UMIKA.ID,- Istilah “Yahudi Pesek” muncul sebagai sindiran terhadap individu di Indonesia yang mendukung Israel dan mengkritik perjuangan Palestina, terutama dalam konteks konflik di Gaza. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh pendakwah KH Luthfi Bashori dan kemudian diperluas penggunaannya oleh tokoh seperti mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu.
Makna dan Konteks Istilah “Yahudi Pesek”
Secara harfiah, “Yahudi Pesek” menggabungkan kata “Yahudi” dengan “pesek”, yang dalam bahasa Indonesia berarti hidung tidak mancung. Namun, dalam konteks ini, istilah tersebut tidak merujuk pada etnis atau ciri fisik tertentu, melainkan digunakan sebagai sindiran terhadap individu Indonesia yang mendukung Israel dan mengkritik perjuangan Palestina. Istilah ini mencerminkan ironi, mengingat stereotip tradisional menggambarkan orang Yahudi dengan hidung mancung, sehingga “Yahudi Pesek” menjadi bentuk sindiran terhadap individu lokal yang dianggap mendukung Israel.
Asal Usul dan Penyebaran Istilah
KH Luthfi Bashori pertama kali menggunakan istilah ini dalam unggahan media sosialnya, menyebut “Yahudi Pesek” sebagai “penjilat asal Indonesia yang menampakkan permusuhan terhadap umat Islam Palestina dengan bualan nyinyirnya” dan “membela mati-matian teroris Israel dengan segala ocehannya.”
Istilah ini kemudian diperluas penggunaannya oleh tokoh publik seperti Said Didu, yang menyebut akun-akun kontra Palestina sebagai bagian dari “gerombolan Yahudi Pesek.”
Fenomena Sosial dan Polarisasi Opini
Penggunaan istilah “Yahudi Pesek” mencerminkan polarisasi opini publik di Indonesia terkait konflik Palestina-Israel. Di satu sisi, ada kelompok yang mendukung perjuangan Palestina, sementara di sisi lain, terdapat individu yang mendukung Israel atau mengkritik kelompok seperti Hamas. Istilah ini menjadi alat retorika untuk menyindir dan mengkritik kelompok yang dianggap tidak sejalan dengan mayoritas opini publik pro-Palestina di Indonesia.
Kontroversi dan Kritik
Meskipun digunakan sebagai sindiran, istilah “Yahudi Pesek” menuai kritik karena dianggap dapat memicu stereotip negatif dan potensi diskriminasi. Penggunaan istilah ini juga dapat memperdalam polarisasi dan menghambat dialog konstruktif terkait isu Palestina-Israel di Indonesia.
Kesimpulan
Istilah “Yahudi Pesek” muncul sebagai bentuk sindiran dalam konteks dukungan terhadap Palestina dan kritik terhadap individu Indonesia yang mendukung Israel. Meskipun mencerminkan opini publik yang pro-Palestina, penggunaan istilah ini juga menimbulkan kontroversi dan memperlihatkan kompleksitas dinamika sosial dan politik di Indonesia terkait isu internasional.
Referensi:
- Jurnal Faktual. “Yahudi Hidung Pesek, Sindiran untuk Penjilat Israel.” https://jurnalfaktual.id/news-opinion/yahudi-hidung-pesek-sindiran-untuk-penjilat-israel/(Jurnal Faktual)
- Hidayatullah.com. “Fenomena ‘Yahudi Pesek’, Sudah ada Sejak Zaman Rasulullah.” https://hidayatullah.com/artikel/mimbar/2021/05/27/208933/fenomena-yahudi-pesek-sudah-ada-sejak-zaman-rasulullah.html(Hidayatullah.com)
- Radar Aktual. “Ungkap Sosok Yahudi Pesek, KH Luthfi Bashori: Para Penjilat Indonesia Yang Mati-Matian Bela Israel.” https://radaraktual.com/66336/ungkap-sosok-yahudi-pesek-kh-luthfi-bashori-para-penjilat-indonesia-yang-mati-matian-bela-israel.html(radaraktual.com)
- Kempalan.com. “Yahudi Pesek dan Kiri-Islam.” https://kempalan.com/2024/07/16/yahudi-pesek-dan-kiri-islam/(kempalan.com)
- Hidayatullah.com. “Sekulerisme dan Yahudi Pesek dalam Konflik Palestina-Zionis.” https://hidayatullah.com/artikel/opini/2021/05/24/208787/sekulerisme-dan-yahudi-pesek-dalam-konflik-palestina-zionis.html(Hidayatullah.com)
