Dosa Bagai Sayatan Luka

[nextpage title=”1″ ]Dosa yang anda perbuat bagai bumerang yang berbalik arah menghantam dan menyisakan sayatan luka. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengukir petuah emas, beliau berkata :

“Dosa-dosa ibarat luka, tak sedikit dari luka itu mengantarkan pada kematian…

Bergoncangnya bumi dan gelapnya langit sebagai pertanda, adzab Allah bagi pecinta dosa yang berbuat kerusakan di daratan dan di lautan…”

(Kaifa tatahammasu li thalabil ‘ilmi asy-syar’i, 153).

Siklus hidup kita ternyata memang tak menentu. Kondisi keimanan dan amal shalih kita yang tidak stabil, naik turun, tertambah dan berkurang. Seringkali begitu banyak maksiat yang kita lakukan, beriring dengan kebaikan. Sebaliknya ada banyak kebaikan kita lakukan, tetapi masoh juga kita selingi dengan kejahatan (perbuatan maksiat; dosa).

Kita semua sedang menjalani sebuah proses hidup, yang belum menentu arah akhirnya. Kita sendiri yang akan menjalaninya dan mengatur arahnya.

Simaklah perkataan Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al Hikam Al Athaiyah. Katanya, “Mungkin saja Allah membukakan untukmu pintu ketaatan tapi Allah tidak membukakan untukmu pintu penerimaannya. Mungkin saja Allah menetapkan atasmu suatu kesalahan yang justru menjadi sebab engkau sampai pada keinginanmu. (Yaitu) Kemaksiatan yang memberi bekas rasa hina dan hancur di hadapan-Nya karena kemaksiatan, lebih baik dari pada ketaatan yang meninggalkan rasa sombong dan bangga.”

Ada banyak lubang ketergelinciran yang kita hadapi dalam menjalani hidup. Ada banyak sekali jerat yang bisa menjatuhkan kita. Tapi begitu luas dan agungnya kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala.

Kita telah diselamatkan, menjadi hamba-Nya. Syukurilah, hingga kini syetan masih belum berhasil menguasai dan merasuki kita untuk tidak menjadi pengikutnya. Syukurilah, sampai detik ini kita masih merasakan nikmat kembali iman. Kita masih berada di atas jalan-Nya. Sampai saat ini kita masih memendam kerinduan beribadah dan bermunajat kepada-Nya.

Tapi jangan lalai, karena keadaan ini bukan berarti syetan telah menyerah. Keadaan ini bukan berarti syetan gagal dalam upayanya untuk menundukkan lalu membuat kita mengikuti keinginan-keinginannya.

Syetan, bahkan bisa saja sengaja membiarkan satu keadaan yang baik untuk kita, tapi itu semu belaka karena di sisi lain ia tengah merasuki kita lagi dari lubang yang lain.

Ibnul Qayyim menyebutkan dua keadaan yang bisa mencabut kenikmatan hidup di dunia dan akhirat dari diri seseorang. Dua kondisi itu adalah ghoflah (kelalaian) dan kasal (kemalasan). Ghoflah sebagai lawan dari ilmu, kasal lawan dari iradah atau semangat. “Lalai dan malas adalah dua faktor utama yang menyebabkan seorang hamba terhalang dari kebahagiaan di dunia dan akhirat serta memudahkan syetan menyerangnya.” (Miftah Darus Saadah, I/112)

Kita mesti sadar bahwa masih banyak kemungkinan kita jatuh dalam perbuatan dosa dan maksiat. Kekhawatiran seperti inilah yang menjadikan Hasan Al-Bashri menduga dirinya termasuk dalam kelompok orang-orang yang paling terakhir keluar dari neraka.

Suatu ketika, ia pernah mengatakan, “Di akhirat nanti, ada seseorang yang keluar dari neraka setelah seribu tahun. Duhai, seandainya aku menjadi orang itu….” Imam Hasan Al-Bashri mengatakan hal itu di antara ketinggian prestasi ibadahnya yang diakui oleh banyak orang-orang shalih di zamannya.

Seorang salafushalih di zamannya menyifatkan Hasan Al-Bashri, “Jika engkau melihatnya sedang duduk, ia seperti binatang yang datang siap dipotong lehernya. Jika bicara ia seperti telah melihat akhirat dan memberitakan persaksiannya tentang akhirat. Jika diam sepertinya neraka ada di depan matanya.”

Bagi Imam Hasan Al-Bashri, menjadi orang yang terakhir keluar dari neraka bagaimanapun merupakan karunia yang sangat disyukuri karena itu adalah pertanda ia tidak abadi di neraka.

Gemuruh ketakutan dan kesedihan seperti itu juga dirasakan oleh banyak salafushalih. Antara lain Abu Hafsh yang mengatakan, “Sejak 40 tahun ada kenyakinan dalam diriku bahwa Allah memandangku dengan pandangan marah karena perilakuku.”[/nextpage][nextpage title=”2″ ]

Orang-orang shalih adalah cermin dan lentera bagi kita dalam menjalani hidup ini. Ketinggian derajat mereka, telah membentuk kerendahan hati yang sangat mengagumkan. Kekuatan ruhani mereka selalu melahirkan perasaan “kurang” yang begitu mulia meski mereka bergelimang prestasi amal shalih. Kemuliaan mereka di mata Allah menjadikan mereka merasa tak layak memperoleh pahala dari-Nya. Mereka mempunyai semangat yang sangat kuat untuk menyerupai orang-orang shalih yang mendahului mereka.

Tidak sedikitpun ada rasa bangga diri, ingin dipuji apalagi merasa lebih baik dari orang lain. Mereka tidak ingin perbuatan baik dan prestasi amal shalih mereka itu diketahui oleh manusia.

Ketika seseorang memujinya, Syaikh Albani mengucapkan doa sebagaimana yang diucapkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallaahu anhu. Ketika dipuji, Abu Bakar berdo’a,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka”

(Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)

Kemudian beliau pun menangis…

Abu Muslim Al-Khaulani, salah seorang ahli ibadah dari zaman generasi Tabi’in mempunyai ambisi besar untuk mendapat kemuliaan sebagaimana para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia pernah mengatakan, “Apakah para sahabat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam mengira bahwa mereka mendapat keutamaan dari Rasulullah, sementara kami tidak? Demi Allah, aku akan berusaha berdesakan dengan mereka agar mereka tahu bahwa sepeninggal mereka, ada generasi yang tangguh seperti mereka.”

Ada pula kisah dari Ibrahim bin Adham yang bercerita, “Aku pernah mendatangi beberapa orang ahli ibadah yang tengah sakit dan menangis. Salah satu mereka menangis sambil memandang dua kakinya.

Aku bertanya padanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Ia menjawab, “Aku belum mengotori kakiku dalam berjuang di jalan Allah.”

Ada juga seorang ahli ibadah yang lain yang menangis, dan aku bertanya hal yang sama padanya. Ia mengatakan, “Aku menangisi hari-hari yang aku tidak puasa di hari itu, dan pada malam-malam yang aku tidak shalat (qiyamul lail) di saat itu.”

Jangan pernah berpikir ada perbuatan dosa yang remeh, selama hal itu dapat membuka pintu untuk syetan. Karena ketika syetan diberi pijakan, ia akan segera menggunakan kesempatan untuk menghancurkan.

Inilah yang dimaksud dalam sebuah pepatah, “Janganlah sesekali memberi kesempatan seekor unta untuk memasukkan kepalanya ke dalam kemah, karena setelah itu ia akan memasukkan seluruh anggota badannya dan akhirnya Anda akan diusirnya keluar dari kemah itu”.

Semoga kita terhindar dari kecintaan yang membawa derita. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengungkap makna derita cinta yang sebenarnya,

“Cinta yang membawa derita adalah :
Cintanya Iblis terhadap kesombongan,
Cintanya Adam menuruti hawa nafsunya,
Cintanya Kaum Nuh menyekutukan Allah,
Cintanya Kaum Luth terhadap homoseksual,
Cintanya Kaum Syu’aib terhadap harta benda,
dan Cintanya Fir’aun terhadap kedudukan.”

(Raudhatul muhibbin wa nuzhatul musytaqin, 283-287)

Semoga kita istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya. Aamiin…

Wallahu a’lam.

DM-20210405[/nextpage]

More From Author

UMIKA In SyaaAlloh Akan Menggelar “MBBY 3”

Cara Hidup Sehat Sesuai yang Dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories