UMIKA.ID, Jakarta – Sebuah gerakan kemanusiaan terbesar yang pernah diorganisir masyarakat sipil internasional, Global Sumud Flotilla (GSF), dijadwalkan akan memulai pelayaran bersejarahnya pada 31 Agustus 2025 dari pelabuhan di Spanyol. Armada yang terdiri dari puluhan kapal ini berangkat dengan satu misi: menembus blokade laut Israel terhadap Jalur Gaza dan menyampaikan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina.
Gerakan ini melibatkan 44 negara dari berbagai benua, termasuk Indonesia, yang tergabung dalam kelompok Sumud Nusantara bersama Malaysia, Filipina, Maladewa, Bangladesh, Bhutan, Thailand, Sri Lanka, Nepal, dan Pakistan.
Kapal Sipil, Simbol Perlawanan Damai
GSF menegaskan bahwa seluruh kapal yang diberangkatkan merupakan kapal sipil tanpa senjata, sebagai simbol perlawanan damai terhadap blokade yang telah berlangsung selama lebih dari 17 tahun di Gaza. Rifa Berliana Arifin, Direktur Nasional Sumud Nusantara, menyampaikan bahwa misi ini dilakukan sepenuhnya dengan pendekatan non-kekerasan.
“Armada ini bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga pesan kepada dunia: kita tidak akan tinggal diam melihat kelaparan dijadikan senjata genosida. Palestina berhak hidup merdeka,” ujarnya.
Partisipasi Indonesia
Dari Indonesia, dukungan diberikan melalui organisasi seperti Aqsa Working Group (AWG) dan International Networking for Humanitarian (INH). Selain itu, sejumlah relawan juga mendaftarkan diri untuk turut serta dalam pelayaran. Menurut laporan Antara, hingga pertengahan Agustus 2025 tercatat lebih dari 1.400 orang dari 44 negara yang siap berlayar dengan sekitar 70 kapal yang disiapkan.
Partisipasi Indonesia dipandang sebagai bentuk solidaritas nyata, tidak hanya dalam bentuk doa, tetapi juga aksi langsung mendukung perjuangan rakyat Palestina.
Dukungan Asia Tenggara
Di Asia Tenggara, Malaysia mengambil peran penting dalam misi ini. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, dijadwalkan memimpin langsung upacara pelepasan seremonial untuk kapal regional yang tergabung dalam armada Sumud Nusantara. Upacara itu sekaligus menjadi simbol dukungan kuat negara-negara Asia terhadap Palestina.
Malaysia, bersama Indonesia dan negara Asia lainnya, menegaskan komitmen bahwa misi kemanusiaan ini adalah tugas kemanusiaan global yang melampaui batas bangsa maupun agama.
Gelombang Keberangkatan
Armada GSF dijadwalkan berangkat dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama akan berangkat dari Spanyol pada 31 Agustus 2025, sementara gelombang berikutnya direncanakan dari Tunisia dan lokasi lain pada 4 September 2025. Rute perjalanan akan melintasi Laut Tengah menuju perairan Gaza.
Meski risiko benturan dengan Angkatan Laut Israel sangat tinggi, para aktivis menegaskan tekad mereka untuk tetap berlayar. Mereka mengingatkan kembali tragedi Mavi Marmara tahun 2010, ketika tentara Israel menyerbu kapal bantuan dan menewaskan beberapa aktivis internasional. Namun kali ini, mereka berharap solidaritas dunia semakin besar sehingga Israel tidak berani melakukan agresi.
Dukungan Tokoh Dunia
Selain dari Asia, dukungan juga datang dari Eropa. Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, turut mengumumkan keterlibatannya dalam mendukung armada GSF. Greta menyatakan bahwa perjuangan melawan krisis iklim dan perjuangan rakyat Palestina memiliki benang merah yang sama: melawan penindasan global terhadap kehidupan manusia.
Harapan Baru untuk Gaza
GSF diharapkan menjadi momentum baru dalam gerakan internasional mendukung Palestina. Dengan kapasitas ribuan aktivis dan puluhan kapal, misi ini menjadi armada kemanusiaan terbesar yang pernah diorganisir masyarakat sipil.
Bagi warga Gaza yang saat ini menghadapi blokade pangan, obat-obatan, dan bahan bakar, misi ini memberi secercah harapan.
“Ini bukan hanya tentang membawa beras, obat, atau selimut. Ini tentang mengembalikan martabat kemanusiaan,” ujar salah satu aktivis dalam pernyataan pers di Kuala Lumpur.
Kesimpulan
Gerakan Global Sumud Flotilla menandai babak baru solidaritas global untuk Palestina. Dengan keberangkatan perdana pada 31 Agustus 2025, dunia akan menyaksikan apakah armada sipil terbesar ini berhasil menembus blokade Gaza atau kembali menghadapi represi militer Israel.
Apa pun risikonya, misi ini telah mengirim pesan kuat: dunia tidak lagi tinggal diam menghadapi kezaliman yang menimpa rakyat Palestina.
Sumber: (Arab News Japan Bernama Cadena SER – Spanyol Antara Ilkha News MINA News Aqsa Working Group)
