UMIKA.ID, Karawang, — Era media sosial telah melahirkan kemudahan luar biasa dalam berbagi informasi. Sayangnya, di balik kecepatan arus informasi tersebut, menyelinap pula penyakit lama yang kini berwujud baru: gosip dan ghibah. Konten-konten viral yang menyudutkan seseorang, membongkar aib, hingga menyebarkan kabar tak pasti kini menjadi santapan sehari-hari netizen. Lantas, bagaimana pandangan Islam terhadap fenomena ini?
Ghibah dalam Wajah Digital
Ghibah (menggunjing) adalah membicarakan keburukan seseorang di belakangnya, meskipun hal tersebut benar. Dalam era digital, bentuk ghibah tidak lagi terbatas pada percakapan langsung. Komentar di kolom media sosial, status WhatsApp, cuitan di X (dulu Twitter), hingga video di TikTok dan YouTube pun bisa menjadi ladang ghibah tanpa disadari.
Islam telah memperingatkan dengan sangat tegas tentang bahaya ghibah. Allah SWT berfirman:
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ”
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu membencinya. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini sangat relevan dengan kondisi dunia maya hari ini. Ketika seseorang mengunggah keburukan orang lain, meskipun hanya mengutip, itu bisa menjadi bagian dari ghibah yang diharamkan.
Apa Bedanya Gosip dan Ghibah?
Istilah gosip dan ghibah sering kali dianggap sama, padahal keduanya memiliki makna dan cakupan yang sedikit berbeda, meskipun dalam praktiknya bisa saling beririsan.
Kesamaan:
Baik gosip maupun ghibah sama-sama membahas orang lain di luar kehadiran mereka. Keduanya dapat menyangkut hal-hal yang pribadi, sensitif, atau memalukan bagi orang yang dibicarakan. Dalam konteks sosial, keduanya bisa menyebabkan kerusakan reputasi, luka batin, bahkan memicu fitnah.
Perbedaan:
| Aspek | Gosip | Ghibah |
|---|---|---|
| Asal Kata | Dari bahasa Inggris “gossip” yang berarti desas-desus atau pembicaraan pribadi. | Dari bahasa Arab “ghibah” (غيبة) yang artinya membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. |
| Konten | Bisa benar atau tidak benar (banyak bersifat spekulatif dan kabar burung). | Yang dibicarakan benar adanya, tetapi tetap dilarang jika membuka aib. |
| Sudut Pandang Agama | Tidak spesifik disebut dalam Al-Qur’an atau Hadits, tapi praktiknya bisa masuk ke ranah ghibah atau fitnah. | Disebut jelas dalam Al-Qur’an dan Hadits sebagai perbuatan dosa besar. |
| Tujuan Umum | Hiburan, keingintahuan, atau mempererat hubungan dalam kelompok tertentu. | Tidak ada tujuan syar’i kecuali jika untuk maslahat (seperti laporan penganiayaan). |
| Konsekuensi Sosial | Bisa dianggap ringan oleh masyarakat karena dianggap “obrolan biasa”. | Dianggap perbuatan tercela dan berdosa dalam Islam. |
Kesimpulannya, setiap ghibah bisa berupa gosip, tetapi tidak semua gosip adalah ghibah dalam definisi hukum Islam. Namun, jika gosip itu membicarakan keburukan atau aib seseorang, maka ia masuk kategori ghibah dan berdosa.
Dari Gosip Artis ke ‘Ekspos Aib’ Selebgram
Tren gosip bukan barang baru di Indonesia. Namun kini, dengan hadirnya selebgram, influencer, bahkan akun-akun anonim yang menyebut diri sebagai “akun dedek-dedekan fakta”, konten berisi ghibah semakin mudah tersebar dan dikonsumsi jutaan warganet.
Konten “expose”, yang dianggap sebagai pengungkapan fakta untuk edukasi publik, bisa jadi terjebak dalam ranah ghibah jika tidak memenuhi adab dan niat yang benar. Dalam Islam, menutup aib saudara itu lebih utama daripada membongkarnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim)
Namun, jika informasi yang dibagikan bertujuan untuk mencegah kezaliman atau kejahatan, maka hal itu diperbolehkan dengan syarat: tidak berlebihan, tidak mencela, dan tetap mengedepankan adab.
Netizen dan Dosa Kolektif
Peran netizen dalam menyebarkan ghibah sering kali tidak disadari. Sekadar menyukai (like), membagikan (share), atau memberi komentar negatif terhadap unggahan berisi aib seseorang, bisa menjadi bagian dari rantai ghibah.
Ulama besar, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, menjelaskan bahwa ghibah mencakup segala bentuk penggambaran negatif, bahkan dengan sindiran atau mimik wajah, yang membuat orang lain direndahkan di hadapan orang lain.
Hari ini, sindiran dalam bentuk meme, parodi, hingga reels pun bisa masuk dalam kategori ghibah jika menjatuhkan kehormatan seseorang.
Fenomena ‘Ghibah Berjamaah’ dalam Komentar Warganet
Contoh paling nyata adalah kolom komentar pada video klarifikasi atau drama influencer. Alih-alih memberikan nasihat bijak, komentar-komentar tersebut sering dipenuhi caci maki, hujatan, bahkan doa buruk.
Fenomena ini menunjukkan betapa ghibah telah menjadi “hiburan” publik yang ironisnya malah mendatangkan dosa berjamaah.
Solusi Islam: Menjaga Lisan dan Jari
Di era digital, menjaga lisan tidak hanya berarti menahan ucapan, tapi juga menjaga jari saat mengetik. Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ”
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Postingan, komentar, story, dan bahkan forward pesan adalah bagian dari ucapan. Semuanya bisa berdampak besar pada orang lain dan diri sendiri.
Islam mengajarkan bahwa diam itu emas ketika tidak tahu, dan bicara itu mutiara ketika bermanfaat.
Etika Bermedia Sosial dalam Islam
Berikut adalah panduan etika bermedia sosial menurut syariat:
- Tabayyun: Verifikasi informasi sebelum membagikan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ٦yâ ayyuhalladzîna âmanû in
Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)
- Tutup Aib Sesama Muslim: Jangan sebar aib, bahkan jika benar.
- Jauhi Prasangka: Jangan berkomentar berdasarkan dugaan.
- Hindari Celaan dan Labelisasi: Tidak memanggil dengan julukan buruk.
- Jaga Niat dan Adab: Niatkan untuk memberi kebaikan, bukan menjatuhkan.
Kesimpulan: Jadilah Netizen Beradab
Ghibah digital adalah ujian nyata di era media sosial. Apa yang dulunya dilakukan secara diam-diam, kini bisa tersebar dan ditonton jutaan orang. Islam mengajarkan kita untuk bijak dalam berbicara, berhati-hati dalam menyampaikan, dan menahan diri dari keinginan menjelekkan orang lain.
Dunia digital boleh canggih, tapi adab tetap tak boleh tergantikan.
