UMIKA.ID, Karawang,– Bulan Dzulhijjah bukan hanya sakral dalam syariat ibadah umat Islam saat ini, tetapi juga menyimpan rekam jejak sejarah luar biasa di masa Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam dan para sahabat. Beberapa peristiwa monumental terjadi pada bulan ke-12 dalam kalender Hijriyah ini, menjadikannya sebagai bulan penuh makna spiritual dan historis bagi peradaban Islam.
Berikut beberapa peristiwa besar di bulan Dzulhijjah yang terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam dan para sahabat:
1. Haji Wada’ (Haji Perpisahan Rasulullah) – Tahun 10 H
Salah satu peristiwa paling bersejarah di bulan Dzulhijjah adalah Haji Wada’, yaitu haji terakhir yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam. Beliau berangkat dari Madinah bersama sekitar 100.000 sahabat untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah.
Saat berada di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam menyampaikan khutbah yang dikenal sebagai Khutbah Wada’ (khutbah perpisahan), yang sarat dengan pesan kemanusiaan, keadilan, persamaan, dan hak-hak dasar umat manusia.
Isi khutbah tersebut sangat menyentuh, di antaranya:
“Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah suci seperti sucinya hari ini, di bulan ini, dan di negeri ini. Janganlah kalian saling menzalimi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan salah satu ayat terakhir yang turun dalam peristiwa ini adalah:
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينٗا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Turunnya ayat ini membuat para sahabat menangis, termasuk Umar bin Khattab RA, karena mereka memahami bahwa ini isyarat mendekatnya ajal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam.
2. Khutbah Universal tentang Persamaan Hak dan Kemanusiaan
Masih dalam Haji Wada’, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam juga menegaskan prinsip kesetaraan manusia:
“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu dan bapak kalian satu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, atau non-Arab atas Arab, kecuali dengan takwa.”
(HR. Ahmad)
Pesan ini menjadi dasar kuat ajaran Islam tentang anti-rasisme, hak asasi, dan persaudaraan universal.
3. Pengangkatan Abu Bakar sebagai Amirul Hajj (Tahun 9 H)
Setahun sebelum Haji Wada’, pada tahun ke-9 Hijriyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam belum menunaikan haji. Sebagai gantinya, beliau mengangkat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sebagai Amirul Hajj atau pemimpin ibadah haji. Inilah pertama kalinya umat Islam melaksanakan haji dengan syariat Islam secara penuh tanpa campur baur adat jahiliyah.
Pada kesempatan itu, Rasulullah juga mengutus Ali bin Abi Thalib RA untuk membacakan Surah At-Taubah kepada jamaah haji, yang mengandung pernyataan pemutusan hubungan dengan kaum musyrikin dan penegasan Islam sebagai jalan hidup yang hak.
4. Wafatnya Utsman bin Affan (Secara Historis, 18 Dzulhijjah 35 H)
Meskipun ada perbedaan pendapat sejarah, sebagian riwayat menyebutkan bahwa Utsman bin Affan RA, khalifah ketiga umat Islam, wafat pada 18 Dzulhijjah 35 H, dalam keadaan syahid setelah dikepung dan dibunuh di rumahnya oleh pemberontak.
Utsman wafat dalam keadaan membaca Al-Qur’an. Tragedi ini menjadi awal dari masa fitnah dan perpecahan dalam sejarah Islam, namun juga mencatatkan keteguhan iman dan kesabaran luar biasa sang khalifah.
5. Hijrah Sahabat ke Habasyah & Bai’at Aqabah (Terkait Awal Dzulhijjah)
Beberapa peristiwa penting lainnya seperti hijrah pertama ke Habasyah oleh sekelompok sahabat yang dipimpin Ja’far bin Abi Thalib juga berkaitan dengan momentum bulan Dzulhijjah, meskipun waktunya berbeda-beda menurut riwayat.
Demikian pula Bai’at Aqabah Kedua, yang menjadi dasar hijrah besar ke Madinah, terjadi menjelang musim haji dan diperkirakan pada awal Dzulhijjah tahun ke-13 kenabian.
Refleksi Dzulhijjah: Bulan Pengorbanan dan Persatuan
Sejarah mencatat bahwa bulan Dzulhijjah adalah bulan pengorbanan, kebersamaan, dan pemurnian agama. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam menunjukkan contoh sempurna tentang kesetiaan pada misi dakwah hingga akhir hayatnya.
Kang Adi Suryadi, aktivis Islam dari Karawang, mengatakan:
“Haji Wada’ bukan hanya ibadah terakhir Nabi, tetapi pesan politik, sosial, dan spiritual yang sangat relevan sepanjang zaman. Nilai-nilainya perlu terus dihidupkan oleh umat Islam saat ini.”
Penutup
Bulan Dzulhijjah di masa Rasulullah dan sahabat bukan hanya momentum ibadah, tapi juga catatan penting sejarah Islam. Dari khutbah perpisahan hingga wafatnya khalifah Utsman, semuanya mengajarkan nilai-nilai luhur: keikhlasan, kepemimpinan, kesetaraan, dan pengorbanan.
