan lebih bagi jurnalis di wilayah konflik.
Data terbaru menunjukkan bahwa sejak awal agresi Israel di Gaza, setidaknya 184 jurnalis Palestina telah kehilangan nyawa. Angka ini menjadikan konflik di Gaza sebagai salah satu situasi paling mematikan bagi jurnalis dalam sejarah modern.
Sosok Anas al-Sharif
Anas dikenal luas sebagai jurnalis yang tak kenal takut, kerap melaporkan kondisi Gaza di tengah kepungan bom dan peluru. Ia pernah menerima ancaman langsung dari pejabat Israel, termasuk kampanye di media sosial yang menuduhnya terlibat dalam aktivitas militan.
Dalam pesan terakhirnya sebelum wafat, Anas berpesan: “Jangan lupakan Gaza, jangan lupakan kami.” Pesan itu kini menjadi simbol perlawanan terhadap pembungkaman suara di medan perang.
Sumber:
Al Jazeera – Anas al-Sharif killed in Israeli attack in Gaza City
Associated Press
The Guardian
