UMIKA.ID, Karawang, 31 Mei 2025 — Program pembinaan anak bermasalah seperti Barak (Barisan Anak Remaja Kreatif) dinilai mampu memberikan solusi terhadap perilaku menyimpang anak dan remaja. Namun demikian, berbagai kalangan pendidikan menekankan bahwa pendidikan anak usia dini oleh orang tua tetap menjadi fondasi utama yang tidak tergantikan dalam pembentukan karakter anak.
Program Barak dan sejenisnya mulai banyak digalakkan oleh pemerintah daerah maupun organisasi masyarakat sebagai bentuk intervensi terhadap anak-anak yang terlibat dalam kenakalan remaja, seperti bolos sekolah, perkelahian, pelanggaran hukum ringan, hingga indikasi perilaku menyimpang lainnya.
Di beberapa wilayah seperti Jawa Barat dan Banten, program ini dijalankan dalam bentuk pelatihan semi-militer, penguatan spiritual, serta konseling kepribadian. Tujuannya adalah membentuk ulang pola pikir dan kebiasaan anak agar kembali ke jalur yang lebih positif dan produktif.
Meski menuai respons positif, banyak praktisi pendidikan mengingatkan bahwa pendekatan seperti Barak bersifat reaktif. Artinya, baru dilakukan setelah anak terlanjur menunjukkan perilaku bermasalah.
Usia Dini: Fondasi Terpenting Pendidikan Anak
Banyak riset menunjukkan bahwa masa paling krusial dalam pembentukan karakter anak adalah pada usia 0 sampai 6 tahun—sering disebut sebagai masa emas perkembangan otak dan jiwa.
Dalam Islam, hal ini ditegaskan melalui sabda Nabi Muhammad ﷺ:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci)…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menekankan bahwa setiap anak pada dasarnya cenderung kepada kebaikan. Lingkungan, terutama peran orang tua, yang kemudian membentuk akhlak dan arah hidupnya.
Sejalan dengan itu, UNICEF dan UNESCO juga telah berulang kali menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini (PAUD) berbasis keluarga. Anak-anak yang mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan stimulasi positif sejak dini akan tumbuh lebih stabil secara emosional, lebih percaya diri, dan lebih siap secara sosial.
Rumah: Sekolah Pertama Anak
Dalam konteks ini, orang tua adalah guru pertama dan utama. Namun tantangan zaman modern membuat peran ini sering terabaikan. Kesibukan pekerjaan, ketergantungan pada gawai, serta kurangnya literasi pengasuhan menyebabkan banyak orang tua kehilangan kedekatan emosional dengan anak.
Akibatnya, anak-anak cenderung mencari pelarian di luar rumah—baik melalui teman sebaya, media digital, bahkan aktivitas negatif yang membuat mereka terjerumus dalam pergaulan yang merusak.
Jika sejak dini anak telah dikenalkan pada nilai-nilai agama, empati, kedisiplinan, serta komunikasi yang sehat, maka kecenderungan mereka untuk berperilaku menyimpang bisa diminimalkan. Keteladanan orang tua dalam berakhlak, beribadah, dan bersosialisasi juga menjadi rujukan utama bagi anak-anak.
Program Rehabilitasi Perlu, Tapi Bukan Pengganti Peran Orang Tua
Program seperti Barak tetap dibutuhkan, terutama dalam situasi di mana anak sudah terlibat dalam perilaku menyimpang secara serius. Namun, program tersebut seharusnya menjadi bagian dari solusi akhir, bukan pengganti proses pendidikan di rumah.
Beberapa pemerintah daerah telah melangkah lebih jauh dengan mengintegrasikan program bimbingan orang tua atau Parenting Class di tingkat RT/RW, posyandu, dan sekolah dasar. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena menyentuh akar masalah: yaitu pola asuh.
Dalam konteks pendidikan nasional, kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dari Kementerian Pendidikan juga menekankan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai pilar pembinaan karakter anak Indonesia. Jika hanya sekolah atau lembaga luar yang bekerja, sementara keluarga tidak berperan aktif, maka hasilnya tidak akan maksimal.
Penutup
Tidak dapat disangkal bahwa program seperti Barak mampu membantu anak-anak bermasalah menemukan arah hidup yang lebih baik. Namun peran utama tetap berada di tangan orang tua. Pendidikan usia dini yang penuh cinta, pengawasan, dan keteladanan akan jauh lebih kuat dalam membentuk karakter anak daripada program rehabilitasi yang bersifat sementara.
“Lebih mudah membentuk anak menjadi baik sejak kecil, daripada memperbaiki anak yang sudah terlanjur menyimpang,” demikian kutipan bijak yang relevan dalam konteks ini.
Masyarakat dan pemerintah hendaknya lebih menaruh perhatian pada penguatan pendidikan keluarga agar generasi muda tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berintegritas.
