UMIKA.ID, Gaza – Sebuah armada sipil internasional terbesar dalam sejarah, Global Sumud Flotilla, akan berlayar menuju Jalur Gaza untuk mematahkan blokade laut yang diberlakukan Israel sejak 2007. Lebih dari 6.000 aktivis dari 44 negara telah mendaftar dalam misi kemanusiaan ini, membawa pesan perlawanan damai dan solidaritas global bagi rakyat Palestina.
Flotilla ini dijadwalkan berangkat dari Spanyol pada 31 Agustus 2025, kemudian dari Tunisia pada 4 September 2025, serta dari beberapa pelabuhan di kawasan Mediterania. Armada yang terdiri dari kapal penumpang dan kapal barang ini membawa bantuan medis, pangan, dan perlengkapan darurat bagi warga Gaza yang selama hampir dua dekade terisolasi dari dunia luar.
Gabungan Kekuatan Global
Global Sumud Flotilla adalah kolaborasi berbagai organisasi internasional seperti Freedom Flotilla Coalition, Global March to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, dan Sumud Nusantara. Tujuan utama mereka adalah membuka koridor kemanusiaan di laut, menekan Israel untuk mengakhiri blokade, serta mengangkat isu yang mereka sebut sebagai genosida terhadap rakyat Palestina ke panggung dunia.
Aksi ini menjadi sorotan internasional karena melibatkan tokoh-tokoh penting, termasuk aktivis lingkungan asal Swedia Greta Thunberg, pemimpin serikat pekerja dari Amerika Serikat, serta figur-figur publik dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin.
Tantangan dari Pasukan Israel
Pengalaman sebelumnya menunjukkan misi ini penuh risiko. Pada 26 Juli 2025, kapal bantuan Handala yang membawa aktivis internasional berhasil mendekat hingga 70 mil laut dari Gaza, sebelum dicegat oleh pasukan laut Israel (IDF) dan dialihkan ke Pelabuhan Ashdod. Sebelumnya, pada Juni 2025, kapal Madleen yang juga membawa Greta Thunberg dicegat sekitar 110 mil dari Gaza.
Tindakan ini memicu kecaman internasional karena dinilai melanggar hukum maritim dan menghalangi bantuan kemanusiaan yang sah menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
Reaksi Dunia
Banyak negara dan organisasi HAM menilai aksi Global Sumud Flotilla sebagai momen krusial dalam perjuangan Palestina. Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk seruan masyarakat sipil di Turki, Tunisia, Malaysia, hingga Afrika Selatan.
Seorang juru bicara Global Sumud Flotilla mengatakan:
“Kami datang bukan untuk provokasi, tetapi untuk membawa harapan dan kehidupan. Jika Israel yakin dirinya demokratis, biarkan bantuan ini masuk tanpa intimidasi.”
Situasi Gaza Makin Memprihatinkan
Blokade Israel selama hampir 18 tahun telah mengakibatkan krisis kemanusiaan parah di Gaza. Lebih dari 2 juta warga terjebak di wilayah yang disebut penjara terbuka terbesar di dunia, dengan keterbatasan akses terhadap air bersih, listrik, obat-obatan, dan kebebasan bergerak.
Laporan PBB mencatat bahwa 80% warga Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup, sementara infrastruktur vital seperti rumah sakit dan sekolah kerap menjadi sasaran serangan militer.
Menanti Detik Bersejarah
Dengan keberangkatan yang tinggal menghitung hari, dunia kini menunggu apakah armada dari 44 negara ini akan berhasil menembus blokade atau kembali dihadang seperti sebelumnya. Banyak yang berharap, aksi ini tidak hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga menjadi simbol perlawanan damai terhadap penindasan berkepanjangan.
Sumber:
