Mengendalikan Amarah: Nasihat Islami untuk Aparat dan Pengunjuk Rasa

UMIKA.ID, Buletin — Setiap manusia pasti pernah merasakan amarah. Ia adalah emosi alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Namun, persoalan besar muncul ketika amarah itu tidak dikelola dengan baik. Sebab, marah yang tak terkendali dapat melahirkan kerusakan, bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri.

Fenomena unjuk rasa yang kerap diwarnai bentrokan antara aparat dan massa sering kali dipicu oleh satu hal yang sama: amarah yang tidak dikuasai. Di satu sisi, aparat merasa tertekan karena harus menjaga ketertiban dalam kondisi sulit. Di sisi lain, pengunjuk rasa merasa suaranya diabaikan, sehingga emosi menjadi jalan tercepat untuk meluapkan kekecewaan.

Padahal, bila keduanya mampu menahan diri, menundukkan ego, dan mencari jalan tengah dengan kepala dingin, banyak tragedi bisa dihindari. Islam memberikan tuntunan jelas tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menyikapi amarah.

Amarah dalam Pandangan Islam

Amarah adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, Islam menegaskan bahwa kekuatan seorang mukmin bukanlah diukur dari seberapa keras ia melampiaskan amarah, melainkan dari sejauh mana ia mampu menahannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang kuat itu yang jago bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini begitu relevan dalam konteks sosial-politik kita hari ini. Orang yang benar-benar kuat bukanlah yang bisa memukul, menendang, atau menghancurkan. Justru, orang kuat adalah yang mampu menahan tangan dan lisannya ketika situasi memancing emosi.

Allah ﷻ pun menyanjung orang-orang yang mampu menahan amarahnya:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali Imran: 134)

Ayat ini menegaskan bahwa menahan amarah bukanlah kelemahan, melainkan ciri orang bertakwa yang dicintai Allah.

Ketika Amarah Menguasai Aparat

Aparat negara, baik kepolisian maupun militer, memiliki amanah besar sebagai penjaga keamanan dan ketertiban. Posisi ini menuntut profesionalitas dan kesabaran yang tinggi. Namun, di lapangan, tidak jarang aparat ikut terbawa emosi saat menghadapi massa.

Satu pukulan yang lahir dari amarah aparat dapat memicu kerusuhan besar. Satu tindak kekerasan yang tidak terkendali bisa mencederai rakyat, menghapus kepercayaan publik, bahkan menodai nama institusi.

Di sinilah pentingnya aparat untuk senantiasa mengingat bahwa kekuasaan bukanlah hak prerogatif pribadi, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sebuah hadis:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ
“Ya Allah, siapa saja yang mengurus urusan umatku lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurus urusan umatku lalu ia berlaku lembut kepada mereka, maka berilah kelembutan kepadanya.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa aparat yang berlaku kasar kepada rakyat akan menuai keburukan, sementara aparat yang bersikap lembut akan mendapat kasih sayang Allah.

Ketika Amarah Menguasai Pengunjuk Rasa

Di sisi lain, pengunjuk rasa sering kali menjadikan amarah sebagai bahan bakar perlawanan. Teriakan, dorongan, bahkan tindakan anarkis muncul karena emosi meluap tanpa kendali.

Namun, Islam mengingatkan bahwa tujuan yang baik tidak boleh ditempuh dengan cara yang buruk. Menuntut keadilan adalah hak, tetapi merusak fasilitas umum, melukai orang lain, atau mencederai aturan justru menghilangkan makna perjuangan.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

أَوَّلُ الْغَضَبِ جُنُونٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ

“Permulaan marah adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan.”

Betapa banyak aksi yang semula mulia berubah menjadi sia-sia hanya karena massa tidak mampu mengendalikan amarah. Bukannya mendapatkan simpati, yang muncul justru antipati.

Bahaya Amarah yang Tak Terkendali

Mengapa Islam begitu menekankan pentingnya menahan amarah? Karena amarah yang tidak terkendali memiliki dampak buruk yang sangat luas:

  1. Merugikan diri sendiri
    Orang yang marah kehilangan akal sehat. Ia bisa mengucapkan kata-kata yang menyakitkan atau melakukan tindakan yang ia sesali seumur hidup.
  2. Melukai orang lain
    Amarah sering kali membuat seseorang buta hati. Ia bisa menyakiti orang yang tidak bersalah, bahkan keluarganya sendiri.
  3. Menghancurkan tatanan sosial
    Ketika aparat dan pengunjuk rasa sama-sama dikuasai amarah, benturan fisik tidak bisa dihindari. Akibatnya, masyarakat luas menjadi korban, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  4. Menghapus pahala amal
    Dalam Islam, marah yang menimbulkan kezhaliman dapat menghapus pahala. Orang yang membiarkan amarahnya merusak orang lain berarti telah menodai catatan amal baiknya.

Cara Islam Mengendalikan Amarah

Islam memberikan sejumlah tuntunan praktis untuk meredam amarah:

  1. Berlindung kepada Allah
    Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berkata: ‘A’ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).”
(HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Mengubah posisi
    Jika marah saat berdiri, dianjurkan untuk duduk. Jika masih marah, maka berbaring. Hal ini membantu menurunkan ketegangan fisik.
  2. Berwudhu
    Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api. Maka padamkanlah amarah dengan berwudhu.”
(HR. Abu Dawud)

  1. Diam dan menahan lisan
    Sering kali kata-kata yang keluar saat marah lebih berbahaya daripada pukulan. Diam menjadi cara paling bijak agar tidak menyesali ucapan.
  2. Memaafkan
    Allah menjanjikan kecintaan-Nya bagi orang yang mampu memaafkan ketika marah.

Membangun Titik Temu antara Aparat dan Pengunjuk Rasa

Aparat dan pengunjuk rasa sejatinya bukan musuh. Aparat bertugas menjaga ketertiban, sedangkan pengunjuk rasa memperjuangkan aspirasi. Keduanya bisa saling melengkapi bila didasari kesadaran bersama untuk menahan amarah.

  • Aparat menunjukkan wibawa dengan kesabaran, bukan dengan kekerasan.
  • Pengunjuk rasa menunjukkan kekuatan dengan akhlak mulia, bukan dengan anarkisme.

Ketika keduanya sama-sama menahan amarah, benturan bisa dihindari, dan solusi bisa ditemukan.

Penutup

Amarah adalah fitrah, tetapi bukan untuk dibiarkan liar. Baik aparat maupun pengunjuk rasa sama-sama dituntut untuk menahan diri. Sebab, negeri ini butuh kedamaian yang lahir dari kesabaran, bukan api yang lahir dari amarah.

Mari kita ingat kembali sabda Nabi ﷺ:

خَيْرُ أُمُورِكَ أَوْسَطُهَا

“Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.”

Mengendalikan amarah adalah jalan tengah. Tidak berarti pasrah, juga bukan berarti brutal. Ia adalah kekuatan sejati yang menjaga martabat manusia.

Semoga aparat mampu menjaga amanah dengan kesabaran, dan semoga pengunjuk rasa mampu memperjuangkan aspirasi dengan martabat. Karena sejatinya, kita semua ingin negeri ini damai, adil, dan penuh keberkahan.

 

More From Author

7 Brimob Diperiksa, Kasus Rantis Lindas Ojol Hingga Tewas Masih Bergulir

Salah Memilih Pasangan Bisa Terjebak Dalam Keluarga

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories